Lombok Post
Bima - Dompu Headline

Dulu Sempat Dicuekin, Kini Sudah Dilirik

PINTU MASUK: Pemda telah memasang papan nama di pintu masuk Benteng Asa Kota, Desa Punti, Kecamatan Soromandi.

Benteng Asa Kota terlalu lama menyendiri. Terlalu lama pula dibiarkan menyepi. Bukti sejarah perjuangan rakyat Bima ini tak pernah disentuh. Kini, benteng pertahanan itu mulai didandan. Dipoles. Dipermak, dan sudah terlihat sedikit cantik.

***

BENTENG Asa Kota tak perawan lagi. Benteng pertahanan rakyat Bima kala melawan penjajah Belanda telah ditata. Sepintas dari jauh, mata akan terbelalak memuji tawaran pemandangan alam yang disajikan Benteng Asa Kota.

Sajian di punggung Benteng Asa Kota masih alami. Semak belukar seakan memberikan kesan alami. Ditambah lagi hamparan tanah kering itu ditumbuhi pohon liar.

Begitu juga dengan tawaran pantainya. Lautnya masih biru. PasirnyaA� masih aduhai. Sayangnya, sepanjang bibir pantai masih diselimuti sampah hempasan gelombang.

Benteng Asa Kota ini sudah lama dikenal. Tapi, baru-baru ini didandan. Benteng Asa Kota terletak di Dusun Lia, Desa Punti, Kecamatan Soromandi.

Benteng ini merupakan bekas Benteng pertahanan Belanda untuk Bima. Ditemukan sekitar tahun 1908 (bersamaan dengan meletusnyaA�Gunung Tambora).

Benteng Asa Kota ini terdiri dari batu bersusun. Bau itu dulunya diambil dari berbagai tempat di daerah Bima.

Itu dimaksudkan untuk memberikan kesan kuat dan kokoh serta menandakan benteng ini dapat melindungi masyarakat Mbojo. Kini, susunan batu masih ada. Menjadi saksi bisu perlawanan rakyat Bima kala itu.

Barang peninggalan sejarah yang masih tersisa adalah Meriam Kuno, yang disebut La Nggali Nggoma. La Nggali artinya Mahal, dan Nggoma artinya Kudis. Meriam ini merupakan meriam induk.

Dipasang di sebelah Barat dan menghadap utara. Yakni mengarah ke AsaKota atau Pintu Masuk Kota di teluk Bima. Tapi, meriam itu sudah tak terlihat lagi. Hanya ada bekas potongan meriam saja.

Selain meriam kuno, pengunjung bisa melihat bekas benteng pertahanan berupa susunan batu-batu. Susunan batu itu terlihat sepanjang tebing pantai. Ompu Daga alias Ompu Nggambi adalah penguasa wilayah Benteng Asa Kota pada masa itu..

Benteng ini dibangun pada sekitar tahun 1667 di sebuah pulau kecilA�Nisa Soma. Tepat di pintu masuk teluk Bima yang diberinama Benteng Asa Kota.

AsaA�dalam bahasa Bima berarti mulut danA�KotaA�berarti kota. Jadi Asa kota adalah mulut Kota yang menjadi penghubung Bima dengan negeri-negeri lainnya.

Sementara, untuk tiba di Benteng Asa Kota, tenaga ekstra harus disiapkan. Jalannya belum begitu mulus. Belum diaspal. Jalannya juga belum disentuh perbaikan.

Warga setempat baru membuka jalan setapak. Tapi tenang. Kendaraan roda dua tetap bisa lewat. Hanya saja, harus hati-hati. Jalannya terjal. Belum lagi kerikil. Batu berukuran besar juga bakal menjadi penghalang laju motor.

a�?Motor sudah bisa lewat, kebetulan kami sudah buka jalan setapak,a�? kata Irman, warga Dusun Lia kepada Lombok Post.

Asa Kota dengan jalan raya tidak terlalu jauh. Dari jalan raya, Asa Kota sudah bisa dinikmati. Agar lebih menggairahkan, sebaiknya turun dan injak langsung tanah timbunan yang dijadikan benteng pertahanan Bima dari serangan penjajah.

a�?Supaya pengunjung bisa menikmati langsung, makanya kami buatkan jalan,a�? aku dia.

Sejak jalan dibuka, pengunjung bedatangan. Lebaran ini, Asa Kota menjadi incaran. Lalu lalang kendaraan bermotor menghiasi Jalan Dusun Lia.

Orang-orang berdatangan untuk melihat dari dekat bukti sejarah. Ada juga yang datang piknik bersama keluarganya. Ada pula yang datang berselfi ria. a�?Sudah ramai,a�? aku dia.

Ia mengaku, Benteng Asa Kota bisa menjadi magnet wisata di Bima. Itu jika dikelola dengan maksimal. Sejauh ini, Asa Kota baru didandan dengan membuat papan nama Benteng Asa Kota di pintu masuk. Selain itu, ada dua lesehan yang dibangun di bukit Benteng Asa Kota.

a�?Meski belum maksimal, tapi sudah mampu memikat pengunjung,a�? katanya.

Selama ini, kata dia, Benteng Asa Kota tak pernah dikelola dan ditata dengan baik. Padahal, bukti sejarah ini bisa dijadikan lahan untuk mengeruk Pendapatan Asli Daerah (PAD).

a�?Kami juga tidak tahu, kenapa baru sekarang dilirik,a�? tandasnya.

Sementara, penjaga benteng Asakota Kamaludin mengaku, baru-baru ini benteng Asa Kota ramai dikunjungi. Sebelumnya, hanya beberapa orang saja yang datang. Itu pun tidak terlalu ramai.

a�?Kalau dulu sepi,a�? aku dia saat berbincang dengan Lombok Post di Benteng Asa Kota.

Ia mengaku, selama ini benteng Asa Kota tak pernah dikelola dengan baik. Tapi, tahun ini pemerintah mulai menatanya.

Pemerintah telah membuat papan di pintu masuk. Dua buah lesehan tempat duduk di atas bukit benteng Asa Kota.

a�?Lesehan ada dua. Di bagian timur dan barat,a�? sebutnya.

Selain lesehan itu, pemerintah juga membuat uma jaga (berugak) di Pelabuhan Dusun Lia. Ada empat uma jaga yang disiapkan bagi pengunjung.

Di situ, pengunjung bisa menikmati dari jauh benteng Asa Kota. Di situ juga pengunjung dapat berselancar pandangan, sambil menghirup aroma udara laut.

Kamaludin menjelaskan, uma jaga itu sengaja ditempatkan di dekat pelabuhan. Menurut dia, pengunjung bisa memilih untuk menikmati Benteng Asa Kota. Bisa dari jauh, bisa juga dari dekat.

a�?Untuk itulah, uma jaga ditempatkan di pelabuhan,a�? terang dia.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan soal potensi yang bisa dikeruk dari bukti sejarah ini.A� Ia mengaku, seandainya pemerintah menarik retribusi, betapa besar pemasukan bagi daerah. Tapi, pemerintah belum memberlakukan pungutan bagi pengunjung.

a�?Saya selaku penjaga tidak bisa berani pasang tarif, karena belum ada dasar aturannya,a�? tegas pria asal Dusun Lia ini.

Saat ini, pengutan itu diambil alih warga setempat. Mereka juga tidak memasang tarif terlalu mahal bagi pengunjung. Mereka hanya menarik biaya parkir dan pengamanan motor.

a�?Biar teratur, harusnya ada aturan untuk menarik retribusi,a�? tandas dia. (Islamuddin/r1)

Berita Lainnya

SKD Selesai, Formasi CPNS Lowong

Redaksi LombokPost

Jasad Bayi Membusuk di Bukit Korea

Redaksi LombokPost

Polda NTB Berikan Data Penyidikan ke Bareskrim

Redaksi LombokPost

Waspada Banjir Kiriman!

Redaksi LombokPost

Dinas Pendidikan Loteng Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost

Sukiman Ungkap Kekecawaan di Hari Pahlawan

Redaksi LombokPost

Bank Mandiri-Hiswana Migas-Pertamina Jalin Kerjasama

Redaksi Lombok Post