Lombok Post
Metropolis

Kembalikan Tradisi Magrib Mengaji

H Saiful Muslim
H Saiful Muslim

MATARAM – Bagaikan bola sodok (billiard, Red). Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXVI tahun 2016 di NTB kali ini, menggelinding lalu menghantam banyak sisi. Semua masyarakat seperti tersentak.

Ada banyak tradisi postif yang mulai pudar dan terlupa. Ketika NTB, terseret dalam arus globalisasi dan modernitas yang sangat deras.

a�?Contoh satu saja, tradisi mengaji seusai magrib kini sudah mulai luntur, MTQ seperti mengingatkan kita bahwa tradisi mengaji itu pernah tumbuh segar di maysarakat kita. Tapi kini perlahan mulai ditinggalkan,a�? kata Ketua MUI Provinsi NTB, Saiful Muslim.

Sebuah budaya luhur yang tak sepantasnya termakan zaman. Padahal lanjut Saiful, mengaji itu adalah salah satu bagian dari bentangan benteng umat Islam, dari berbagai penjuru serangan budaya negatif di luar sana.

a�?Membaca Alquran, kini cendrung hanya jadi seremoni. Tidak ada ruhnya lagi seperti dulu,a�? imbuhnya.

Saiful coba membadingkan nilai-nilai yang sangat berbeda jauh antara masyarakat dulu dengan kini. Terutama sikap hati mereka, saat memabaca ayat-ayat suci Alquran.

a�?Kita seharusnya membumikan Alquran, bukan malah mencabut hingga akar-akarnya,a�? ulasnya penuh makna.

Masyarat benar-benar mulai jauh dari nilai-nilai Alquran. Mencabut nilai-nilai keislaman yang sudah membentengi mereka cukup lama. Hakikat membumikan Alquran, kata Saiful adalah bagaimana bertingkah laku sesuai dengan tuntunan di dalamnya. Tidak hanya itu, Alquran juga jangan hanya dibaca. Tetapi, memahami kandungan dan makna yang ada di dalamnya.

a�?Alquran itu kitab segala zaman, isinya akan selalu berkesesuaian, dijadikan tuntunan di masa itu,a�? ulasnya.

Tinggal bagaimana seseorang bisa memahami dan mengambil inti sarinya. Lebih dalam lagi, Saiful mengatakan, tantangan dan cobaan di dunia ini, sebenarnya polanya sama saja. Dari peradaban manusia pertama hingga akhir zaman. Bedanya hanya di a�?bungkusa��. Sebab, ia menjelma dalam ketinggian peradaban saat itu. Jika manusia jeli, mereka akan mudah mengetahuinya.

a�?Itulah salah satu mukjizad di dalam Alquran,a�? ulasnya.

Untuk mengembalikan tradisi mengaji dan menumbuhkan semangat mengkaji di sana, memang dibutuhkan semangat kebersamaan secara kolektif. Pemerintah tidak bisa sendirian jika rakyat tidak memahami pentingnya kembali ke identitas keluhuran religius seperti dulu. Begitu sebaliknya.

a�?Ya kita harus sama-sama, tidak bisa hanya pemerintah saja,a�? ulasnya.

Jika disederhanakan, NTB harus mampu dibentuk suasananya seperti lingkungan Pondok Pesantren. Semangat, keinginan dan tujuan antara santri yang merupakan representasi dari rakyat, serta guru yang merupakan instrumen pemerintahan, harus sama. Maka dengan sendirinya, semangat mengaji bisa terwujud.

a�?Tapi kan persoalannya, tidak demikian. Ada yang maunya seperti ini, ada yang maunya seperti itu. Nah, di sinilah ketegasan pemerintah diperlukan sebagai pemegang kebijakan untuk menentukan arahnya,a�? ujarnya.

Saiful yakin, sebenarnya masyarakat yang merindukan NTB kembali menjadi daerah mengaji seperti dulu, itu jauh lebih banyak dari pada yang mau melakukan perubahan dan mencari ulang identitas NTB. Apalagi yang mau mengadopsi budaya luar dengan maksud mengganti budaya religius yang sudah melekat selama ini.

a�?Sudahlah. Sudah terlalu banyak kajian yang menyebut manfaat mengaji itu besar sekali, dari kesehatan jasmani hingga rohani. Bukankah, dua tujuan itu yang menjadi keinginan dan harapan orang. Lantas kenapa (mengaji) tidak segera dibumikan?a�? tandasnya. (cr-zad/r6)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost