Lombok Post
Bima - Dompu Headline

Petani Disalahkan, Politisi Nasdem Berang

Politisi Nasdem Edi Mukhlis

BIMA – Pengadaan bibit kedelai masih dipersoalkan. DPRD Kabupaten Bima dibuat pun panas. Dewan silang pendapat menyikapi kerusakaan bibit kedelai ini. Ada yang bela petani. Ada pula yang salahkan petani.

Politisi Nasdem Edi Mukhlis dibuat meradang. Sebab, Ketua Komisi II Suriyadin menyebutkan kerusakan bibit kedelai kesalahan petani. Pernyataan politisi Golkar itu dinilai menyudutkan para petani.

a�?Saya sendiri yang mengambil bibit Kedelai yang rusak itu dari sejumlah kelompok tani. Sehingga masalah itu diproses Komisi II,a�? terang Edy Mukhlis, kemarin (29/7).

Dari proses pengadaan bibit tersebut, kata dia, banyak terjadi kesalahan. Mulai dari penentuan penangkar, uji laboratorium yang terpisah, dan lainnya.

a�?Termasuk soal Kedelai konsumsi yang dipaksa dijadikan bibit,a�? katanya.

Meski banyak sekali kesalahan, Komisi II DPRD Kabupaten Bima masih menyalahkan petani. Ia menuding, mereka hanya mendengar pernyataan sepihak dari penangkar, BPSB, dan dinas pertanian. Mereka tidak kroscek ke lapangan untuk memastikan kondisi yang ada pada petani.

a�?Komisi II hanya mengambil sampel tanaman di Kecamatan Sape dan Lambu. Sementara yang bermasalah itu di Kecamatan Lambitu dan Langgudu,a�? herannya.

Ia menuding pengawasan Komisi II tidak jalan. Begitu pula dengan pernyataan Suriyadin yang menyalahkan petani. Ia sampai menyebutkan Suryadi Asbun (Asal Bunyi).

a�?Silakan datang ke Langgudu. Lihat sendiri kondisi tanaman kacang Kedelai di sana,a�? tegasnya.

Ia menilai, pernyataan ketua Komisi II itu menguatkan dugaan mereka masuk angin. Edy juga mensinyalir, komisi terkait juga terlibat dalam lingkaran kejahatan tersebut.

a�?Kalau dugaan itu salah, saya tantang Komisi II untuk merekomendasikan persoalan itu untuk diproses secara hukum,a�? tantangnya.

Hal senada disampaikan Ahmad. Politisi Nasdem ini menilai Ketua Komisi IIA� terlalu prematur menyimpulkan persoalan itu.

a�?Masa hanya karena pembelaan diri dari para penangkar dan BPSB, ketua Komisi II langsung menyimpulkan petani yang salah. Inikan lucu,a�? ujarnya.

Ia meminta, Ketua Komisi II untuk menyikapi dan menelusuri persoalan itu lebih maksimal. Bukan berdasarkan pengakuan sepihak dari pihak-pihak terkait.

a�?Jangan cepat ambil kesimpulan, sebelum semuanya jelas,a�? ingatnya.

Sebelumnya, Komisi II DPRD telah memanggil penangkar dan BPSB. Mereka diklarifikasi terkait pengadaan bibit kedelai. Namun, dewan belum berhasil menghadirkan Dinas Pertanian.

a�?Agenda kerja anggota dewan masih padat. Jadi belum sempat memanggil dinas terkait,a�? kata Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bima Suriyadin.

Berdasarkan klarifikasi dengan sejumlah pihak terkait, pengadaan bibit itu sudah sesuai prosedur. Kalaupun ada kesalahan dari pengadaan, ia menilai masih bisa ditolelir. Karena tingkat errornya tidak sampai 25 persen.

Bibit yang rusak ditemukan pada sejumlah kelompok tani, lanjutnya, itu bukan kesalahan penangkar dan BPSB. Melainkan kesalahan petani sendiri. Karena menyimpan bibit di tempat yang lembab.

a�?Ini sebabnya sehingga bibit itu rusak dan tidak tumbuh,a�? katanya. (mch/r1)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost