Lombok Post
Sumbawa

Guru Ngaji Ini Paling Berjasa Antar Syifa Juara

BELAJAR NGAJI: Pendiri TPQ Az-Zahra Mustandarman Amanaf (kanan) sedang mengajarkan anak didiknya mengaji. TPQ inilah tempat Syifa Fadiyah Maulida belajar mengaji.

Pendiri TPQ Az-Zahra bisa dibilang orang paling berjasa atas keberhasilan Syifa Fadiyah Maulida di ajang MTQ Tingkat Nasional. Ia mengajar Syifa dari nol hingga tumbuh menjadi juara nasional.

***

SEORANG pria yang mengenakan kopiah putih berbaju kaos warna kuning kombinasi putih abu-abu berjalan begitu pelan. Ia menghampiri wartawan Radar Sumbawa (Lombok Post Group), yang belum lama menunggu di rumahnya. Ia pun menyapa dengan nada yang lembut.

a�?Sudah lama?,a�? tanya dia, kemarin (9/8).

Pria yang bercelana kain hitam itu ternyata Mustandarman Amanaf. Orang paling berjasa atas keberhasilan Syifa. Orang yang paling berperan atas harumnya nama Sumbawa dikancah Nasional.

Meski demikian, namanya nyaris tak terdengar. Di tengah publik yang ramai-ramaiA� memuji Syifa, guru ngaji ini pun jarang disebut.

Mustandarman inilah orang yang mendidik Syifa. Sejak Syifa masih duduk di bangku kelas II hingga kelas V sekolah dasar. Ia pula orang yang membina Syifa mulai dari nol. Hingga si bungsu dua bersaudara ini menjadi anak yang fasih membaca dan menghafal Al-Quran.

a�?Bangga anak murid berhasil. Tapi kalau saya, lomba urusan lain. Pesan saya, bisa membaca (Al-Quran) dengan baik itu yang paling utama,a�? pesan Mustandarman.

Sedikit diulas, bapak tiga anak ini mendirikan TPQ Az-Zahra tahun 2012 lalu. Itu setelah ia meninggalkan dunia Qori. Persis pasca ayahnya meninggal dunia beberapa tahun silam.

Awalnya, murid TPQ Az-Zahra hanya satu orang. Yakni Muhammad Ramadani Hadi Akbar. Peserta MTQ tingkat Nasional 2015 itu murid pertamanya.

Kabar keberhasilan Rama, begitu cepat menyebar. Seiring kabar tersebut, banyak masyarakat berdatangan yang ingin menitipkan anaknya di TPQ yang beralamatkan RT 01 RW 02, Kelurahan Samapuin itu.

Pada MTQ 2014 lalu, prestasi demi prestasi terukir. Muridnya sukses menjuarai cabang lomba tartil putra putri pada MTQ tingkat Kabupaten yang digelar di Maronge.

Tidak hanya itu, pada MTQ Kabupaten 2016 ini, ia kembali mengirim belasan muridnya. Mewakil 6 kecamatan. Kecamatan Sumbawa, Lantung, Moyo Hilir, Orong Telu, Batu Lante, dan Tarano.

Hebatnya lagi, tujuh diantaranya sukses menyabet gelar juara I dalam sejumlah cabang lomba. Seiring dengan ini, semakin bertambah pula peserta didik TPQ Az-Zahra. Saat ini tercatat 135 orang.

a�?Yang sudah ada 120 orang. Baru-baru ini ada tambahan daftar baru 15 orang,a�? kata suami Nuryanti ini.

Mengajar di TPQ ini sampingannya. Karena, ia juga mengajar sebagai guru kelas di SDN Kampas Sari, Moyo Hilir.

Bisa dibayangkan. Pagi ngajar di sekolah, siang ngajar di TPQ. Tak ada satu pun asisten yang membantunya. Ia terkadang lelah, terlebih ketika kurang sehat. Pekerjaan ini dilakoninya setiap hari.

Capek, sudah pasti. Tidak jarang Mustandarman jatuh sakit. Pernah sekali sepulang dari masjid, pria yang juga imam masjid itu terjatuh. Kondisi tubuhnya lemas. Ia pun terpaksa dibopong ke dalam rumah oleh tetangganya.

Meski demikian, ia tetap istiqomah. Niatnya untuk mengabdi dan menolong sesama itulah yang membuatnya tetap bersemangat.

a�?Saya ngajarnya sendiri. Ya sedikit kelabakan juga karena tidak ada yang bantu. Mau tolak yang mau ngaji di sini, saya nggak enak,a�? katanya.

a�?Bukan karena saya tidak mau ajar. Tapi karena saya tidak kuat ngajar sendiri. Dan tempatnya juga terbatas,a�? ujarnya.

Murid TPQ Az-Zahra selama ini ditampung di rumah panggung. Tepat di samping rumahnya. Rumah panggung itu berukuran sekitar 3×9 meter. Rumah itu terdiri dari satu ruang tamu, satu kamar, dan satu ruangan mirip bekas dapur.

Dari ukuran, mustahil bisa menampung ratusan orang dalam waktu bersamaan. Untuk menyiasati keterbatasan itu, Mustandarman harus pandai-pandai membuat jadwal jam mengaji. Murid yang terklasifikasi menjadi beberapa tingkatan itu, diajar secara bergiliran.

Iqra diajar dari Senin hingga Jumat. Begitu pula dengan tartil, tilawah, dan tahfiz. Mengajinya siang hari. Kendati demikian, tetap tidak cukup ruang. a�?Itu pun anak-anak masih berdesakan,a�? tuturnya.

Meski kondisi tak memungkinkan, pria berjanggut tipis itu berkeinginan kuat agar muridnya tidak hanya diajar membaca Al-Quran. Lebih dari itu. Ia ingin mengajarkan salat dan lainnya.

a�?Tapi tidak ada tempat. Saya berniat mau bangun rumah ini dua tingkat. Di atasnya tempat anak-anak belajar. Saya buat tangga di luar. Jadi tidak mengganggu kami di sini,a�? jelasnya.

a�?Jika nantinya sudah tidak ada lagi, TPQ ini bisa menjadi milik umum. Tapi sementara ini saya belum punya kemampuan untuk itu. Saya berharap suatu saat bisa terealisasi,a�? harap pria kelahiran 23 Maret 1976 ini, yang diiyakan Humas TPQ Az-Zahra, Syukri Idris. (JUSRIADI */r1)

Berita Lainnya

Dana Bantuan Korban Gempa Cair Pekan Ini

Redaksi LombokPost

Perpustakaan Cempi Jaya Banggakan Dompu

Redaksi LombokPost

Minyak Sumbawa Sangat Layak Menasional

Redaksi LombokPost

Puluhan Lampu Terpasang, Kota Bima Semakin Terang

Redaksi LombokPost

KPU Dompu Publikasikan Daftar Caleg Sementara

Redaksi LombokPost

Pelayanan RSUD Sumbawa Mulai Dibenahi

Jalan Teladan-Kelawis dan Batu Rotok Tuntas

Berkas SMKN Lunyuk Dikirim ke Kejaksaan

Istri Jadi TKW, GT Hamili Anak Kandungnya