Lombok Post
Oase

Dongeng Pasar Rempah

Zulhakim

Sebuah puisi anonim dari Irlandia sekitar abad ke-13 bercerita soal Cockayne, pulauA� imajiner berisi ragam kelezatan dunia yang tiada habisnya. Tentang makanan lezat yang dibumbui rempah-rempah tropis terbaik. Cockayne seperti surga dimana lada, pala cengkih berbunga sepanjang tahun. Bahkan kau tak perlu memasak karena seisinya adalah makanan yang tinggal dinikmati.

Cockayne adalah produk imajinasi bangsa Eropa abad pertengahan yang sangat menggilai rempah-rempah. Karena kelangkaan dan harganya,A� sejak lama bumbu-bumbu iniA� menjadi simbol status sosial. Hanya para bangsawanan yang mengkonsumsinya. Konon dengan sekantung lada, anda sudah bisa kaya raya.

HanyaA� orang-orang A�terkaya zaman itu yang mampu menaburi ampas buah pala sebagai penghangat di bawah tempat tidurnya. Karena itu wajar jika sejumlah catatan tua Eropa menyebut rempah-rempah bukan benda bumi, namun datang dari surga.

Para pedagang Arab, Turki maupun China telah lama memonopoli dan merahasiakan jalur dimana sumber-sumber rempah ini. Tapi harum rempah dan janji keuntungan darinya membuat halusinasi tentang rempah ini semakin menggila. Mungkin inilah yang membuat kata Rempah (Spice) dalam literatur Eropa tak sekadar bermakna bumbu dapur. Spice bisa berarti seksi, A�dapat juga bermakna sebuah hasrat atau gairah tersembunyi yang harus dicari dan ditaklukkan.

Karena itu ketika Eropa menemukan kembaliA� abad pencerahannya, syahwat iniA� semakin tak terbendung.A� Harum aroma pasar rempahA� Asia, membuat mereka melakukan segala cara.A� Abad penjelajahan dimulai.A� Raja Spanyol, mengutus Christopher Columbus, sekitar A�Oktober 1492 . Alih-alih menemukan Hindia, tiga kapal yang dibawa Columbus justru mendarat di Amerika.

Tapi setahun kemudian dalam perjamuan besar di Salo del Tinell, Catalunya, halusinasi Columbus tentang temuannya berhasil memukau Raja Ferdinand dan Putri Isabella dan para bangsawan Spanyol lainnya. Orang-orang percaya Columbus telah menemukan Hindia. Kelak jejak perjalanan inilah yang membuka jalan Spanyol untuk menguasai benua baru tersebut.

Tak mau kalah, Raja Manuel dari Portugal juga mengirim misi pencarian. Ia mengutus Vasco da Gama untuk berlayar mencari dimana sumber rempah berada. Selepas doa terakhir di kapel Torre do Bellem, awak kapal berangkat dari Restello, Sabtu 8 Juli 1497. Mereka A�mengambil rute berlawanan dari Columbus dengan dengan menyusuri pesisir barat Afrika sebelum berbelok ke Samudera Hindia.

DalamA� perjalanan yang lebih panjang dan berisiko ini, da Gama rupanya lebih berhasil dari pendahulunya. Hampir setahun kemudian, Mei 1498, armada yang telah kepayahan dihantam samudera ketidakpastian ini menemukan secercah harapan. Mereka mendarat di Malabar, India pasar rempah tersibuk di zaman itu.

Tapi buai keuntungan dari penemuan pasar rempah itu tak cukup bagi Raja Manuel. Karena itu 8 Maret 1500 ia mengirim Pedro Alvares Cabral dengan 13 kapal besar berisi serdadu bersenjata lengkap. Bukan sekadar berdagang, tujuannya jelas menaklukkan, menjajah dan membangun imperium Portugis di jantung perdagangan rempah Hindia. Malabar jatuh setelah dihujani meriam Peranggi disusul Bandar Melaka 11 tahun kemudian. Pasar rempah telah mengirim mereka jauh menjajah Nusantara di belahan bumi selatan.

Tapi tumpukan pala, lada, rempah lainnya yang mengalir ke semenanjung Iberia membuat bangsa lain tergoda. Inggris, Belanda hingga Prancis ikut serta membuka daerah jajahan. Kelak di akhir abad ke 20, Portugis yang letih justru tersingkir dari persaingan global. Inilah abad-abad dimana pasar ditegakkan dengan penjajahan dan penghisapan bangsa-bangsa.

Demikianlah sejatinya, dimanapun dia berada pasar selalu punya keajaiban. Dia punya tuahA� invisible handA� yang dirumuskan Adam Smith. Dengan diam tangan-tangan tak nampaknya A�mampu memanggil orang, barang maupun jasa dari penjuru bumi untuk datang berkupul disini.

Bahkan jauh sebelum Portugis datang, pasar Nusantara telah memanggil bangsa-bangsa Mesir kuno. DalamA� penggalian di sebuah gurun di Suriah ditemukan sebuah guci tanah liat yang selamat dalam bangunan yang dilalap kebakaran. Didalamnya terdapat segenggam bulir-bulir hitam kecokelatan yang diketahui sebagai cengkih bertahun 1721 Sebelum Masehi (SM). Cengkih hanya ada di kepulauan Maluku. Tapi keajaiban pasar telah membawanya melintasi segala hambatan sejauh itu.

Tapi pasar tetaplah pasar, dia adalah rumah persaingan para pemodal yang mencari keuntungan. Di Nusantara jejak perdagangan ini masih terawat dengan jaring-jaringA� kuasa para kapitalis di republik ini. A�Pasar dimana para pengusaha dan pemodal demikian dimuliakan.

Karena itu semisal kini presiden dan wakilnya berlatar pedagang, wajar bila sikap mereka cenderung memihak pasar. Boleh jadi, ini terlihat dari subsidi-subsidi untuk rakyat yang dihilangkan, daging, beras, gula yang semakin mahal. Atau pengampunan bagi para pengusaha pengemplang pajak lewat Tax Amnesty yang baru saja diberlakukan. Demikianlah pasar.

Penulis : Zulhakim, Jurnalis

Berita Lainnya

Romantisme Rampok

Redaksi Lombok post

Mayoritas yang Minoritas

Redaksi Lombok post

Sampah-sampah Virtual

Redaksi Lombok post

Basuki, Trump, dan Mas Joko

Redaksi Lombok post

Sihir Tembakau

Redaksi Lombok post

Mengenang 1965

Redaksi Lombok Post

Dewi Anjani dan Google

Redaksi Lombok post

Tuah Tanah Haram

Redaksi Lombok Post

Merindu Tanah Suci

Redaksi Lombok Post