Lombok Post
Metropolis

Ibu Puasa, Anak Kurang Gizi

Lemas
SAKIT: Saida Hayati, masih terlihat lemas setelah sempat sakit lemas dan disebut kurang gizi oleh dokter yang merawatnya di Puskesmas Cakranegara, Rabu (13/7).

MATARAM – Mata Saida Hayati, bayi lima bulan asal Lendang Lekong, Turida, itu masih terlihat sayu. Meski demikian, keadaanya kemarin sudah lebih baik jika dibanding beberapa hari sebelumnya.

Tubunya lemas, panas tinggi, kerap muntah, hingga mencret. a�?Sakit mulai dari Idul Fitri sampai kemarin (Selasa 12/7), sekarang sudah membaik,a�? kata Ayahnya, Sahlan.

Awalnya Sahlan tidak paham, penyakit yang diderita anaknya. Sampai akhirnya, ia bersama istrinya Surya Hartini, bergegas melarikannya ke Puskesmas Cakranegara. a�?Disitu, dia katanya dibilang kurang gizi,a�? imbuhnya.

Ia mempertegas lagi, jika bayi kesayangan mereka tidak mengalami gizi buruk. Hanya kurang gizi. Penyebabnya, selama bulan puasa lalu, Hartini ibunya, memilih untuk ikut berpuasa. Tentu saja, berdampak langsung pada asupan nutrisi dan gizi dalam ASI nya.

a�?Ia dia ngotot ikut puasa, tahu-tahu setelah satu bulan, yang lemas justru anaknya,a�? tuturnya.

Saida pun sempat mendapat perawatan intensif dari dokter Puskesmas. Bahkan bayi itu sampai diinfus untuk mengimbangi kebutuhan cairan. Syukurnya, keadaan Saida kini sudah lebih baik. Meski belum ceria betul, Saida sudah bisa diajak bercanda.

Menanggapi itu, Ketua LPA Kota Mataram H Nyayu Ernawati, mengatakan pada dasarnya berpuasa tentu sangat baik bagi kesehatan umat Isam, disamping itu perintah agama. Hanya saja, dalam konteks berpuasa, ibu yang tengah menyusui harus ingat jika nutrisi dan gizi yang dikonsumsinya harus cukup untuk dua orang. Tubuhnya dan anaknya.

a�?Seorang ibu tentu harus peka, makanan yang dikonsumsi tentu harus benar-benar disesuaikan saat berbuka dan sahur, sehingga jika ia ingin puasa, kebutuhan gizi anak tercukupi,a�? ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua MUI Provinsi NTB, Saiful Muslim, mengatakan Islam tidak pernah memberatkan dan menyulitkan pemeluknya. a�?Puasa saja bisa dibatalkan dan diganti di hari lain, kalau misalnya sedang dalam musafir (perjalanan jauh dengan syarat ketentuan tertentu),a�? ulasnya.

Begitu juga bagi seorang ibu yang tengah menyusui. Meski, pada dasarnya sangat ingin menjalankan perintah agama, tentu tidak boleh membabi buta, sampai melupakan kondisi anak.

a�?Jadi penyebabnya juga tidak bisa kita simpulkan kalau si anak sakit, karena anak puasa, bisa jadi karena memang ibu tidak memenuhi standar gizi ibu menyusui, atau memang ada penyakit bawaan, saya rasa harus ada data yang lengkap terkait itu,a�? tandasnya.(cr-zad/r6)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost