Lombok Post
Metropolis

Perempuan Kota Rentan Kekerasan

KDRT
Kepala Badan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota Mataram, Sutrisno.

MATARAMA�– Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kota Mataram masih kerap terjadi. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota Mataram, Sutrisno.

Dijelaskkannya, ini bisa memicu keretakan dalam rumah tangga hingga berujung pidana. a�?Belum lama ini memang ada beberapa ibu rumah tangga yang datang ke sini melaporkan suaminya karena ia mendapatkan tindakan kekerasan,a�? ungkap Sutrisno.

Dikatakan, beberapa perempuan tersebut ngotot melaporkan suaminya ke polisi. Pihak BPPKB telah mencoba memediasi agar ia bisa berdamai dengan baik. Namun perempuan tersebut menolak.

a�?Karena dia ngotot, ya kami terpaksa dampingi untuk proses hukum. Setelah divisum, suaminya akhirnya dipenjara,a�? tuturnya.

a�?Baru tiga bulan suaminya di penjara, ia meminta mencabut laporan. Akhirnya setelah membuat surat keterangan untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi, suaminya tersebut pun dibebaskan,a�? sambungnya.

Beberapa kasus kekerasan lainnya terhadap perempuan juga diungkapkan Sutrisno. Para lelaki begitu mudah melakukan tindakan kekerasan terhadap perempuan. a�?Banyak, tapi semua kita upayakan dengan cara mediasi. Karena kan kalau suaminya dipenjara, nanti anak-anak yang jadi korban. Ini yang kita hindari sehingga kami carikan jalan tengah agar masalah bisa selesai dengan baik,a�? terangnya.

Dijelaskan, kebanyakan kasus kekerasan pada perempuan di Kota Mataram akibat minuman keras. Para lelaki biasa menikmati hiburan malam di kafe yang ada di wilayah Senggigi. Sepulang dari tempat hiburan tersebut, mereka dalam kondisi mabuk tak sadarkan diri. Inilah yang kemudian kerap memicu terjadinya pertengkaran dalam keluarga yang berujung kekerasan.

a�?Ini makanya dalam setiap kegiatan, kami selalu sosialisasikan kepada warga untuk menghindari hal seperti ini,a�? tegasnya saat ditemui di ruangannya.

Untuk itu, ia meminta bagi para ibu rumah tangga yang mengalami kekerasan untuk segera melapor ke BPPKB. a�?Silahkan melapor kalau memang merasa dianiaya. Kita akan jerat suaminya dengan undang-undang kekerasan dalam rumah tangga,a�? janjinya.

a�?Tapi ibu-ibu juga jangan terlalu cerewet terhadap suaminya. Karena itu juga bisa masuk dalam pelanggaran psikologis,a�? imbuh dia tersenyum.

Selain permasalahan kekerasan dalam rumah tangga, kasus pernikahan dini masih menjadi perhatian BPPKB. Dijelaskan, meski saat ini usia rata-rata perkawinan di Kota Mataram merupakan yang tertinggi di NTB, ia mengaku terus gencar mensosialisasikan program Generasi Berencana.

a�?Hasil penelitian rata-rata usia kawin Kota Mataram di atas 19 tahun. Ini tidak terlepas dari program sekolah wajib belajar 12 tahun. Sehingga tidak ada anak Kota Mataram yang menganggur. Kalaupun ada, itu hanya kasuistis, tidak tinggi,a�? akunya.

Hal ini senada dengan komentar salah seorang penghulu di KUA Kecamatan Sekarbela, M Taisir. Dijelaskan Taisir, dari tahun ke tahun trend pernikahan usia dini di Kota Mataram menurun.

a�?Kalau di kami tahun 2015 lalu hanya ada satu pasangan yang menikah di bawah usia 19. Itu pun yang cowok saja. Yang perempuan usianya 20,a�? jelasnya.

Namun, ada juga pasangan di bawah usia 19 tahun menikah di bawah tangan alias tanpa sepengetahuan KUA. Itu dikarenakan orang tua anak-anak tersebut tidak mau diarahkan untuk membuat dispensasi dari Pengadilan Agama.

a�?Padahal itu bisa kami buatkan administrasinya. Hanya tinggal meminta dispensasi pengadilan. Tapi mungkin orang tua masih takut mendengar kata pengadilan,a�? tuturnya.

Sementara itu, pihak Bimas Kemenag Kota Mataram yang coba dimintai data terkait jumlah pasangan usia dini yang menikah setiap tahunnya mengaku tidak memiliki. Padahal, dari penjelasan pihak KUA, semua data pernikahan di Kota Mataram telah diserahkan ke Kemenag Bidang Bimas. (ton/r6)

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost