Metropolis

Ketum Dekranas Sayangkan Ulah Tengkulak

MATARAM – Tenun NTB adalah salah satu yang terbaik. Sayangnya, perajin masih sulit berkembang. Salah satu penyebabnya yakni ulah dari para tengkulak yang seenaknya memainkan harga sehingga penenun pun tak banyak meraup keuntungan.

a�?Harganya yang diterima penenun masih murah. Justru tengkulak atau pengecer yang biasanya menaikan harga dua kali lipat,a�? kata Ketua umum Dekranas RI Hj Mufidah Jusuf Kalla saat kunjungan ke Pendopo Gubernur NTB, kemarin. Ibu Wapres disambut Ketua Dekranasda NTB Hj Erica Zainul Majdi.

Mufidah mengaku sangat tertarik dengan kualitas serta keunikan tenun NTB. Tenun dari daerah ini memiliki motif yang beragam dan indah.

Kualitasnya pun dinilai kian membaik dari waktu ke waktu. Sehingga, pamor dari tenun NTB pun semakin terangkat secara nasional maupun dunia.

Sayangnya, ia melihat penenun sendiri belum meraup untung maksimal dari karya mereka. Keuntungan justru lebih besar dinikmati oleh para tengkulak. Ini dikhawatirkan akan menurunkan animo perajin untuk terus berkarya dan berinovasi di kemudian hari.

a�?Jangan sampai harga di penenun Rp 100 ribu, oleh tengkulak malah naik jadi Rp 200 ribu. Kalau seperti ini, kasihan penenun kita,a�? katanya.

Ia berharap NTB bisa berkaca pada NTT. Menurutnya, regenarasi penenun di NTT sudah berjalan cukup baik. Masih banyak anak-anak muda di sana yang menghabiskan waktunya untuk menenun.

a�?Ibu-ibu harus terus menenun. Ini perlu terus dilestarikan hingga ke genarasi berikutnya,a�? pesan Mufidah.

Ia berharap banyak pada kemajuan tenun NTB. Pasalnya, tenun adalah salah satu kekayaan yang dimiliki daerah ini dan perlu dilestarikan.

“Mari kembali ke akar budaya asli NTB yaitu tenun. Batik kan milik Jawa, jadi tidak usah ikut ikutan daerah lain. Tenun NTB dari dulu sudah bagus, silahkan terus dikembangkan,a�? pesannya.

Asisten II Setda NTB Lalu Gita Aryadi mengakui masih maraknya ulah tengkulak yang a�?memainkana�? harga produk kerajinan, termasuk tenun.

Ini juga menjadi keluhan dari beberapa sentra kerajinan di NTB karena mereka harus membayar fee yang terlalu besar kepada jasa tour guide yang membawa tamu. Sehingga, keuntungan yang diperoleh perajin sendiri tak seberapa.

a�?Ini memang menjadi PR kita kedepannya. Kita akan koordinasi dengan SKPD terkait dan pelaku wisata bagaimana kita melindungi perajin di NTB agar tidak ada permainan harga di pasaran,a�? janji Gita.

Di satu sisi, ia menyampaikan bahwa Pemprov NTB juga sudah melakukan berbagai langkah strategis untuk mengangkat tenun NTB.

Salah satunya, pemprov ikut mendukung kegiatan gawe nyeseksiu Sukarara yang akan menghadirkan sekitar 1.000 penenun, menyamai rekor yang kini dipegang oleh NTT.

a�?Tahun depan, kita berencana menggagas even serupa dengan menghadirkan jumlah penenun yang lebih banyak lagi yakni 2017 orang. Kita ingin pecahkan rekor mengadakan kegiatan penenunan masal,a�? katanya. (uki/r10)

Related posts

Penghematan Anggaran Mulai Diutak-atik

Iklan Lombok Post

DAU Tertunda Cair Bulan Depan

Redaksi Lombok post

2025, Satu Juta Wisman Lewat LIA

Redaksi Lombok Post