Lombok Post
Headline Metropolis

MTQ Nasional Membawa Berkah Bagi NTB

berkah (3)
SYUKUR TIADA HENTI: Pedagang dompet diserbu pengunjung pameran MTQ Nasional XXVI 2016 diarena utama MTQ Nasional di Islamic Center Kota Mataram Senin (1/8).

MTQ Nasional datang ke NTB membawa berkah. Hotel berbintang dalam kota full booking. Pengusaha kuliner merona bahagia. Para penjual suvenir dan aksesoris tertawa lebar. Pemilik rental kendaraan bersuka cita. Sementara pedagang kaki lima menggapai asa. Macam petani yang lagi panen raya, semua meraup untung berlipat-lipat.

***

TAHIR mengaku beruntung. Lelaki penjual aksesoris macam gantungan kunci bertema MTQ Nasional itu tak lagi diburu Satuan Polisi Pamong Praja. Tadinya, dia sudah dag dig dug.

Soalnya di arena MTQ, Tahir menggelar dagangannya di trotoar. Para pengunjung MTQ yang lalu lalang adalah targetnya. Dan keberanian Tahir itu tak sia-sia. Dari lapak sederhana di atas trotoar itu, rezeki mengalir deras ke kantognya.

Bukan cuma semalam dua malam. Nyaris sudah lima malam dia menggelar lapak. Dan selama itu pula gemerincing rupiah diraupnya. a�?Alhamdulillah. Tadinya sempat ditertibkan Pol PP. Tapi sekarang tidak lagi,a�? kata Tahir pada Lombok Post di sela melayani pembeli yang mampir ke lapaknya kemarin (2/8).

Aneka gantungan kunci dijualnya. Murah meriah pula. Harganya mulai Rp 5 ribu hingga Rp 50 ribu. Sayang, Tahir mengunci rapat informasi soal omzet yang didapatnya. Tapi, dari senyumnya yang lebar, dia mengonfirmasi betapa dia memang tengah menikmati periode untung besar di arena utama MTQ Nasional di Islamic Center, Mataram.

Tentu saja, semenjak MTQ Nasional dibuka Presiden Joko WidodoA� 30 Juli 2016, tak cuma Tahir seorang yang merona bahagia di arena MTQ. Jangankan para pedagang. Mereka yang tak punya modal uang pun bisa meraup ratusan ribu dalam semalam di sana.

Tengoklah para tukang parkir. Dengan mengkapling badan jalan yang memang ditutup, trotoar, dan gang, mereka bisa meraup ratusan ribu semalam. a�?Paling sedikit semalam bisa dapat Rp 70 ribu. Bahkan pas ramai bisa sampai Rp 200 ribu semalam,a�? kata seorang tukang parkir yang bertugas di Jalan Udayana,A� sisi timur arena utama MTQ Nasional.

Belum lagi para penjual es kelapa muda, penjual kacang rebus, penjual cendol, para penjual baju dengan tema MTQ, dan juga penjual makanan dan minuman ringan.

Sedari mula, MTQ Nasional memang mendamba sukses yang lain. Selain sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi, sukses lain itu adalah dalam bentuk sukses ekonomi.

Di mana-mana, keramaian memang menyimpan segudang peluang. Apalagi MTQ yang didatangi ribuan orang dari seluruh penjuru Indonesia. Para kafilah itu, tentu saja tak datang dengan tangan kosong.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB Hj Budi Septiani memperkirakan, selama pagelaran MTQ ini, perputaran uang di arena MTQ sedikitnya Rp 7 miliar. Sebuah angka yang amat besar. Dan itu baru di arena saja. Belum di luar arena.

Sebab, efek MTQ Nasional rupanya tak cuma terasa di arena utama belaka. Namun, hingga ke jauh tempat dari arena utama MTQ tersebut.

Aminah misalnya. Perempuan yang membuka warung tenda di bilangan Jalan HOS Cokroaminoto yang lumayan renggang dari arena utama MTQ Nasional juga kecipratan peningkatan jumlah pengunjung.

Ada yang datang khusus untuk makan di warung. Ada pula memesan untuk dibungkus lalu dibawa pulang ke penginapan. a�?Alhamdulillah beberapa hari ini ramai terus,a�? katanya pada Lombok Post. Alhasil, nyaris tiada jeda semenjak buka menjelang petang hingga tengah malam. Dia tiada henti melayani pembeli. Bahkan, kadang dia tutup lebih awal, lantaran jualannya lebih cepat habis. Hal yang biasanya nyaris tak pernah terjadi pada hari biasa.

Dan tentu saja, suka cita bukan cuma milik para pedagang dengan lapak sederhana kelas kaki lima tersebut. Untung berlipat juga dinikmati para pemilik restoran besar di Kota Mataram. Misalnya para pemilik rumah makan yang menyediakan menu makanan khas Sasak, Ayam Taliwang.

Semenjak MTQ dimulai, pada saat jam makan siang dan makan malam, nyaris tak ada rumah makan yang sepi pengunjung. Ramai semuanya. Antrean kendaraan bahkan mengular sampai di jalan-jalan raya. Tak cukup tertampung di parkiran rumah makan, atau juga lesehan.

a�?Para kafilah hingga artis pun datang kemari tiada henti,a�? ungkap pemilik Rumah Makan Taliwang Raya HM Bahrain Moerad kepada Lombok Post. Dia tak menampik, jika MTQ serasa waktu panen raya bagi usaha rumah makan miliknya.

Full Booking

Beralih ke hotel. Terutama di dalam kota, hotel berbintang telah full booking. Hotel melati pun tak ada yang tak kebagian tamu. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB I Gusti Lanang Patra menyebutkan, tingkat hunian hotel (okupansi) sangat bagus. Okupansi terbaik dirasakan oleh hotel-hotel berbintang di Kota Mataram.

Hotel telah dibooking jauh-jauh hari sebelum MTQ dihelat. Mereka yang memesan adalah para tamu terdiri atas kafilah, pendukung, para pendamping dari pemerintah daerah masing-masing.

Belum lagi umat Islam dan para pencinta tilawah Alquran dari luar negeri seperti Brunnei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan semenanjung Arab.

a�?MTQ ini momentum yang luar biasa. Banyak tamu yang berbondong-bondong datang,a�? kata Lanang yang juga General Manajer Lombok Raya Hotel, salah satu hotel bintang empat di Mataram.

Menurut data Asosiasi Hotel Mataram (AHM), okupansi hotel pada tanggal 29 dan 30 Juli 2016 mencapai 100 persen. Pada saat itu, Presiden Joko Widodo memang tengah berada di Mataram untuk membuka MTQ. Sementara pada saat yang sama, para gubernur dan wakil gubernur se-Indonesia, bupati dan wali kota hingga pejabat penting lainnya berada pula di Mataram.

a�?Jadi okupansi full 100 persen ada di tanggal tersebut,a�? jelas Ketua AHM Reza Bovier.

Jika dikalkulasi secara keseluruhan okupansi hotel di bulan Juli, lanjutnya, telah mencapai 56 persen. Dia mengatakan, kamar yang terjual selam Juli 2016 mencapai 30.361 kamar dari total 53.780 kamar seluruh hotel di Kota Mataram.

Jumlah ini melonjak drastis. Dibandingkan Juli tahun lalu hanya mencapai 36,59 persen. Dari total seluruh kamar tahun lalu yang mencapai 42.349, total yang terjual 15.497 kamar.

Khusus hotel berbintang, kata Reza, selama MTQ berlangsung memang cukup kewalahan menghadapi para tamu. Terlebih menjelang sepekan di akhir Juli lalu. Seperti diketahui, ada dua kegiatan besar diadakan di Kota Mataram. Yakni Hari Anak Nasional pada tanggal 19-23 Juli. Kemudian dilanjutkan dengan MTQ Nasional.

Saat ini, di awal Agustus, okupansi pada kisaran 80 persen. Meski terbilang penuh, tetap masih ada kamar yang masih bisa dipesan. Turunnya okupansi di pekan pertama ini, dinilai wajar. Karena yang mengisi hanya para kafilah dan pendamping. Sementara pejabat dan tamu undangan lainnya telah check out.

Tapi diperkirakan, okupansi hotel akan kembali meningkat hingga 90 persen saat penutupan acara MTQ XXVI pada tanggal 7 Agustus mendatang. Wapres Jusuf Kalla dijadwalkan menutup MTQ Nasional 2016.

Tak cuma di dalam kota. Hotel dan resort di kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat juga merasakan hal yang sama. Ketua Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) chapter Lombok Erik Tumbelaka mengatakan, terjadi peningkatan okupansi hingga 30 persen jika dibandingkan Juli tahun lalu.

a�?Karena tahun lalu kan tidak ada MTQ, sekarang ada MTQ,a�? imbuhnya.

Erik menjelaskan, meningkatnya okupansi lebih kepada tamu hotel yang tidak mendapat kamar di Kota Mataram namun punya kepentingan atau bisnis di kota.

Selain itu, meningkatnya okupansi juga didorong masuknya high season liburan oleh wisatawan asing dari Eropa. Serta wisatawan domestik yang memang sengaja berlibur ke Lombok dan menginap di Senggigi. a�?Bisa juga keluarga dari kafilah yang datang untuk sekalian berlibur ke Senggigi,a�? imbuhnya.

Buah Tangan Diserbu

Kebahagiaan juga dirasakan para penjual buah tangan atau oleh-oleh. Dody A Wibowo misalnya. Pemilik Etnic Lombok Coffe tersebut mengaku menerima pesanan melonjak drastis. a�?Permintaan kopi khas Lombok meningkat tiga kali lipat dibanding hari biasa,a�? kata dia.

Dia mengatakan, di saat hari biasa, biasanya ia memproduksi 100 kilogram (kg) kopi sebulan. Jumlah itu setara 50 hingga 100 kemasan 250 gram. Namun, saat MTQ, ia memproduksi kopi hingga tiga kali lipat dari biasanya.

a�?Sebulan ini kami sediakan 300 kg,a�? ujarnya.

Memasuki Agustus ini, Dody mengaku, pesanan tak akan sepi. Sebab secara tradisional berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, Agustus hingga akhir tahun adalah waktu high sesion bagi usahanya.

Pun begitu dengan pusat oleh-oleh seperti Sasaku. Dua outlet Sasaku di Dasan Cermen dan di kawasan wisata Senggigi kini tak pernah sepi. Tingkat keramaiannya pun sama di dua outlet tersebut. Padahal, biasanya pengunjung outlet di Dasan Cermen lebih sedikit pada hari biasa. Keramaian mulai meningkat selepas pukul 14.00 Wita.

Manajer Sasaku Muhammad Christoper mengatakan, pada hari biasa transaksi pada kisaran paling minim 60 di setiap outlet sehari. Namun, saat ini, melonjak hingga tiga kali lipat. a�?Ini berkah besar bagi kami,a�? kata dia.

Dia mengatakan, Sasaku biasanya memang menjadi langganan wisatawan asal Jakarta atau Surabaya. Tapi sekarang malah dikunjungi wisatawan dari seluruh Indonesia.

Di Pasar Seni di Sesela, Lombok Barat, pun begitu. Ketua Pasar Seni Sesela Fatahul Anwar Atta mengatakan, pedagang saat ini menikmati peningkatan omzet. Naik rata-rata 50 persen dibanding hari biasa.

Di pasar seni ini, pengunjung tak cuma bisa berbalanja buah tangan. Tapi bisa menikmati pula aneka atraksi kesenian khas NTB. Sehingga memang tak pernah sepi. Pengunjung umumnya memburu aneka karya seni seperti ukiran berhias cukli.

Beberapa aksesoris unik seperti gelang, kalung, kaos, keris, batu permata akik, hingga plakat khas Lombok juga ikut diburu pengunjung. Sebagian besar dari mereka membeli barang tersebut sebagai oleh-oleh keluarga dan sahabat di kampung halamannya.

Ahmad Basyir salah satu perajin aksesoris unik khas Lombok di pasar seni ini mengatakan jika sehari biasanya mampu meraup untung Rp 200 ribu, sekarang bisa hingga Rp 300 ribu sehari.

Para penjual aksesoris dari mutiara juga tak ketinggalan mendapat berkah. Yang mangkal di depan hotel berbintang maupun venue utama MTQ sama-sama meraup untung.

a�?Pagi kita rombongan pergi ke tempat-tempat lomba. Malam harinya baru ke hotel tempat peserta menginap,a�? kata seorang pedagang mutiara keliling Annisa saat ditemui Lombok Post di venue utama MTQ Islamic Center.

Menurutnya pendapatan bisa bertambah 30 persen dari hari normalnya. Kebanyakan jenis mutiara yang dicari sudah dirangkai dan berbentuk perhiasan wanita. a�?Tapi ada juga yang membeli mutiaranya untuk dirangkai di daerah pembeli dengan emas atau perak,a�? tandasnya.

Kebanjiran Order

Sementara itu, usaha penyewaan kendaraan juga banjir order. Jika ada yang hendak menyewa kendaraan untuk saat ini, dipastikan akan sulit sekali mendapatkannya.

a�?Rata-rata sekarang perhari mobil yang keluar 20 unit,a�? kata Kepala Cabang Autobagus Lombok Multazam. Autobagus adalah salah satu rental kendaraan yang biasanya melayani kontrak di Mataram.

Seluruh unit yang dimiliki telah habis tiap hari. Ia menjelaskan di luar kendaraan yang dikontrak, pihaknya menyiapkan 30 unit kendaraan. Namun, yang akan disewakan hanya 20 unit maksimal. Sisanya 10 unit standby jika terjadi apa-apa pada kendaraan yang disewa customer.

a�?Sebenarnya kami punya 119 unit kendaraan tapi 90 unit itu digunakan kontrak dengan perusahaan atau kantor-kantor yang ada di NTB,a�? jelasnya.

Meski order ramai, Multazam mengatakan, harga tak naik. Tarifnya sama dengan hari biasanya. Dimana jenis mobil Avanza Rp 500 ribu include sopir dan BBM sehari. Untuk innova tarifnya Rp 600 ribu include sopir dan BBM. a�?Kalau masih di Kota Mataram, BBM yang disiapkan untuk penyewaan perhari cukup,a�? tambahnya.

5.000 Tamu

Diperkirakan, sepanjang MTQ Nasional berlangsung, NTB memang akan kedatangan tamu tak kurang dari 5.000 orang yang berasal dari para kafilah dan penggembiranya serta para pejabat.

Arus kunjungan yang ramai itu terlihat jelas dari peningkatan jumlah penumpang di Lombok International Airport. Sejumlah maskapai bahkan menyiapkan penerbangan ekstra.

a�?Ada dua penerbangan ekstra untuk direct flight dari Jakarta menuju LIA,a�? kata General Manager (GM) AP LIA I Gusti Ngurah Ardita, kemarin.

Maskapai penerbangan yang menyiapkan penerbangan ekstra tersebut yakni Garuda Indonesia. a�?Maskapai lain, normal,a�? kata dia.

Bahkan, karena lonjakan penumpang, Garuda Indonesia mengoperasikan pesawat Airbus 330 berkapasitas 300 penumpang untuk rute Jakarta-Lombok. Pesawat ini biasanya dipakai Garuda untuk penerbangan ke luar negeri. a�?Pada 6-7 Juli mendatang, Garuda kembali melaksanakan ekstra flight,a�? kata Ardita.

Selama MTQ, kata dia jumlah penumpang kedatangan domestik dan internasional peningkatan signifikan.

Khusus MTQ ini, Ardita menyebutkan pihaknya menyiapkan pelayanan kesehatan. Juga jalur khusus menuju bus, sehingga para kafilah yang datang tidak bercampur dengan penumpang lainnya. a�?Pelayanan yang sama, begitu peserta MTQ meninggalkan NTB,a�? katanya.

Disiapkan pula ruang check in khusus bagi peserta MTQ. Mereka tidak perlu mengantre terlalu lama. Begitu pula, saat boarding. (ewi/fer/nur/dss/cr-zad/r10)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost