Lombok Post
Metropolis

Ini Tradisi Unik Warga Sekarbela untuk Mengantar Calon Jamaah Haji

Tradisi Nyimpen
ISI KOPER: Para jamaah calon haji asal Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela membuka koper yang akan digunakan dalam tradisi nyimpen, Rabu (3/8).

Warga Sekarbela memiliki tradisi unik mengantar jamaah calon haji. Tradisi ini disebut nyimpen. Berikut laporannya.

***

KoperA�– koper hitam itu dikelilingi jamaah berkopiah di Masjid Ar-Raisyah. Di barisan depan, para sesepuh dan tuan guru duduk menghadap koper, sementara 38 orang jamaah calon haji duduk besila mengharap doa. Kini semua mata tertuju ke koper yang dibuka.

Barang-barangA� seperti sajadah, mukenah, tasbih, Alquran juga nampan dimasukkan ke koper oleh para sesepuh. Setelah terisi, 38 koper itu dikumpulkan dan dikembalikan kepada jamaah calon haji.

Prosesi ini berlangsung sebentar, kemudian dilanjutkan dengan zikir dan doa bersama untuk keselamatan jamaah. Diakhiri dengan salaman dan santap dulang bersama di dalam masjid.

Tradisi inilah yang disebut tradisi nyimpen, semacam nimpes atau dalam bahasa Indonesia memiliki makna berkemas-kemas sebelum berangkat naik haji. Barang yang dimasukkan para sesepuh menjadi simbol barang pertama yang disimpan (nyimpen) sebelum memasukkan barang lain ke dalam koper.

Dalam tradisi ini, yang mengisi koper harus para pemuka agama, tuan guru dan sesepuh. Kepala Lingkungan Pande Mas Barat, Kelurahan Karang Pule H Suaufi mengatakan, tradisi nyimpen merupakan tradisi yang rutin dilakukan jika ada warga yang hendak melaksanakan ibadah haji. Jauh hari sebelum keberangkatan, mereka dilepas dengan doa-doa.

a�?Intinya meminta doa dan bersilaturrahmi dengan masyarakat, meminta doa kepada para sesepuh dan undangan,a�? katanya. a�?Itulah proses nyimpen, lebih kepada persiapan berangkat haji,a�? tambahnya.

Setelah acara nyimpen baru kemudian para jamaah calon haji membuka acara ziarah di rumah masing-masing. Seperti selakaran dan zikir. Tapi tidak mengadakan gawe besar lagi, sebab sudah dilakukan secara kolektif di masjid dalam acara nyimpen. a�?Tradisi ini sudah dilakukan sejak nenek moyang,a�? tuturnya.

Saufi menjelaskan, tradisi nyimpen dulu dilakukan bila jumlah warga yang akan naik haji melebihi jumlah hari dalam sebulan. Misalnya saat ini 38 orang. Tapi jika hanya 5 atau 10 orang, tradisi ini tidak dilakukan. Sebagai gantinya cukup dengan syukuran di rumah masing-masing.

Tapi saat ini, disepakati meski hanya lima orang jamaah, warga tetap melaksanakan tradisi nyimpen. a�?Sejak 15 tahun terakhir tetap kita adakah nyimpen,a�? ujarnya.

Acara nyimpen di masjid juga membantu para jamaah calon haji untuk lebih hemat. Jika sudah ikut dalam acara nyimpen, mereka tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk syukuran. Bahkan dilarang agar tidak terlalu boros.

Kadang untuk acara syukuran, minimal mereka harus menyembelih satu ekor kambing. Itu pun belum cukup sehingga harus ditambah dengan daging sapi. a�?Istilahnya lebih meringankan,a�? kata Kepala Lingkungan Mas Mutiara H Hanan.

Di sisi lain, tradisi nyimpen dilakukan sebagai bentuk silaturrahmi untuk memperkuat hubungan antar sesama. Dimana warga dari berbagai lingkungan bergabung mengadakan acara bersama, zikir dan makan bersama.

Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana berharap tradisi ini terus dijaga agar persatuan dan kesatuan semakin kuat di tengah masyarakat. Nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan pendahulu harus tetap dijaga agar tidak punah.

Kepada para jamaah calon haji diharapkan tetap menjaga kesehatan, sebab cuaca di A�Mekkah tidak bisa diprediksi. Dimana panas mencapai 50 derajat celcius, juga badai pasir perlu diwaspadai. a�?Tapi insya Allah dengan keteguhan niat semua akan diselesaikan,a�? harapnya. (Sirtupillaili/Mataram/r6)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost