Lombok Post
Headline Metropolis

Paling Sulit Membangun Mental Tuna Netra

PEDULI TUNA NETRA: Muhammad Faisal salah seorang guru yang ada di SLB-YPTN Mataram saat menjelaskan salah seorang siswa tulisan braile, kemarin (25/7).

Muhammad Faisal adalah salah satu guru luar Biasa. Bertahun-tahun ia betah mendidik anak-anak tuna netra menjadi lebih pintar. Dengan harapan, mereka yang hidup dalam keterbatasan itu bisa memiliki masa depan cerah, serta berguna bagi bangsa dan negara.

***

SUASANA – di Sekolah Luar Biasa (SLB)-A Yasayan Pendidikan Tuna Netra (YPTN) Mataram kemarin cukup tenang. Aktivitas di sekolah yang berlokasi di Selagalas ini tidak seperti sekolah pada umumnya. Tidak ada suasana hingar bingar siswa.

Proses pembelajaran berlangsung tenteram. Karena di sekolah ini siswanya tidak banyak seperti sekolah pada umumnya. Hanya ada 25 orang siswa dari jenjang SD, SMP dan SMA.

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 Wita. Para siswa pun keluar dari ruangan diikuti beberapa guru yang baru selesai mengajar. Dari kejauhan, terlihat sosok pria yang mengenakan peci hitam dengan setelan batik.

Oleh para guru yang ada di sana, ia dikatakan sebagai maha guru para tuna netra yang ada di SLB-YPTN Mataram. Sehingga, ketika beberapa guru ingin di wawancarai Lombok Post, mereka kompak menunjuk sosok pria tersebut.

Namanya Muhammad Faisal. Dari penampilannya, usianya sudah tidak muda lagi. Kepada Lombok Post, pria asal Lepak, Lombok Timur ini mengaku memang sudah pensiun.a�?Saya masih aktif sebagai pengurus. Kadang hanya membantu para guru mengarahkan siswa,a�? ujarnya.

Diceritakan Faisal, sapaan akrabnya, ia sudah menjadi guru di SLB YPTN ini sejak 1979. Kala pertama kali sekolah ini didirkan.

Sebelum menjadi guru di SLB YPTN, ia sempat mengabdi di PGA NW, Lombok Timur. Namun, ia beralih dari guru sekolah umum ke SLB karena diajak temannya saat itu.

Yakni Abdullah Mahsyar atau yang akrab disapa Al Mahsyar. Al Mahsyar sendiri merupakan seniman yang cukup dikenal di Pulau Lombok.

Dijelaskan, Almahsyar adalah rekannya mengajar di PGA NW. Bedanya, Al Mahsyar mengajar kesenian sedangkan Faisal guru agama. a�?Karena beliau (Al-Mhasyar, Red) sejak kecil sudah sekolah di Denpasar. Beliau fokus pada bidang kesenian. Makanya ahli dalam seni musik,a�? terangnya.

Meski menjadi guru agama, Faisal mengaku sangat tertarik kepada tulisan braile (tulisan khusus bagi penyandang tuna netra, Red). Ketertarikan itu sudah muncul sejak ia masih duduk di bangku Madrasah.

Dimana salah seorang gurunya saat itu sempat menyinggung tulisan braile namun tidak menjelaskan lebih dalam.

a�?Dalam hati saya, saya ingin lebih detail belajar tentang braile ini seperti apa. Beruntung saya bertemu dengan Al-Mahsyar. Dia yang mengajarkan saya membaca dan menulis braile ini sejak saya menjadi guru di PGA NW,a�? kenangnya.

Kepada Lombok Post, Faisal menceritakan awal mula berdirinya SLB-YPTN Mataram. Ia mengungkapkan sekolah ini dirintis oleh Al Mahsyar yang juga sebagai penyandang tuna netra.

a�?Beliau selain pandai dalam musik juga terkenal hebat memijat. Beberapa pasien yang dipijat Al-Mahsyar berasal dari kalangan pejabat. Sehingga, dari sinilah Al-Mahsyar mengemukakan keinginannya untuk membuka sekolah bagi tuna netra di NTB,a�? bebernya.

Keinginan Al-Mahsyar tersebut pun mendapat dukungan dari beberapa pejabat. Mulai dari Kepala Panti Sosial Harapan NTB saat itu Imam Sudono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lalu Tohir Bordasari dan beberapa pejabat lainnya.

Tujuan Al-Mahsyar mendirikan sekolah bagi penyandang tuna netra ini agar bisa memberikan mereka kemandirian.

Setelah disetujui, sekolah ini pun mulai dibuka. Namun, sementara waktu tempat belajar masih menggunakan bangunan yang ada di Panti Sosial Harapan NTB yang ada di Majeluk.

a�?Dari sana beliau mengajak saya untuk mengajar di YPTN ini. Beliau memilih saya membantu mengajar meskipun ada beberapa tenaga guru yang akan diperbantukan,a�? ungkap Faisal.

Keinginan Al-Mahsyar mengajaknya menjadi guru SLB di YPTN Mataram sempat mendapat penolakan dari pejabat pemerintahan. Namun, setelah mengetahui kalau Faisal pandai tulisan braile, ia pun kemudian diterima menjadi guru di YPTN.

Saat pertama kali dibuka tahun 1979, ia bersama Al-Mahsyar gencar mempublikasikan keberadaan sekolah tuna netra ini.

Dalam setiap konser yang digelar Al Mahsyar, ia berkoordinasi dengan kepala desa maupun kepala dusun untuk mengimbau warga yang memiliki anak atau keluarga tuna netra untuk mau menyekolahkan anaknya.

a�?Saya kebetulan jadi MC di setiap konser Al-Mahsyar. Waktu itu kami publikasikan membuka dua jurusan. Seni musik dan pijat,a�? bebernya.

Dari hasil sosialisasi tersebut. Ada sembilan siswa yang didapatkan dari berbagai daerah di Pulau Lombok. Mereka selama bertahun-tahun numpang belajar di Yayasan Panti Sosial Harapan NTB.a�?1982 saya baru mendapat SK PNS. 1985 kami pindah ke gedung baru di sini (Selagalas, Red),a�? tuturnya.

Selama menjadi guru tuna netra, Faisal menyebut beberapa pengalaman unik dan menarik. Menurutnya para tuna netra ini memiliki banyak potensi yang ada dalam diri mereka.

a�?Mereka lebih detail dan bisa menerima apa yang saya ajarkan dengan sangat baik. Makanya terus terang puluhan tahun saya mengajar, saya tidak pernah mengalami kesulitan sama sekali dalam mengajar,a�? akunya.

Dicontohkannya, ketika mengajar siswa untuk berwudhu, meskipun tidak melihat, para siswanya mempraktekkannya dengan sangat sempurna. Itu pun mereka lakukan setiap saat. Bukan hanya ketika praktek.

a�?Beda kalau kita yang normal, mungkin lambat laun akan menyepelekan kesempurnaan syarat wudhu atau salat. Mereka tidak, mereka ini detail dan memperhatikan semua hal yang saya sampaikan,a�? jelasnya.

Begitu juga halnya dengan pelajaran Matematika, IPA atau IPS. Menurutnya, kemampuan siswa tuna netra ini tidak kalah dibandingkan dengan siswa normal pada umumnya.

a�?Karena kebetulan saya pernah ngajar siswa normal. Saya juga pernah mengajarkan hampir semua mata pelajaran,a�? aku Faisal.

Hanya, saja yang dibutuhkan oleh para penyandang berkebutuhan khusus ini adalah rasa percaya diri. Karena, kebanyakan diantara mereka kurang merasa percaya diri dan mempercayai orang lain.

a�?Itulah yang ingin kami bangun. Bagaimana kepercayaan diri mereka bisa membuat mereka lebih mandiri,a�? jelasnya.

a�?Harus ada yang peduli dan mau membantu mereka. Kalau bukan kita yang peduli, lalu siapa lagi,a�? sambungnya. (bersambung/HAMDANI WATHONI, Mataram/r6)

Berita Lainnya

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost