Lombok Post
Feature

Awal Mula Dicela, Ilham Kini Bergelimang Juara

CERITAKAN PENGALAMAN: Ilhamudin (kanan), bersama ibu dan adik tercintanya, di Dusun Torok Desa Penujak Praya Barat Lombok Tengah, saat menceritakan pengalamannya.

Ilhamudin bisa mengaji dan bersuara emas kendati ia tunanetra. Dari dihina, dicela, dan paling diragukan, Ilham kini bergelimang juara. Dia kini andalan NTB di Cabang Tilawah Cacat Netra di MTQ Nasional 2016.

***

JANGAN tanya nama Ilhamuddin di Desa Penujak, Lombok Tengah. Di kampung halamannya, nama itu tak terlalu dikenal. Kendati nama tersebut adalah juara.

Rupanya, Ilhamuddin dikenal di sana dengan nama Ilham atau Mudin. Lombok Post pun yang hendak menemui Ilhamuddin di rumahnya akhirnya harus berputar-putar dulu beberapa kali.

Bertemu dengan Ilham adalah kebanggaan. Dia adalah contoh nyata. Betapa semangat, dipadu kerja keras dan kegigihan tak akan pernah sia-sia. Keterbatasan tak akan pernah mampu menghalangi orang menjadi juara.

Begitulah Ilham. Merengkuh juara kecamatan, juara kabupaten, juara provinsi hingga juara nasional, di tengah keterbatasannya yang tak bisa melihat terang dunia.

Kini, dia menapak jalan untuk memberi yang terbaik bagi NTB. Tanah kelahirannya. Ilham akan berlaga di MTQ Nasional 2016 yang akan digelar di tanah sendiri.

Remaja kelahiran Penujak, 29 Agustus 1995 ini mengenal tilawah tak sengaja. Bermula dari mendengar kaset ngaji di Masjid Kute, Lombok Tengah dalam perjalanan bersama sang ayah, Sahamudin.

Syahdan, Ilham yang kala itu baru berusia tiga tahun diajak ke tempat bekerja ayahnya di salah satu hotel di Kuta. Dalam perjalanan, dia mendengar lantunan Kalam Ilahi yang dikumandangkan Muammar ZA, salah seorang qori kondang tanah air.

Ilham spontan mencoba mengikuti gaya irama Muammar. Hingga, orang tuanya pun kaget. Ayahnya pun memutuskan untuk mencarikan guru ngaji buat anaknya.

Namun, tidak ada yang mau karena kondisi fisik Ilham, yang tidak normal seperti orang pada umumnya. Segala jurus meyakinkan sang guru ngaji, tak mempan juga. Ilham tetap ditolak.

Namun, Ilham dan keluarganya tak patah arang. Belajar toh tak harus di guru ngaji. Maka jadilah, anak dan bapak ini belajar ngaji di rumah sendiri.

Sampai pada akhirnya pamannya Ustad Fatahillah, membuka majelis kecil-kecilan di masjid Desa Torok, hingga meminta Ilham datang belajar mengaji di tempat itu.

Karena kondisi cacat netra, keluarga dan kerabat terdekat lainnya memandang sebelah mata. a�?Sampai ada yang bilang, sudahlah nyari umpan saja dengan cara meminta-minta,a�? ujar Ilham sembari mengikuti gaya cibiran keluarganya yang lain.

Pandangan semacam itu pun, tidak membuat semangatnya kendor. Ia terus berusaha dan berusaha belajar, sambil sesaat mengingat gaya lantunan ngaji Muammar.

Butuh cara khusus memang untuk mengajar Ilham mengaji. Kala itu memang tidak ada yang mengenal apa yang disebut kini Alquran khusus bagi cacat netra, atau Alquran braille.

Sehingga, cara belajar mengaji Ilham yaitu, pamannya melantunkan ayat. Lalu, Ilham menyimak dan melantunkan kembali, dengan irama merdu dan lenggok lagu. Begitu seterusnya.

Oh ya. Untuk mendapatkan suara merdu, Ilham tak mengenal pantangan. Misalnya makanan berminyak, minuman manis atau dingin dan sebagainya. Yang penting, berlatih dan berlatih serta istirahat secukupnya.

a�?Itu saja kuncinya,a�? cetus anak pertama dari Sahamudin dan Ainiah sembari tersenyum.

Setiap Ilham berangkat ngaji dan kemana pun itu, ia selalu dipandu ayah tercintanya Sahamudin, hingga sekarang. Kecuali di rumah, ia sudah hafal betul dimana posisi kamar tidur, kamar mandi, kamar tamu dan ruangan lainnya.

Bakat mengaji Ilham sangat diakui pamannya, hingga dari berawal mencoba-coba ikut bertanding lomba mengaji di tingkat desa, Ilham ternyata dapat juara I. Di akhir tahun 2005 pun, pelaksanaan MTQ tingkat kecamatan di Gumi Tatas Tuhu Trasna digelar. Bersama ayah dan pamannya, Ilham menuju lokasi pertandingan.

Ia pun ingin tampil dalam MTQ itu, namun panitia penyelenggara menolak. Dengan alasan, tidak diperuntukkan bagi anak-anak di bawah umur dan cacat netra. Tidak lama kemudian, pamannya mencoba membujuk panitia, agar anaknya itu diberikan waktu untuk tampil saja. Bukan untuk dinilai.

Alhasil, begitu ada persetujuan, ia digendong naik panggung, ia langsung memegang pengeras suara, memperkenalkan diri, lalu melantunkan ayat suci Alquran yang diajari pamannya.

Sontak, para panitia, tamu undangan dan peserta terkesima, terdiam terpaku mendengar suara emas Ilham. Mereka tidak menyangka, anak sekecil itu pandai mengaji.

Berawal dari pengisi acara saja, panitia pun memutuskan Ilham juara I MTQ tingkat kecamatan, dan mewakili Praya Barat berlaga di MTQ tingkat kabupaten. a�?Sampai orang-orang itu heran, karena memang saya masih kecil,a�? ujar Ilham tertawa.

Sejak itulah, nama Ilham atau Mudin dikenal luas di Desa Penujak. Mereka yang selama ini mencibir dan menjelek-jelakkan, berbalik arah menyanjung.

Apalagi, ia ikut bertanding di MTQ tingkat kabupaten cabang tilawah golongan cacat netra di Tampar-Ampar Praya pada tahun 2006 lalu.

Lagi-lagi, Ilham mendapatkan juara I MTQ tingkat kabupaten dan ia mewakili Loteng berlaga di MTQ tingkat provinsi di Kabupaten Bima. a�?Saat saya dipandu menuju panggung, beberapa juri menanyakan. Kok anak ini masih kecil, sementara peserta cacat netra lainnya, remaja dan dewasa,a�? ujar Ilham mengikuti gaya bicara juri.

Karena kondisi fisik seperti itu, ia pun pupus di tengah jalan. Para juri memutuskan tidak memberikan juara kepada Ilham dan memintanya, untuk menunggu beberapa tahun ke depan, hingga usia remaja atau dewasa.

a�?Waktu itu, saya menangis karena tidak dapat juara. Padahal, saya berlatih sekuat tenaga,a�? ujar Ilham sambil meneguk segelas teh.

Pada pelaksanaan MTQ selanjutnya, ia pun mengikuti. Dari tingkat kecamatan dan kabupaten, ia kembali membawa piagam dan tropi juara I.

Namun, lagi-lagi pada MTQ tingkat provinsi pada tahun 2010, langkah kandas di tengah jalan. Hingga, awal keberhasilannya adalah, ketika ia mengikuti MTQ tingkat provinsi pada 2011 lalu di Sumbawa Barat.

Ilham pun mewakili NTB, untuk berlaga di tingkat nasional pada tahun 2012 di Ambon. a�?Alhamdulillah, saya mendapatkan juara tiga nasional dan mendapatkan hadiah umroh,a�? ujarnya.

a�?Tahun ini, saya kembali mewakili NTB, mohon doa masyarakat NTB, semoga saya dapat juara I,a�? lanjutnya Ilham.

Berbagai persiapan menjelang laga MTQ tingkat nasional telah dilakukan. Ia memperbanyak dan memperketat waktu untuk belajar mengaji.

Syukurnya, ia kini sudah memiliki Alquran braille yang diberikan donatur. a�?Hanya satu yang bisa saya berikan pada anak saya ini, mendoakan pada Allah SWT agar dia sukses,a�? sambung Ibunya, Ainiah.

Satu pesan penting yang disampaikan Ilham dalam berbagi pengalamannya yaitu, jangan meremehkan orang dari sisi fisik dan ekonominya.

Karena, Sang Maha Pencipta, Maha Segalanya. a�?Saya yakin itu. Alhamdulillah, berkat Alquran semua berubah,a�? kata Ilham yang kini sedang kuliah di jurusan Ilmu Pendidikan, di Nurul Hakim Kediri, Lombok Barat. (Dedi Shopan Shopian/Lombok Tengah/bersambung/r10)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post