Lombok Post
Headline Metropolis

Aman Bikin Pemkot Gagal Adipura

1F-AHYAR-SIR
Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh

MATARAM – Tahun pertama memimpin Kota Mataram (untuk periode kedua), pasangan H Ahyar Abduh-H Mohan Roliskana (Aman) gagal total dalam program kebersihan. Buktinya, piala Adipura yang sebelumnya bisa diraih, kini melayang begitu saja.

Pada peringatan hari Lingkungan Hidup Sedunia di Istana Siak Sri Inderapura, Kabupaten Siak Provinsi Riau, Jumat (22/7). Nama Kota Mataram memang tidak masuk sebagai penerima Piala Adipura tahun 2016.

Tapi hingga saat ini, Pemkot Mataram belum mendapat surat secara resmi. Mereka baru mendapat informasi dari berita online.

Terkait hal ini, Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh tidak mau ambil pusing. Ia cuek atas penilaian dari Kementerian Lingkungan Hidup itu.a�?Saya tidak mikir Adipura sudah, saya pikir bagaimana dia (Mataram) bersih, Adipura itu nomor sekian,a�? kata Ahyar pada wartawan, Senin (25/7).

Ahyar mengaku saat ini ia tidak berambisi mendapatkan Piala Adipura, tapi ia berambisi bagaimana membuat Kota Mataram menjadi bersih. Membuat jalan-jalan menjadi bersih, permukiman rapi dan tidak kumuh, got-got, sungai dan drainase semuanya bersih.

Itulah yang ingin dilakukan selama pemerintahannya. Kalaupun mendapat Piala Adipura, itu hanya bonus atas usaha yang sudah dilakukan.

Ia tidak tahu persis bagaimana tim Adipura melakukan penilaian. Mereka juga tidak pernah memberitahukan kapan melakukan penilaian.

Mungkin saja saat tim turun, ada masyarakat yang sedang membuang sampah, hal itu sangat sulit dikontrol. Termasuk masalah limbah dan sebagainya. Tapi yang jelas ia merasa sudah bekerja keras selama ini.

a�?Dulu kita pernah dapat Adipura, tapi sekarang tidak dapat karena ada standar penilaian yang beda, tidak tahulah. Yang jelas kita bekerja untuk kebersihan,a�? kilahnya.

Untuk menyelesaikan masalah kebersihan, Ahyar memiliki rencana baru di tahun 2017 mendatang. Yakni penanganan sampah berbasis lingkungan. Ia ingin menyelesaikan masalah sampah secara sistemik dan terkosep dengan baik.

Tidak tanggung-tanggung, jumlah dana yang akan digelontorkan sebesar Rp 15 miliar. Dana ini di luar anggaran yang dikelola Dinas Kebersihan.

Dalam program ini, peran masyarakat akan lebih ditingkatkan dan memastikan semua lingkungan dalam kondisi bersih. Sebab ia menyadari menangani sampah tidak akan maksimal bila tidak didukung partisipasi masyarakat.

a�?Ini semua akan menjadi arah (kebijakan) kita, makanya kita persiapkan di 2017,a�? jelasnya.

Dijelaskannya, model penanganan sampah adalah berbasis rumah tangga. Diperkiraan jumlah rumah tangga di Mataram sekitar 10o ribu lebih.

Masing-masing rumah akan dibagikan karung dalam dua kali setahun dengan perkiraan umur karung 6 bulan, sehingga disiapkan 200 ribu karung.

Tujuannya, agar masyarakat tidak membuang sampah di sembarang tempat. Jadi sampahnya tinggal dimasukkan ke dalam karung itu, sehingga memudahkan petugas untuk mengangkut.

Untuk petugas pengangkut sampah di semua lingkungan, pemerintah akan menunjuk satu orang di tiap lingkungan dan mereka akan diberikan intensif. a�?Jadi di masing-masing lingkungan ada petugas, jadi merekalah yang akan membawa sampah dari rumah tangga ke TPS,a�? jelasnya.

Sementara sebagai sarana pengangkutan, masing-masing akan disiapkan kendaraan roda tiga sehingga mampu menjangkau ke rumah-rumah. Sehingga memudahkan mereka membawa sampah ke tempat pembuangan sementara (TPS).

Jika menggunakan gerobak dorong akan sulit bila lokasi TPS-nya jauh. Setelah sampah berada di TPS, maka barulah di sana tugas dinas kebersihan mengangkut sampah dari TPS ke tempat pembuangan akhir (TPA) Kebon Kongok.

a�?Mencari lokasi TPS inilah yang sulit, menurut saya TPS itu harus ada di setiap lingkungan, paling tidak di kelurahan,a�? ujarnya.

Untuk semua rencana ini diperkirakan butuh sekitar Rp 15 miliar untuk tahun pertama. Tahun berikutnya akan berkurang sebab pengadaan kendaraan roda tiga sudah tidak ada.Dana ini sudah termasuk dalam dana Rp 50 juta per lingkungan. Tapi semua akan masuk di dalam DPA masing-masing kecamatan.

Sehingga pengelolaannya bisa lebih dipertanggungjawabkan. Tentu uang Rp 50 juta akan disesuaikan dengan kebutuhan, tidak semua dipakai habis.

Peran kelurahan juga di sini sangat penting, sehingga masing-masing kelurahan akan diberikan satu truk untuk mengangkut sampah beserta operasionalnya. a�?Di sinilah kecamatan bekerjasama dengan kepala lingkungan dan lurah,a�? jelasnya. (ili/r6)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost