Lombok Post
Kriminal

Penyeludup Gas Bersubsidi Jadi Tersangka

BARANG BUKTI : Dua terduga pelaku penyeludupan gas bersubsidi, AH dan BD memperlihatkan barang bukti seludupannya di hadapan wartawan di Mapolres Mataram, kemarin (8/8).

MATARAM – Terduga penyeludup gas bersubsidi dibekuk polisi di jalan Ahmad Yani Narmada Lombok Barat, Rabu (27/7). Dari kasus tersebut, polisi menetapkan supir berinisial BD dan pemilik gas subsidi berinisial AH sebagai tersangka.

Kasatreskrim Polres Mataram, AKP Haris Dinzah menjelaskan dari hasil pengungkapan kasus tersebut, polisi berhasil menyitan 400 tabung gas berukuran 3 kg.

TerbongkarnyaA� kasus itu jelas Haris berawal dari penangkapan sopir berinisial BD menggunakan mobil truk dengan nomor polisi DR 8784 AA di Narmada. Sepintas mobil tersebut hanya memuat air mineral. A�Namun, setelah dibongkar satu persatu isi barang tersebut. ternyata, terdapat ratusan gas elpijiA� yang diletakkan di bawah boks air mineral.

a�?Untuk mengelabui petugas, pelaku menutup gas dengan barang ekspedisi lain,a�? ujarnya.

Setelah diintrogasi oleh pihak kepolisian, gas elpiji itu rencananya akan dibawa ke A�Sumbawa. a�?Sumbawa masih menggunakan minyak tanah. Karena dikonversi, masyarakatnya sedikit demi sedikit beralih menggunakan gas,a�? jelasnya.

Setelah ditelusuri lebih dalam, polisi berhasil membekuk pemilik gas berinisial AH. Dihadapan penyidik, AH memang sudah mengakui bahwa gas tersebut A�miliknya.

Dari pengakuannya kata Haris, AH sudah menjalankan bisnis tersebut selama satu tahun lebih. Pria 50 tahun itu membeli gas tersebut di beberapa toko dengan harga Rp 15 ribu. Lalu, AH menjualnya dengan harga Rp 23 hingga Rp 25 ribu pertabung. Ia mengakum mengirim ke Sumbawa sekitar satu hingga dua kali seminggu. Sekali pengiriman itu bisa mencapai 400 hingga 500 tabung.

a�?Jadi, kalau ditotalkan, perbulan bisa mendapatkan untung hingga Rp 8 juta,a�? jelasnya.

Dari perbuatannya kata Haris, pelaku diancam dengan pasal 55 atau pasal 53 huruf b Undang-undang Nomor 22 Tahu 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Dengan ancaman hukuman empat tahun dan denda paling tinggi Rp 40 juta. (arl/r3)

Berita Lainnya

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Kejati NTB Selamatkan Uang Negara Rp 4 Miliar

Redaksi LombokPost

TNI Polri di NTB Tetap Solid

Redaksi LombokPost

Jalan Terjal Memburu Para Bandar

Redaksi LombokPost

Aksi Penjambret Terhenti Setelah Tiga Jam Beraksi

Redaksi LombokPost

Polda NTB Raih Hassan Wirajuda Award

Redaksi LombokPost

Kabur, Pasien RSJ Selagalas Gantung Diri

Redaksi LombokPost

Penyidik Siap Gelar Perkara Laporan Baiq Nuril

Redaksi LombokPost

Jaksa Tuntut Ringan Terdakwa Tapun

Redaksi LombokPost