Lombok Post
Giri Menang

Full Day School, Sudah Pasti Daerah Susah

Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid

GIRI MENANGA�– Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menasionalkan sistem full day school bagi pendidikan dasar (SD dan SMP) ditentang pemerintah daerah. Ide Menteri Muhadjir dinilai tak realistis.

Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid meminta agar Mendikbud menggelar kajian mendalam terlebih dahulu terkait program tersebut. Terutama dalam pembiayaan.

a�?Makan siang siswa ini juga harus dipikirkan. Apakah ini kewajiban orangtua atau pemerintah,a�? sebut Fauzan usai acara halal-bihalal dengan guru Kecamatan Lingsar, kemarin (9/8).

Jika pun itu menjadi kewajiban orangtua maka harus dipikirkan kondisi masyarakat. Program ini untuk apa, subtansinya apa, dan tujuannya apa.

Di Lobar sendiri sebut Fauzan, wacana Mendikbud dipastikan tak bisa diterapkan. Kondisi ekonomi masyarakat yang masih banyak di bawah garis kemiskinan jadi pangkal soal.

Selain itu, letak geografis daerah. Sekolah di Lobar tidak semua ditempuh dengan mudah. Ada siswa yang harus menyeberang laut untuk ke sekolah. a�?Kita ini punya banyak gili. Anak membutuhkan waktu untuk ke sekolah. Gimana kalau mereka pulang nantinya,a�? sebut Fauzan.

Mantan Ketua KPU NTB tersebut memastikan program ini tidak bisa diterapkan di semua sekolah meski niatnya baik. a�?Kalau kita susah ngapain kita paksakan,a�? tegasnya.

Program ini menurut Fauzan, hanya bisa dilakukan di sekolah-sekolah jantung kota. a�?Kalau di daerah ini kita agak sulit,a�?A� tambahnya lagi.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lobar H Ilham menambahkan, kalaupun hal itu diterapkan Mendikbud, daerah pasti akan mempertimbangkannya.

Ilham menuturkan, harus ada contoh dalam penerapan program ini. Seperti penerapan kurikulum 2013. Sistem full day school ini bisa diterapkan di beberapa sekolah sambil melakukan evaluasi. a�?Apakah hasilnya baik atau malah kacau,a�? ujarnya.

Ilham menilai program ini cocok untuk sekolah kota lantaran kesibukan orangtua A�bekerja sampai sore. a�?Kalau kita di desa rasanya sulit menerapkan program inia�? ujarnya.

Sementara pengamat pendidikan menilai rencana Mendikbud ini hanya akan menambah beban bagi siswa. Apalagi mata pelajaran mereka ini cukup tinggi. a�?Jangan sampai pendidikan ini diasumsikan pemaksaan,a�? kata pengamat Pendidikan Agus Mulyadi.

Selain itu lanjut Agus kesiapan sekolah. Apa yang akan dilakukan sekolah setelah jam formal usai. Apa ada kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) yang bisa diajarkan guru. Seperti tari, seni lukis, dan sebagainya. a�?Apakah guru memiliki life skill seperti ini. Guru sanggup tidak sampai sore hari mengajar,a�? imbuh Agus.

Agus menjelaskan, program Mendikbud ini harus ada pedoman. Usai jam formal aktivitas apa yang akan dilakukan sekolah. Tidak mungkin sampai sore siswa harus bergelut dengan mata pelajaran. Kalau pun memang ada pengembangan bakat dan minat atau ekskul maka harus diseragamkan di semua sekolah Indonesia. a�?Jangan sampai ini program yang tidak seragam,a�? sarannya.

Selain itu, program ini akan menjadi beban bagi guru. Selain mereka menjadi guru mata peajaran (mapel), mereka juga harus ditunjang memiliki life skill. a�?Ini harus dipikirkan,a�? ujarnya.

Dasar aturan Mendikbud juga harus dikaji. Kalau hanya terkait pengawasan anak di rumah karena wali murid berkantor sampai sore pasti bukan didasarkan kajian. Sebab, tidak semua wali murid bekerja sampai sore. Lebih-lebih di desa jarang ada orangtua menjadi pegawai yang pulang kerja sampai sore. a�?Jangan mementingkan sekelompok, terutama orang kota. Positif saja membangun pendidikan,a�? kata Agus mengingatkan.

Agus menuturkan, wacana Mendikbud jangan hanya bercermin di kota. Kalau kota bisa bayar langsung apa yang menjadi kebutuhan anaknya selama mengenyam pendidikan sampai sore. A�Sebaliknya kalau di desa. Apakah wali murid mampu. a�?Kajiannya agak komprehensif lah. Jangan lihat di kota saja,a�? pinta pria yang juga menjadi Dosen IKIP Mataram ini.

Agus mengatakan, jika program ini hanya untuk membentuk karakter tak harus dengan menambah jam belajar. Seperti mata pelajaran PPKN, Agama yang masuk dalam pembentukan karakter. Pembentukan karakter bisa juga disisipkan di mata pelajaran lain. a�?Tak harus ditambah jam. Indonesia ini tak semua wilayahnya kota. Kebijakannya kurang pas,a�? kata dia lagi.

Sementara itu salah seorang guru Nasrudin mengatakan, kebijakan Mendikbud ini kurang pas. Dimana, anak akan merasa capek jika belajar sampai sore. a�?Kalau seperti ini terkesan anak dipaksa,a�? ujarnya.

Bukan hanya itu, guru juga bingung dengan pola penambahan jam belajar pada program ini terkait materi disajikan kepada anak selain mata pelajaran. a�?Apakah kita harus menambah guru lagi,a�? kata dia.

Nasrudin meminta Mendikbud mengkaji ulang kembali apa yang diwacanakan tersebut. Jika hanya untuk pembentukan karakter, di NTB ini sudah banyak TPA (Taman Pendidikan Alquran). a�?Kalau sore sebagian besar anak mengaji,a�? ujarnya.

Polemik Panjang

Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) buka suara terkait ide Menteri Muhadjir. Ketua KPAI Asrorun Ni’am Sholeh meminta wacana tersebut dikaji kembali sebelum diimplementasiskan.

Banyak alasan yang mendasari permintaan kaji ulang tersebut. Pertama, tentunya soal kajian program full day school ini. Menurutnya, hingga kini belum ada kajian matang soal konsep pendidikan tersebut. Sehingga, bila langsung diterapkan dikhawatirkan justru merugikan anak.

Asrorun mengaku paham betul bila rencana kebijakan ini mencuat atas pertimbangan kondisi orang tua yang sibuk bekerja. Namun, menurutnya, hal itu tidak bisa digeneralisasikan hingga akhirnya harus merubah jadwal aktivitas anak. Karena, pada kenyataannya tidak semua orang tua bekerja di luar rumah.

Selain itu, penerapan suatu program sejatinya harus diikuti dengan perbaikan yang memadai. Bukan hanya dengan mengandangkan anak di sekolah tanpa perbaikan sistem pendidikan, yang menjadikan lingkungan sekolah ramah anak. Bila tidak, kebijakan ini malah akan menyebabkan potensi timbulnya kekerasan di lingkungan sekolah.

a�?Karenanya kebijakan pendidikan apalagi yang bersifat nasional tidak bisa didasarkan pengalaman orang perorang. Tidak boleh hanya berdasar kepada pengalaman pribadi. Selain itu, setiap anak memiliki kondisi berbeda-beda yang tidak bisa disamaratakan,a�? ujarnya di Jakarta, kemarin (9/8).

Kedua, terkait interaksi sosial anak. Menurutnya, menghabiskan waktu dengan durasi panjang di sekolah bisa jadi malah mengganggu intensitas interaksi anak. Bahkan, dikhawatirkan bisa berpengaruh dalam proses tumbuh kembang anak. Pasalnya, anak yang butuh interaksi dengan lingkungan rumah dan keluarga justru berada lebih lama di sekolah.

a�?Kondisi anak tidak bisa disamaratkan.Ddalam kondisi tertentu, anak jangan lama-lama di sekolah. Seperti anak kelas 1 SD, harus segera pulang agar cepat berinteraksi dengan orang tua,a�? ujarnya.

Diakui Asrorun, soal waktu belajar seharian di sekolah ini memang ada sisi positifnya. Pihaknya pun mendukung, asal ini tidak dipaksakan pada semua sekolah. Sehingga orang tua diberi keleluasaan untuk memilih.

a�?Intinya, untuk menjawab permasalahan anak, perbaikan kebijakan harus berporos pada anak,a�? tegasnya.

