Lombok Post
Metropolis

Sapi Gemuk Tak Selamanya Menguntungkan

rumah potong hewan
TEKUN: Rudi Faisal, salah seorang jagal yang ada di RPH Majeluk sedang melayani para pembeli daging Minggu (17/7) lalu.

Kehadiran tukang jagal di Rumah Potong Hewan (RPH) menjadi salah satu penopang roda perekonomian Kota Mataram. Pahit manis pekerjaan ini menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi para jagal.

***

SEJUMLAHA�pria yang menjadi jagal di RPH Majeluk tampak sibuk. Dengan pekakas di tangannya seperti parang dan pisau, mereka terlihat menyayat bagian tubuh sapi untuk dipisahkan.

Tangan beberapa jagal masih terlihat berlumuran darah. Meski tengah sibuk memisahkan bagian daging, mereka tetap berupaya melayani pembeli daging.

Rudi Faisal, salah seorang jagal terlihat sedikit kerepotan. Karena, selain sedang mengurus daging di tangannya, ia harus berjibaku dengan para dagang daging dalam proses tawar menawar.

a�?Harganya memang segitu bu. Coba saja cek di jagal lain,a�? jelasnya meyakinkan pembeli.

Meski demikian, beberapa pedagang daging yang ingin membeli daging darinya tak menyerah begitu saja. Mereka berharap dapat harga semurah-murahnya. Agar bisa mendapat keuntungan lebih saat menjualnya di pasar.

Rudi merupakan salah satu jagal yang a�?karatana�? di RPH Majeluk. Ia sudah puluhan tahun mencari nafkah sebagai jagal. a�?15 tahun sudah di sini. Sejak awal menikah,a�? ujarnya sambil menimbang daging yang sudah deal dengan pembeli.

Sama seperti kebanyakan jagal yang ada di RPH Majeluk, Rudi mengaku berasal dari Seganteng Cakranegara. Para jagal ini ternyata masih memiliki hubungan keluarga satu sama lain. Sehingga, usaha yang mereka geluti saat ini diakui sebagai usaha turun temurun yang diwarisi dari orang tuanya.

Keuntungan usaha sebagai jagal sapi diakui Rudi cukup menjanjikan. Perhari, ratusan ribu hingga jutaan dikantongi. Sama seperti kebanyakan jagal lainnya, ia mengatakan kemampuan menaksir dan mengenali sapi adalah hal yang penting dalam menekuni bidang usaha ini. Karena, kondisi sapi sangat menentukan keuntungan.

Kondisi sapi yang gemuk dijelaskan tidak selamanya menjadi jaminan kalau sapi tersebut bagus. Karena, beberapa sapi yang gemuk tak jarang juga memiliki lemak yang terlalu banyak. Sementara dagingnya sedikit.

a�?Kalau banyakan lemak dan nggak ada daging, ya otomatis harga setelah dipotong kan bikin kami rugi. Makanya, kita sebagai jagal juga nggak boleh tertipu dengan sapi yang terlalu gemuk,a�? ungkapnya.

Selain itu, daerah asal sapi juga sangat menentukan kondisi sapi. Contohnya, antara sapi yang berasal dari Narmada dengan Sekotong Lombok Barat. Menurutnya, kondisi sapi yang berasal dari Sekotong jauh lebih baik dari yang ada di Narmada. Meskipun, notabenenya Narmada merupakan daerah yang subur dimana persediaan rumput melimpah.

A�a�?Sapi di Narmada dikandangkan. Sementara sapi di Sekotong itu dibiarkan berkeliaran cari makan. Jadi makannya lebih rakus. Sementara di Narmada karena dikandangkan, biasanya gemuk kebanyakan lemak. Bedanya (daging, Red) bisa sampai lima kilo,a�? bebernya.

Selain dari Lombok Barat, sapi yang berasal dari Pulau Sumbawa juga memiliki kondisi yang bagus. Lemaknya sedikit dan dagingnya melimpah. Sehingga keuntungan sudah bisa dipastikan. Keuntungan kisaran Rp 300 hingga 700 ribu diakui Rudi didapatkannya per hari.

Namun demikian, para tukang jagal mengaku ada beberapa hal yang di luar kendali mereka. Misalnya saja seperti kondisi lebaran beberapa waktu lalu. Para jagal mengalami kerugian yang cukup signifikan. Lantaran stok sapi yang terbatas. Sehingga harga daging melonjak tinggi, dan pembeli ogah membeli daging.

a�?Lebaran kemarin mungkin orang berpikir kalau jagal banyak untung. Faktanya kami banyak yang rugi tidak dapat apa-apa. Sapi terbatas, sehingga harga daging tinggi,a�? akunya.

a�?Kalau banyak untung pas lebaran, nggak kayak gini pakaian tukang jagal,a�? kelakar pria ini sambil tertawa lebar menunjukkan pakaian yang dikenakannya.

Ia menyayangkan, sapi jelang lebaran beberapa waktu lalu banyak yang dibawa ke luar daerah. Misalnya ke Jakarta. Padahal, stok kebutuhan sapi di Lombok sendiri menurutnya masih kurang. Hal inilah yang membuat lonjakan harga daging.

a�?Kalau sapi sepi, banyak dampaknya. Tiga orang yang membantu saya bekerja jadi nganggur. Banyak orang yang mencari kerja dari sapi ini,a�? ujarnya.

Sehingga, ia berharap sapi-sapi yang ada di NTB tidak lagi diekspor ke luar daerah. Agar kebutuhan daging sapi di Lombok dan Sumbawa bisa terpenuhi. a�?Satu harapan kami pada pemerintah. Jangan sampai membiarkan kita kekurangan sapi di daerah sendiri. Kan lucu Bumi Sejuta Sapi malah kekurangan sapi,a�? sindirnya. (Hamdani Wathoni/Mataram/r6)

Berita Lainnya

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost