Lombok Post
Feature

Thia Lupa Makan Kalau Sudah Bikin Kaligrafi

FOKUS: Jeanithia Ade Lareny salah seorang talenta NTB yang akan berlaga di ajang MTQ Nasional 2016 mendatang saat sedang berlatih di rumahnya kemarin (22/7).

Ada cabang Khottil Quran dalam MTQ Nasional di Mataram. Bidang ini merupakan seni kaligrafi tulisan Alquran. Jeanithia Ade Lareny akan jadi jagoan NTB di ajang ini. Ini akan jadi keikutsertaan Thia yang ketiga. Kali ini di tanah sendiri, dia bertekad juara.

***

HARI-hari Thia kini hanya diisi satu hal. Latihan. Itu saja. Dara kelahiran Mataram, 28 Januari 1991 ini memang tipe pekerja keras dan pantang menyerah. Karena itu, jangan tanya soal urusan cowok padanya sekarang. Sedetik saja dia tak memikirkannya.

Tapi, untuk Lombok Post, Thia bersedia menghentikan sejenak latihannya. Dia bahkan telah berdiri manis di depan rumahnya, kala koran ini datang setelah sebelumnya membikin janji. Melempar senyum manis, Thia menyapa ramah. Dia didampingi sang ayahanda Herlan.

Menjejak rumah Thia di bilangan Lingkungan Udayana, Kota Mataram, Lombok Post menemukan rumah yang indah. Lihat saja dinding-dinding rumah.

Banyak dihiasi kaligrafi yang sungguh menawan. Tak perlu jadi kolektor untuk menemukan keindahan dari karya Thia. Ah, rasanya dia begitu paham apa yang diinginkan mata banyak orang.

Selain yang dipajang, banyak pula yang tergeletak di lantai. Masih dalam goresan yang belum selesai sempurna. Kaligrafi Alquran ini terlihat begitu indah dengan berbagai ornamen warna. Tentu saja. Itu semua Thia yang bikin.

Ketekunan adalah modal Thia. Dia, kalau sudah berada di depan tripleks sebagai media menulis kaligrafi dan berlatih, bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Nyaris tiada jeda. Kecuali saat ada azan untuk panggilan salat. Setelah itu lanjut lagi.

a�?Bahkan sampai lupa makan,a�? kata ayahandanya.

a�?Kadang kita harus ingatin dia makan berkali-kali bahkan sampai harus dibawakan makan. Soalnya kalau sedang fokus itu agak malas kalau disuruh makan,a�? tutur Herlan lagi.

Bakat Thia di bidang kaligrafi memang sudah tercium semenjak dia masih belia. Sarjana Bahasa Inggris alumni IKIP Mataram mengaku sudah mulai tertarik sejak duduk di bangku PAUD.

Ketika diajarkan menulis Alquran, ia merasa sangat senang. Rasa senang inilah yang kemudian tumbuh menjadi hobi ketika memasuki bangku SD, SMP, hingga SMA.

Sempat orang tuanya heran. Manakala menemukan Thia betah berlama-lama di dalam kamar. Setelah dilihat sedang latihan menulis kaligrafi, orang tuanya tahu, bahwa anaknya berbakat di bidang itu.

Mendapati potensi buah hati pertamanya itu, Herlan senang bukan kepalang. Ia bersama istrinya Baiq Hanjas Mariani pun memberikan dukungan penuh. Mengingat, anaknya tersebut menghasilkan karya yang nyata.

Akhirnya, untuk terus memaksimalkan potensi yang dimiliki anaknya, Herlan selalu menyertakan Thia dalam berbagai lomba. Mulai dari tingkat kota hingga tingkat provinsi. Hasilnya cukup memuaskan.

Buah hatinya beberapa kali menjuarai berbagai ajang lomba. Bahkan saat SMP, Thia berhasil menjadi juara dua tingkat nasional lomba kaligrafi tulisan Alquran di ajang Forum Anak Soleh Indonesia (FASI) di Jakarta.

Padahal bisa dikatakan Thia saat itu hanya mempelajari kaligrafi secara otodidak. Ia hanya melihat dari buku-buku dan hasil karya para master kaligrafi yang ada di Indonesia dan luar negeri.

Kepada Lombok Post, Thia pun membuka rahasia. a�?Kalau kaligrafi ini intinya harus banyak melihat tulisan kaligrafi. Dari sana kita belajar untuk mengkombinasikan warna maupun membuat tulisan yang indah,a�? jelas alumni SMAN 1 Mataram dan SMAN 1 Praya ini.

Setelah tamat SMA, Thia memutuskan untuk belajar kaligrafi secara khusus di Pondok Pesantren di Sukabumi selama setahun. Dari sana, bakatnya terus terasah dan berkembang. Ia banyak belajar dari pendiri ponpesnya di Sukabumi yakni Ustad Didin Sirajudin.

Dan sejak tahun 2010, Thia kemudian terpilih menjadi wakil NTB melalui proses seleksi untuk berlaga di ajang MTQ Nasional.

Mulai dari MTQ Nasional Bengkulu 2010, MTQ Nasional Ambon 2012 hingga MTQ Nasional Batam, Kepulauan Riau 2014 lalu. Tapi, dia masih belum bisa menggondol juara.

Itu sebabnya, dia kini bertekad untuk mengharumkan nama NTB ketika MTQ digelar di tanah sendiri. a�?Kendala yang saya rasakan di sini adalah keterbatasan sarana dan prasarana. Di sini kita sulit menemukan alat untuk latihan. Semua alatnya harus dikirim dari luar daerah,a�? kata dia.

Akhirnya, mau tidak mau Thia berlatih dengan sarana dan prasarana seadanya. Sehingga, tentu saja hasilnya belum bisa maksimal.

a�?Ini saja spidolnya dikirim dari luar daerah. Itu pun saya kadang berebut memesannya dengan orang lain karena terbatas,a�? jelas dia sambil menunjukkan spidol khusus yang biasa digunakan untuk membuat kaligrafi.

Toh, keterbatasan tak membuatnya patah arang. Semangatnya tetap menggebu-gebu. Dia paham betul, keterbatasan bisa diretas dengan semangat dan kerja keras.

Saat ini sudah tidak terhitung karya yang dihasilkan Thia. Beberapa di antaranya ada yang sudah dibeli oleh keluarga, teman bahkan beberapa orang.

Namun, ia mengaku masih belum berpikir ke arah profit. Semua karyanya dijualnya hanya dengan harga seikhlas pembelinya saja. Bahkan, beberapa ia bagikan gratis kepada orang yang dikatakannya sangat menghargai karyanya.

Ia menceritakan belum lama ini pernah ikut pameran bersama komunitas Pena Lombok. Saat pameran berlangsung, ada seorang wisatawan mancanegara yang tertarik pada karyanya. Sehingga ia pun meberikannya cuma-cuma.

a�?Ada bule Amerika yang mengaku sangat senang melihat kaligrafi yang aku buat. Padahal dia non muslim. Tapi ia mengaku mengaguminya, makanya aku berikan gratis,a�? ujarr lulusan IKIP Mataram Jurusan Bahasa Inggris ini.

Bagi Thia, menulis kaligrafi adalah sebuah hobi yang sangat menyenangkan. Akan lebih menyenangkan hobi tersebut diapresiasi orang lain dan bisa menghasilkan.

a�?Yang paling aku senang dari hobi ini, aku bisa pergi keluar daerah ikut lomba. Dapat banyak pengalaman dan kadang bonus dari pemerintah.

Kan pekerjaan yang paling menyenangkan itu adalah hobi yang dibayar,a�? cetusnya sambil tersenyum. Ah, Thia bikin ngiri aja. (Hamdani Wathoni/Mataram/bersambung/r10)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post