Sebelum adanya wacana dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, tekait penerapan Full days School. Ada beberapa sekolah yang memang sudah menerapkan sistem model ini. Diantaranya adalah Sekolah Mutiara Bunda yang terletak di kawasan Arcamanik, Bandung.A� Lala Tansah, kepala sekolah SMA Mutiara Bunda menyatakan sudah sejak berdiri, yaitu pada 2006, sekolah Mutiara Bunda menerapkan sistem full day.

a�?Sebetulnya konsep ini sudah dijalankan sejak dulu karena merasa bahwa dengan anak-anak berada lebih lama di sekolah bukan hanya transfer kurikulum tetapi juga pembangunan karakter,a�? ucapnya kemarin (9/8) kepada koran ini.

Lala mengatakan siswa untuk jenjang SMP dan SMA akan mulai pembelajaran dari pukul 08.00-15.00. sedangkan siswa SD dari kelas I-II, mulai dari pukul 08.00-13.30 dan kelas III-VI dari pukul 08.00-14.30. itu pembelajaran di kelas. Untuk ekskul, Lala menjelaskan ada tambahan di hari-hari tertentu. a�?Namun kami tidak lebih sampai jam 16.00. Kami berpikir anak-anak juga harus berinteraksi dengan orang tua,a�? ujarnya.

Selain itu, lanjut Lala, di SD, setelah mereka menyelesaikan kegiatan belajar mengajar (KBM), sekolah tidak akan banyak memberikan PR. Hal ini agar ketika di rumah siswa lebih banyak berinteraksi dengan keluarga. a�?Mungkin PR ada tapi kami pantau terus jumlahnya agar anak punya waktu untuk berinteraksi,a�? jelasnya.

Karena sudah sejak lama menjalankan full day school, Lala mengatakan tak masalah dengan anjuran mendikbud untuk menerapkan model full day. a�?Cuman untuk sekolah lain yang harus diperhatikan, dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) harus dipersiapkan SDM-nya agar ketika anak-anak full day di sekolah juga meaning full. Jangan sampai mereka berada di sekolah lebih lama tapi tidak berarti, kan sayang juga,a�? tandasnya.

Tak hanya Sekolah Mutiara Bunda, Sekolah Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang SelatanA� pun telah lama menerapkan model full day. Yaitu sejak 2006. a�?Kita mulai dari jam setengah 8 sampai sekitar jam 3A� dari Senin-Jumat itu untuk SD, SMP, SMA. Kalau Sabtu kita sampai pukul 11.35,a�? ucap Kepala sekola SMP dan SMA Kharisma Bangsa, Sutirto.

Menurut Sutirto dalam menerapkan sekolah model full day yang perlu diperhatikan adalah ketahanan siswa. Hal tersebut karena pada dasarnya, daya konsentrasi orang hanya sekitar 45 menit. a�?Jadi kami kalau di sekolah setiap 1 jam pelajaran itu sekitar 40-45 menit, siswa diberikan waktu istirahat 10-15 menit. Mereka bisa istirahat sejenak bisa ke kantin,a�? jelasnya.

Kepala SD full day Al Baitul Amien Jember Hizbullah Muhib mengapresiasi gagasan Mendikbud Muhadjir Effendy menerapkan sistem sekolah full day sebagai kebijakan pemerintah. Dia mengatakan sekolahannya siap mendukung kebijakan itu. Apalagi SD Al Baitul Amien sejak bidiri pada 1997 sudah menjalankan sistem full day.

Muhib menuturkan total siswa di SD Al Baitul Amien sekarang ada 811 anak dan jumlah gurunya mencapai 71 orang. Proses belajar anak-anak mulai kelas 1 SD berjalan sejak pukul 07.00 sampai 05.45. Setiap hari ada dua kali istirahat yakni pukul 10.00 dan pukul 11.30. a��a��Istirahat kedua dilanjutkan makan siang dan salat duhur. Start kembali pukul 13.00,a��a�� katanya kemarin.

Kunci dalam menerapkan sistem full day baginya adalah menghadirkan sekolah yang menyenangkan. Kemudian perpanjangan waktu itu juga digunakan untuk penekakan ibadah, membaca Alquran, dan pendidikan karakter. Kegiatan bisa di dalam sekolah atau di luar sekolah seperti di masjid.

Untuk bisa menghadirkan proses belajar yang menyenangkan itu, gurunya harus dibekali dengan kemampuan yang lebih. a��a��Setiap semester, guru-guru kami menjalani upgrading untuk meningkatkan kegiatan belajar dan mengajar,a��a�� jelasnya. Kemahiran guru dalam bercerita, bermain, dan bernyanyi, menjadi penunjang utama kesuksesan menjalankan full day.

Dia menuturkan respon mayarakat kota Jember terhadap sekolah full day cukup baik. Setiap tahun sekolahnya selalu kelebihan pendaftar sehingga ada yang terpaksa tidak diterima. Untuk mengakomodasi daya tampung SD Al Baitul Amien sampai membuka cabang di tempat lain. Selain itu di Jember sekarang juga tumbuh sekolah-sekolah full day lainnya.

Pakar Pendidikan Nasional Arief Rachman menyatakan, gagasan full day school yang dilontarkan Mendikbud itu bagus. Saat ini, sudah banyak sekolah yang menerapkannya. Para siswa pun pulang pada sore hari. Hal itu lebih baik daripada anak pulang siang hari. Mereka tidak ada kegiatan di rumah. Orang tua pun masih bekerja.

Jadi, banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah full day. Mereka merasa tenang, karena anak mereka berada di sekolah. Para siswa bisa mendapatkan berbagai pelajaran. Mereka juga aman dalam pengawasan para guru. Berbeda jika mereka sudah di rumah. Ketika orang tua bekerja, tidak ada orang yang mengawasi mereka.

Namun, kata Arief, ada lima hal yang harus diperhatikan sebelum konsep pendidikan itu diterapkan secara nasional. Yang pertama harus dibuat kesepakatan antara sekolah, siswa, orang tua siswa, guru, dan dinas pendidikan. Apakah mereka sepakat untuk menyelenggarakan pendidikan full day. Kesepakatan itu penting agar mereka mempunyai komitmen bersama untuk melaksanakan sistem tersebut.

Kedua, terkait dengan manajemen sekolah. Menurutnya, sekolah harus menyusun kurikulum yang bervariasi. Pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan. Banyak pilihan bagi siswa untuk belajar pelajaran yang mereka senangi. a�?Kalau tidak bervariasi, siswa akan bosan,a�? terangnya kemarin (9/8).

Sedangkan yang ketiga, fasilitas sekolah harus memadai. Seperti kantin, sehingga siswa dengan mudah mendapatkan makanan. Sekolah juga perlu menyiapkan tempat istirahat bagi siswa. Khususnya bagi siswa yang masik kelas 1 atau 2 sekolah dasar (SD). a�?Mereka kan lama di sekolah,a�? paparnya.

Keempat, sekolah harus mempunyai tata kelola keuangan dengan baik. Banyak biaya yang dibutuhkan. Harus ada perhitungan secara matang untuk mencukupi semua kebutuhkan. Dan yang kelima, sekolah harus bisa memberikan pembelajaran yang menyenangkan, sehingga bisa mencapai tujuan pendidikan.A� Yaitu, menyediakan pembelajaran dengan terencana yang bisa mengembangkan lima potensi. Potensi spiritual, emosional, intelektual, sosial, dan jasmani.

Arief mengatakan, sebelum diberlakukan, pemerintah perlu melakukan penelitian dan studi kelayakan. Daerah atau sekolah mana saja yang siap melaksanakan sistem full day school. Jadi, pemerintah tidak asal melaksanakannya. a�?Harus betul-betul cermat,a�? ungkapnya.A� Jika ada daerah yang belum siap dan belum membutuhkan, maka sistem itu tidak perlu dilaksanakan.

Pemerintah tidak boleh memaksakan sistem tersebut, karena tidak semua daerah siap melaksanaknnya. Membutuhkan fasilitas dan sarana yang lengkah untuk menyelenggarakan sistem full day. (jay/JPG/r10)

Berita Lainnya

Kemenag Belum Terima Edaran Terkait Kartu Nikah

Redaksi LombokPost

Harga Kedelai dan Kacang Tanah Melonjak

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Tiga Desa dan Dua Sekolah Diaudit Khusus

Redaksi LombokPost

PJU di PLTU Jeranjang Segera Dibangun

Redaksi LombokPost

Pemancing Diduga Hanyut di Perairan Labuan Poh

Redaksi LombokPost

Sinyal Mutasi Makin Menguat

Redaksi LombokPost

Sekolah Terdampak Gempa Belum Diperhatikan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Lebih Banyak Huntara

Redaksi LombokPost