Lombok Post
Metropolis

Masyarakat Sekitar Tidak Hanya Sekadar Jadi Penonton

POTENSIAL: Inilah kawasan Tanjung Ringgit dengan bentang alam yang mempesona. Masa depan destinasi baru wisata NTB ada di daerah ini.

Selama ini, ironi kawasan wisata di NTB adalah warga tidak menjadi tuan rumah. Bahkan hanya sekadar menjadi penonton saja. Soal inilah yang dijawab PT Eco Solution Lombok (ESL) dengan investasi yang dilaksanakan.

***

PARA nelayan dan petani Desa Poto Tano, Sumbawa Barat dan Desa Sekaroh Lombok Timur akan memiliki kesempatan besar untuk mengembangkan sayap ekonomi mereka.

a�?Alas Street Green Prospherity Projecta�? yang dilaksanakan PT ESL dan MCA Indonesia akan memfasilitas warga setempat untuk membangun resort sendiri, disamping pengembangan a�?Friends Villagea�? yang direncanakan di Gili Namo.

Resort yang dibangun direncanakan berbentuk rumah tradisional Lombok Sumbawa. Warga juga akan dilatih agar memiliki kemampuan mengelola resort, beserta bahasa asing yang baik.

Kesempatan yang sama akan diperoleh warga Desa Sekaroh, karena program ini juga dilaksanakan PT ESL di kawasan Tanjung Ringgit. Lokasi prima akan ditawarkan yakni di pantai Pink. Bersebelahan dengan restauran a�?Ladies of Telonea�?.

Ada beberapa kegiatan utama dalam program ini. Seperti pelatihan bisnis dan bahasa Inggris, pelatihan green tourism, pelatihan khusus dan magang, pembangunan resort tradisional, dan program pemasaran.

Untuk mendukung resort pariwisata yang dibangun. Selain mendirikan dan mengelola perusahaan cleaning service, untuk menunjang resort yang akan dibangun. Kelompok warga bersama PT ESL juga akan mendirikan perusahaan gardening atau pengelola kebun dan taman. Bisnis ini memiliki peluang besar, bahkan ditargetkan untuk berekspansi di areal lebih dari 100 hektare kebun resort yang direncanakan untuk masing-masing dua wilayah proyek. Para petani yang tidak memiliki lahan akan berkesempatan terlibat dalam bisnis ini. Sehingga bisa menunjang ekonomi keluarga.

Adapun kegiatan pokok yang akan dilakukan mulai dari pelatihan bisnis dan bahasa Inggris, pelatihan wisata ramah lingkungan, pelatihan khusus berkebun organik, serta pembangunan kantor dan pemeliharaan tanaman.

Berbagai jenis usaha jasa juga akan dikembangkan bersama warga, seperti Usaha penyewaan Mountain Bike Trail yang akan menjadi favorit usaha kawula muda di Desa Sekaroh. Arena tracking sepeda gunung akan dibangun.

Topografi yang menantang sangat pas untuk melakukan aktivitas sepeda gunung. Apalagi aktivitas bersepeda sudah mulai populer dilakukan di NTB.

Tahapannya mulai dari pembuatan track rute sepeda gunung yang dilengkapi dengan booth dan bengkel pelayanan, kompetisi bersepeda gunung, pelatihan layanan wisata sepeda, serta pelatihan berbahasa Inggris.

Kelompok pemuda yang terlibat, akan memperoleh keuntungan dari aktivitas sewa trail dan sepeda, serta penjualan minuman ringan. PT ESL akan memberikan lokasi yang pas di kawasan Ecoregion Tanjung Ringgit untuk aktivitas ini. Jika datang dengan sepeda sendiri maka bayar akses.

Kegiatan kunci dalam program ini seperti pelatihan bisnis dan bahasa Inggris, pelatihan ekotourisme, pelatihan khusus, dan pembangunan kantor, gudang penyimpanan dan pembuatan jalur bersepeda.

Untuk meramaikan aktivitas wisata, berbagai jenis festival juga akan digelar. Dan secara khusus ESL bersama MCA Indonesia akan memfasilitasi berdirinya Event Organizer untuk mengelola kegiatan.

Penduduk desa memiliki peralatan masak untuk kebutuhan booth makanan, akan tetapi tidak tersedia tenda, meja dan kursi, unit display, sistem suara, pembuangan limbah, dan lainnya jika menyelenggarakan acara pariwisata. ESL dan MCA Indonesia adalah menyediakan peralatan yang bisa disewa operator pariwisata.

Kegiatan yang akan didukung ESL-MCA Indonesia mulai dari mendirikan gudang dan bengkel.Serta pelatihan resort wisata, termasuk dilatih kemampuan berbahasa Inggris.PT ESL akan memberikan lokasi yang strategis di kawasan Eco Region Tanjung Ringgit untuk pusat aktifitas usaha ini, beserta penyimpanan materialnya.

Bisnis transportasi juga akan menjanjikan. Melalui Proyek Kemakmuran Hijau Selat Alas ini, bisnis transpotasi untuk mengangkut wisatawan ke pulau-pulau dan pantai di sekitar Selat Alas. Bisnis ini sudah dilakukan warga, hanya saja tidak ramah lingkungan, sebab para operator perahu selalu saja meletakkan jangkar saat berlabuh di areal pantai dengan terumbu karang. Aktifitas yang ada juga meninggalkan limbah dalam jumlah besar.

Dalam program ini, akan dibuat titik-titik tambatan perahu dengan teknologi mooring agar pengguna perahu tidak menempatkan jangkar sembarangan. Dilarang sama sekali menggunakan jangkar. Kelompok warga yang terlibat juga akan dilatih berbahasa Inggris dan diberikan areal yang strategis.

Kegiatan kunci dari program ini adalah pelatihan bisnis dan bahasa Inggris, pelatihan green tourism, pelatihan khusus, serta pembangunan dermaga, tambatan perahu, kantor, serta dukungan terhadap acara launching program.

ASGP Project juga akan membuat gasilitas pasar petani untuk membantu petani. Pasar ini akan dibangun berdekatan dengan fasilitas Cold Storage, sehingga produk petani dan nelayan yang tidak terserap habis dipasar akan dijual ke usaha grosir yang juga tersedia atau dikelola kelompok warga lainnya.

Kegiatan ini mencakup pembangunan fasilitas-fasilitas pasar, pusat pengunjung, kantor dan pengolahan limbah. Para petani dan nelayan akan memperoleh jadwal yang diatur pengelola untuk berjualan, sehingga para petani dan nelayan bisa menggunakan fasilitas tersebut secara bergiliran.

Selama ini, harga produk pertanian dan perikanan di pasar tradisional, lebih tinggi tiga hingga sepuluh kali lipat dibandingkan harga jual di tingkat petani. Jika ada fasilitas tempat petani dan nelayan menjual produk mereka secara langsung, maka penghasilan petani akan jauh lebih baik.

Kelompok warga dan pemerintah desa setempat, juga akan diajak kerja sama untuk membentuk usaha resi gudang untuk grosir. Produk pertanian-perikanan yang tidak terjual ke mitra resort dalam kawasan Eco Region.

Jika produksi berlebih untuk suplai kawasan, maka akan difasilitasi dengan usaha grosir melalui hub gudang di kawasan Ecoregion. Penerima manfaat proyek merupakan 10 persen dari luas HKm. Tujuan akhir dari proyek ini adalah untuk merekrut 30 persen dari mereka untuk layanan grosir atau kurang lebih 240 petani.

Tujuannya adalah peningkatan 10 persen dalam harga grosir bagi petani, melalui pengurangan jumlah perantara. Kegiatan utama dalam program ini adalah pengaturan organisasi usaha grosir. (M Nashib Ikroman, Mataram*/r9)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost