Lombok Post
Giri Menang Headline

Nasib Juara MTQ asal NTB, Sambung Hidup Lewat Acara Pernikahan Warga

SEDERHANA: Muhammad Zaitun Ridwan (kiri) tetap berjuang di tengah ketidakperhatian pemerintah.

Kemenangan Zaitun di MTQ 2006 lalu menyelipkan rasa bangga di hatinya. Tapi, itu sama sekali tidak terasa manis di kehidupan Zaitun selanjutnya. Agar dapurnya tetap mengepul, Zaitun mengandalkan undangan pernikahan.

***

TAK banyak aktivitas yang dilakukan Zaitun setiap harinya. Ayah dari Muhammad Labib Ridwani dan Fadya Jamilannida ini, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Bermain dengan anak dan istrinya.

Ketika koran ini berkunjung ke rumah Zaitun, di Lingkungan Pohdan, Gerung Utara, ia nampak duduk santai di berugak rumahnya. Badannya yang kurus terlihat bersandar di tiang berugak. Segelas kopi dan sepiring pisang goreng, menemani siangnya kala itu.

Sang istri, Siti Raudhatul Jannah mengungkapkan, kondisi fisik suaminya tidak sebaik dua tahun lalu. Badan kurus pria Gerung itu pun, diakibatkan sakit radang paru yang ia derita.

Bahkan di awal tahun 2015, usai di opname di rumah sakit, Zaitun tidak bisa berjalan. Selama satu tahun penuh, dia hanya bisa berbaring di atas tempat tidurnya.

“Ini Alhamdulillah sudah bisa jalan, makannya juga sudah lahap, jadi berat badannya ikut nambah,” ujar Jannah.

Sembari menyeruput kopi hitamnya, Zaitun menimpali cerita istrinya. Sebelum sakit, dirinya kerap diundang warga ke acara pernikahan. Ia diminta untuk sekedar mengisi acara dengan bermain organ tunggal atau mengaji tilawah. “Pernah ngajar juga di pesantren, tapi sudah berhenti,” kata Zaitun.

Bagi Zaitun, undangan untuk mengisi acara di pernikahan, merupakan berkah bagi dirinya. Karena di sanalah, dia mendapatkan penghasilan untuk bisa tetap membiayai kehidupan keluarganya.

Keterbatasan fisiknya, diakui pria yang lahir di tahun 1984 ini, menghambat ruang geraknya. Dia tidak bisa dengan lincah bekerja selaiknya orang normal.

Karena itu, usai menjadi juara nasional MTQ 2006 di Sulawesi Tenggara, harapan untuk mendapat hidup lebih baik, sempat terbersit di hatinya. Tetapi, setahun hingga sekarang, usai gelaran MTQ 2006, tidak ada yang berubah dari kehidupan Zaitun.

Sesungguhnya, pria yang setia dengan peci hitamnnya ini, tidak mengharapkan materi dari pemerintah. Dirinya hanya ingin pemerintah memberi sedikit perhatian. Sehingga bakat tilawah yang ia asah dengan cara otodidak ini, tidak tersia-siakan. “Setelah juara, langsung dilupakan begitu saja,” ungkapnya.

Tetapi Zaitun tidak berkecil hati. Asap dapurnya pun masih bisa tetap mengepul berkat hajatan nikahan sejumlah warga. Sebab, setiap hadir untuk mengisi acara pernikahan tersebut, ada honor yang akan ia bawa pulang.

Tetapi jangan bayangkan acara pernikahan yang dihadiri Zaitun berjumlah puluhan. Ada kalanya dalam sehari dia mendapat undangan hingga lima acara. Tetapi dua hingga tiga bulan berikutnya kembali menganggur.

“Alhamdulillah bisa dapat Rp 150 ribu setiap mengisi acara nikahan. Meski tidak sering, tetapi harus disyukuri,” pungkasnya. (Wahidi Akbar S., Giri Menang*/r6)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost