Lombok Post
Headline Politika

Gerindra Irit “Amunisi”, Ahyar Masih Pikir-Pikir

gerindra
Ketua DPD Partai Gerindra NTB H. Willgo Zainar

MATARAM – Partai Gerindra NTB tidak terburu nafsu untuk berbicara pilgub. Waktu yang masih lama menjadi pertimbangan Gerindra untuk irit “amunisia�?.

Sebagai partai dengan delapan kursi di DPRD NTB, Gerindra punya peluang untuk mengusung pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB.

Ketua DPD Partai Gerindra NTB H. Willgo Zainar mengatakan pihaknya akan menentukan sikap pada pertengahan 2017.

Meski begitu, pihaknya tetap mengikuti perkembangan dan peta politik NTB. Beragam wacana berkembang, termasuk terbitnya Undang-undang Nomor 10 tahun 2016 tentang pilkada.

a�?Waktunya masih cukup panjang, semua kemungkinan bisa terjadi dan berubah sewaktu-waktu,a�? kata Willgo kepada Lombok Post, kemarin (19/7).

Partai Gerindra saat ini menghormati beragam wacana yang berkembang, terutama menyangkut Pilgub NTB. Menurut dia, Gerindra juga tetap tampil memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.

Munculnya sejumlah nama bakal calon Gubernur NTB dinilai sebagai dinamika yang menyemarakkan perpolitikan menjelang pilkada.

Figur-figur tersebut dinilai dapat memberikan gambaran kepada masyarakat NTB siapa yang tepat memimpin Bumi Gora pasca TGB-Amin. Dia juga berharap para figur tersebut juga menyampaikan idenya tentang NTB kedepan.

Sementara itu,A� Wali Kota Mataram H. Ahyar Abduh juga merupakan salah satu nama yang disebut-sebut berpeluang menggantikan posisi TGB HM Zainul Majdi sebagai Gubernur NTB. Politisi Partai Golkar itu memberikan sinyal bahwa dia akan bertarung di Pilgub NTB.

Meski tidak tegas menyatakan akan mundur dari jabatannya sebagai Wali Kota Mataram, namun Ahyar mengaku sudah mulai memikirkan NTB.

Bahkan, dia mengaku mulai kedatangan banyak tamu dari beragam kalangan. a�?Tidak jarang mereka menanyakan kesiapan saya untuk maju di pilgub NTB, tapi kan waktunya masih panjang untuk memutuskan sikap,’ kata Ahyar kepada wartawan di Pendapa Wali Kota Mataram, kemarin (19/7).

Bagi dia, banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan. Baik tingkat keterkenalan, kendaraan politik, hingga keputusan untuk meninggalkan jabatan sebagai Wali Kota Mataram.

Terlebih, undang-undang tentang pilkada mengharuskannya berhenti dari jabatan jika sudah ditetapkan sebagai calon Gubernur NTB.

Menyikapi hal itu, Ahyar menyatakan masih pikir-pikir. Ya, dia menegaskan akan ada waktu yang tepat untuk menyampaikan sikapnya.

Dia mengatakan, dalam politik berbagai kemungkinan bisa terjadi. Termasuk dukungan partai politik yang kemungkinan dapat diperoleh dari berbagai pihak. Sebagai kader Golkar, dia akan meminta restu partainya jika nantinya ternyata tidak diusung.

Ahyar juga membantah telah membentuk tim sukses atau melibatkan lembaga survei untuk mengetahui elektabilitasnya. Mencuatnya wacana sebagai bakal calon Gubernur NTB akhir-akhir ini dinilai sebagai kreativitas masyarakat.

a�?Kan belum tentu juga masyarakat Kota Mataram merestui saya meninggalkan mereka, ya tentu ada waktunya akan saya sampaikan keputusan politik saya,a�? tandasnya. (tan/r9)

Berita Lainnya

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost