Lombok Post
Selong

Tak Punya Lahan Tapi Bisa Sekolahkan Anak dengan Stroberi

JUALAN: Inaq Tiara, saat menunggu pembeli stroberi di gubuk kecilnya di salah satu sudut Sembalun, LombokTimur akhir pekan lalu.

Stroberi, buah beraroma khas dengan rasa manis asam kini A�seolahmenjadi oleh-oleh wajib para wisatawan yang berunjung ke Sembalun, Lombok Timur. Ramainya kunjungan di kawasan wisata tersebut kini tak hanya mengangkat ekonomi petani stroberi, warga lainpun ikut merasakan manfaatnya.

***

DI sebuah gubuk reot di pinggir jalan Desa Sembalun Bumbung, seorang wanita berjilbab tampak duduk dengan tenang. Di gubuk beratap terpal biru yang mulai bolong di sana-sini itu, perempuan yang biasa dipanggil Inaq Tiara tersebut biasa menghabiskan waktunya. Seperti siang itu, dengan sabar ia menanti di sana. Tumpukan stroberi yang ada dihadapannya adalah alasan utama perempuan 37 tahun itu di sana. a�?Ayo mas dibeli stroberinya,a�? sapanya ramah.

Sejak dua tahun terakhir, menjual stroberi sudah menjadi mata pencahariannya. Dengan itu ia bisa membantu suami mencari nafkah. Bahkan kini seiring makin populernya Sembalun, dari hasil menjual stroberi, ia bisa menyekolahkan Tiara, putri satu-satunya. a�?Beli seragam, uang belanja, sumbangan ini itu, semua dari stroberi,a�? katanya.

Namun begitu, jangan bayangkan ia memiliki kebun stroberi yang sangat luas. Semua yang dijualnya adalah hasil dari kebun orang lain. Ya, di Sembalun, si pemilik kebun umumnya terlalu sibuk mengurusi kebun mereka. Tak ada lagi waktu untuk menjual di pinggir jalan. apa lagi jarak kebun dengan jalan raya umumnya tidaklah dekat. Jadilah perempuan-perempuan seperti Inaq Tiara mencari penghidupannya dari cara tersebet.

Untuk setiap kotak mika kecil yang dijual Rp 5.000, wanita berkulit sawo matang itu harus membayar Rp 4.000 pada pemilik asli stroberi. Hanya Rp 1.000 yang masuk ke kantongnya. Uang itulah yang sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk biaya sekolah sang buah hati yang kini baru saja naik kelas dua SD.

Tak ada hitung-hitungan pasti berapa pendapatannya sehari. Bila sedang ramai bisa puluhan bahkan lebih dari 100 mika stroberi yang terjual. Namun saat sepi, boleh jadi tak satupun yang dibeli pengunjung, terlebih kini semakin banyak yang menjual di pinggir jalan.

Setiap hari, selepas menyelesaikan berbagai urusan rumah dipagi hari, ia langsung memulai aktivitas berjualannya. Setelah suami berangkat kerja ke kantor desa dan anak pergi sekolah, ia langsung menjajakkan buah-buah segar itu. Siang hari biasanya ada jeda istirahat sebentar untuk menyiapkan makanan dan istirahat salat. Setelah itu kembali berjualan hingga senja menjelang. a�?Alhamdulillah, walaupun tak banyak hasinya tapi sudah satu tahun biayai sekolah anak saya,a�? ujarnya mengucap syukur. (WAHYU PRIHADI, Selong.r3)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost