Lombok Post
D'LADIES Headline

Kiat Hj. Hany Malkan Menjadi Mufasiroh Bahasa Inggris Andal

Hany Malkan
Hj Hany Malkan (kanan)
Hany Malkan
PERDALAM TERJEMAHAN: Hj Hany Malkan, mufasiroh (ahli tafsir) asal Ponpes Al Aziziyah, Kapek Gunungsari rutin berlatih memperdalam bacaan Alquran dan terjemahannya dalam bahasa Inggris di rumahnya, Sabtu (23/7).

lombokpost.net – Lahir dan tumbuh di lingkungan yang agamis membuat pengetahuan agama Hj Hany Malkan tak perlu diragukan. Sedari kecil ia telah memperdalam ilmu hafalan Alquran. Tepatnya saat lulus sekolah dasar.

Saat melanjutkan pendidikan tsanawiyah dan aliyah di Ponpes Al Aziziyah, Kapek Gunungsari, Lombok Barat (Lobar) ia mulai belajar menjadi seorang hafidzah (penghafal Alquran). Menjalani dua peran di pendidikan berbeda sekaligus, sebagai siswa madrasah dan hafizah ternyata tak semudah seperti yang dibayangkannya. Hany sempat kesulitan menjalani keduanya. Namun ia berhasil menyiasati dengan pola pengaturan waktu yang tepat.

Ia menjadwal waktu menghafal setelah salat Subuh. Hafalan tersebut kemudian disetor kembali pada ustaz usai salat Ashar.

a�?Sementara pada malam hari saya pergunakan untuk memperdalam ilmu pengetahuan umum,a�? A�ujarnya.

Hany mengaku tidak terlalu menemui kesulitan ketika menghafal Alquran pertama kali. Yang lebih merepotkan adalah menjaga hafalan, khususnya yang telah berbulan-bulan hingga tahunan. Untuk menjaga hafalannya, Hany selalu melakukan murojaah (pengulangan hafalan) dan takrir (pembacaan ulang).

a�?Jadi jika tidak diulang-ulang yah bakalan lupa,a�? ucapnya.

Sementara untuk tafsir Alquran, Hany mengungkapkan jika dia tidak belajar bahasa Inggris secara khusus. Ilmu itu hanya didapatnya di madrasah. Akan tetapi karena minat yang besar terhadap bahasa asing tersebut membuat dia mudah melahap dan menguasainya. Dari hobi ia berhasil mengembangkannya menjadi bakat seorang mufasiroh bahasa Inggris seperti sekarang.

A�a�?Saya belajar karena hobi,a�? akunya.

Hany menjelaskan, ia tekun melakoni peran sebagai mufasiroh bersamaan dengan menghafal Alquran. Tahun 2000 menjadi titik awal dia mengikuti lomba tafsir bahasa Arab 30 juz di Palu. Saat itu ia memperoleh juara harapan I.

Dua tahun berikutnya, ia mengikuti STQ nasional yang diselenggarakan di NTB. Saat itu, ia memperoleh juara II untuk tafsir 30 juz bahasa Indonesia. Sementara tafsir bahasa Inggris dimulai sejak 2005 silam di Kendari . Ia berhasil memperoleh juara harapan I.

a�?2010 gak dapat juara. Namun 2012 saya dapat juara III di Ambon,a�? aku Hany.

Pada MTQ XXVI di NTB kali ini, merupakan keempat kalinya ia mengikuti lomba tafsir bahasa Inggris. Mata lomba ini dinilainya merupakan yang tersulit dibandingkan dengan mata lomba lainnya. Sebab selain menguasai terjemahan, ia juga harus menguasai hafalan Alquran. Terlebih lagi, penafsiran ayat suci menggunakan bahasa Inggris.

Hany menuturkan, setiap hari ia harus menguasai 10 kosakata baru. Target ini ditetapkan lantaran dirinya tidak memiliki bakat khusus dalam berbahasa Inggris. Untuk mempermudahnya belajar, ia selalu menuliskan kosakata baru dalam buku catatan miliknya. Buku tersebut selalu ia bawa kemana pun selama 24 jam.

a�?Kemana saja saya pergi tetap harus dibawa dan dihafalkan,a�? sambungnya.

Sejak Oktober tahun lalu, Hany dikarantina. Ia bersama rekan lainnya digodok oleh pelatih Jakarta selama hampir satu tahun. Ia menjalani pelatihan di Hotel Arum Jaya, Mataram.

a�?12 hari sebelumnya digodok di daerah masing-masing,a�? katanya.

Dalam lomba tafsir bahasa Inggris, Hany harus mampu menerjemahkan sebanyak 12 Juz. Hal ini telah menjadi kesepakatan untuk bahasa Inggris mengalami penambahan 3 juz per tahunnya.

Dalam satu juz, ia dikenakan 4 buah soal. Masing-masing soal berisikan 10 hingga 15 baris. Hal tersebut dilakukan secara acak sesuai dengan yang ditentukan oleh juri.

Soal yang diberikan memuat tujuh poin yang harus dikuasai peserta. Diantaranya, arti kata, terjemahan secara keseluruhan, interpretasi terjemahan, asababun nuzul atau sebab turunnya ayat yang dipertanyakan, munasabah atau hubungan ayat per ayat, kesimpulan, dan terakhir wawasan peserta.

a�?Yang terakhir ini biasanya membuat peserta kesulitan,a�? ujarnya.

Biasanya ayat yang ditanyakan juri disesuaikan dengan kondisi kehidupan saat ini. Misalnya mengenai pendapat ulama dan peserta mengenai korupsi, fenomena yang terjadi di masyarakat, dan lainnya.

a�?Itu yang lumayan sulit karena tidak ada di buku,a�? akunya.

Hany menyebut hingga sekarang masih grogi ketika tampil di atas panggung saat lomba. Namun ia memiliki beberapa trik untuk mengatasinya. Diantaranya dengan banyak berdoa pada Allah SWT. Selain itu, ia juga mencoba meminimalisir percakapan sebelum lomba.

a�?Biasanya ini merupakan trik peserta lain sebelum lomba. Hal ini yang harus dihindari,a�? tandasnya

HanyA�mengaku optimis bisa meraih hasil maksimal di perhelatan MTQ nanti. Ini karena persiapan dan pemantapan yang telah ia jalani. Namun dukungan dari seluruh masyarakat NTB agar bisa meraih kemenangan juga sangat diharapkan.

Pada persiapan terakhir kemarin, ia mengaku sudah melakukan banyak hal. Bacaan dan terjemahan dari awal hingga akhir juz telah dimatangkannya.

a�?Tahfiz 12 juz pun juga sudah saya dimatangkan,a�? tutupnya. (fer/ida)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost