Lombok Post
Metropolis

Enggan Cari Untung Terlalu Besar

Boks Saudagar Padi
PANTAU: Suhaeimi saat memantau lahan sawah yang tengah di panen di daerah rembige, Mataram

Dunia bisnis di Kota Mataram terus berkembang. Mulai dari bisnis fashion, elektronik, hingga hotel. Namun ada yang tetap bertahan menggeluti bisnis pertanian. Seperti Suhaimi.

***

HAMPARANA�sawah yang cukup luas masih dapat dilihat di Kota Mataram. Tepatnya di sekitar wilayah Rembiga Kecamatan Selaparang. Di kawasan ini masih terdapat beberapa hektare sawah. Meskipun ada yang kini sudah mulai terkikis bangunan.

Sawah-sawah ini terlihat ditanami padi yang sudah mulai menguning. Bulir padi yang membungkuk menandakan padi siap panen. Dari kejauhan, nampak sebuah mesin pemanen memotong batang-batang padi. Di atas mesin tersebut sejumlah orang langsung memasukkan padi ke dalam karung.

Dalam beberapa menit saja, hektaran tanaman padi sudah terbungkus rapi dalam bungkusan karung.Tak jauh dari lokasi, salah seorang pria nampak mengawasi. Namanya, Suhaimi. Pria asal Labuapi Lombok Barat ini mengaku sebagai pembeli padi para petani yang ada di Mataram.

a�?Iya, saya yang borong ini. Setiap tahun mereka petani biasa menjualnya ke saya,a�? aku pria 60 tahun ini.

Dijelaskannya, para petani di sekitar kawasan Rembiga setiap tahun menanam padi. Mereka jarang menanam tanaman lain. a�?Kalau pun ada yang lain, kadang cuma tanam kedelai,a�? bebernya.

Setiap tahun ia datang kepada petani untuk transaksi jual beli padi. Suhaimi menerangkan, untuk menentukan harga padi, harus disesuaikan dengan luas sawah. Sehingga, sebelumA� membeli padi ia pun harus mengukur luas sawah tersebut. Selain itu, kulitas baik buruknya tanaman padi juga menjadi penentu.

a�?Satu are itu normalnya bisa menghasilkan 30-40 kilogram padi. Itu harganya Rp 150 ribu. Tapi kalau padinya bagus, bisa menghasilkan dua kali lipatnya sampai 80 kilo. Itu kadang kita hargai Rp 200 ribu per arenya,a�? bebernya.

Sekali beli saat musim panen padi, Suhaimi mengaku menyiapkan modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Selain membeli padi di wilayah Kota Mataram, ia juga membeli padi di daerah lainnya. Mulai dari Lombok Tengah, Lombok Barat hingga Lombok Utara.

Usaha ini digeluti Suhaimi selama sekitar 20 tahun. Dari usaha ini, ia bisa menafkahi dan memenuhi segala kebutuhan keluarganya. Meskipun usaha ini diakuinya menjanjikan keuntungan yang cukup besar. Namun, sekali panen Suhaimi mengaku tidak mencari keuntungan yang banyak. Ia mengaku keuntungan yang ia dapatkan hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup.

a�?Sekali panen kadang saya bisa dapat keuntungan Rp 3-6 juta. Memang sih, kalau kita mau keuntungannya sebenarnya bisa sampai puluhan juta seperti teman-teman saudagar yang lain,a�? ujarnya.

Diceritakannya, awal mula dirinya hanya seorang buruh angkut saat panen. Bertahun-tahun menjadi buruh ia pun paham bagaimana proses jual beli padi. Memberanikan diri, Suhaimi nekat menekuni usaha ini dengan modal seadanya. Hasilnya tentu saja belum bisa maksimal karena untuk menekuni usaha ini butuh modal yang cukup besar.

a�?Sekali panen, paling tidak kita butuh modal hingga Rp 600 juta untuk membeli gabah, a�? tuturnya.

Untungnya, saat ia kewalahan mencari modal, salah seorang pengusaha memberikan kepercayaan pada dirinya. Ia diberikan bantuan modal dan dipercaya untuk menekuni usaha jual beli padi hasil para petani.

a�?Alhamdulillah ada bos yang percaya pada saya. Dia yang kasih modal untuk beli padi makanya bisa sampai sekarang ini,a�? aku pria yang kini sudah memiliki tiga cucu ini.

Akhirnya, hingga saat ini ia pun terus menekuni usaha ini. Teknologi yang semakin canggih membuatnya menjalani usaha ini lebih mudah. Alat pemanen yang dulunya tradisional kini diganti oleh mesin. Sehingga, proses panen padi bisa lebih cepat dan praktis.

a�?Satu ton ongkosnya hanya Rp 400 ribu kalau pakai mesin,a�? jelasnya.

Namun, buka berarti risiko kerugian tidak dihadapi para saudagar padi. Karena, ia sendiri mengaku beberapa kali mengalami kerugian. Itu terjadi ketika para saudagar salah dalam mengukur luas area sawah.

a�?Karena sawah ini kan luas. Salah sedikit saja ruginya banyak. Saya pernah salah ukur sawah di daerah Lombok Tengah. Saya rugi sekitar Rp 16 juta,a�? kenangnya.

Dari sana, ia pun belajar untuk lebih teliti dan berhati-hati dalam mengukur luas sawah. Agar tidak kembali rugi dalam menjalani usaha ini. Diungkapkan Suhaimi, peluang menjadi saudagar padi masih tetap menjanjikan. Mengingat NTB menjadi daerah lumbung penghasil padi. Ia hanya menyayangkan saat ini banyak daerah yang sawahnya subur malah diubah menjadi kawasan bangunan atau pertokoan.

a�?Sayang sekali rasanya sawah yang tanahnya subur menjadi lahan untuk bangunan. Kalau terus seperti ini, lama kelamaan sawah yang subur bisa habis,a�? pungkasnya. (Hamdani Wathoni/Mataram/r4)

Berita Lainnya

Jabatan Muslim Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Janji Manis Jadup Bernilai Rp 4,58 M

Redaksi LombokPost

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post