Lombok Post
Metropolis

40 Persen Lahan Kota Diintai Investor

BPMP2T12222
PELAYANAN: Terlihat aktifitas pelayanan pemberian izin di BPMP2T Kota Mataram, untuk para pengusaha yang tertarik menanamkan modalnya di Kota Mataram, Kamis (11/8).

MATARAMA�– Kota Mataram kian sexy. Tumbuh besar, bak gadis cantik. Meski luasan wilayah daratannya relatif kecil, yakni sekitar 61,30 kilometer (km) persegi ditambah lautan 56,80 km, ketertarikan pemilik modal jumbo semakin tinggi membawa masuk duitnya ke Kota Mataram.

a�?Minat ivestor memang sangat tinggi,a�? tutur Kepala Dinas Tata Kota Mataram, HL Junaidi.

Mereka berlomba-lomba. Menjejali wajah kota dengan ragam pembangunan dan usaha. Utamanya sektor pelayanan dan jasa. Hotel, restoran, transportasi, tempat hiburan hingga pusat-pusat perbelanjaan kelas elit.

Banyaknya investasi yang masuk ke Kota Mataram, telah membuat konsep Perda RTRW yang ada sebelumnya, harus segera direvisi. Ini demi mengakomodir para pemilik duit (baca: investor).

a�?Karena ini berkonsep kota, maka barang dan jasa menjadi sektor yang paling besar potensinya untuk dikelola. Kita memang perlu melakukan revisi (perda RTRW), agar kita lebih lues, menata zonasi pembangunan,a�? terangnya.

Dari luasan kota Mataram yang disebutkan tadi, lanjut Junaidi, lahan yang sudah terbangun di kota, dari rumah hingga perhotelan ditaksir 30 persen. Atau setara dengan 18,3 km persegi.

Artinya, masih ada sisa 70 persen lahan Kota Mataram yang masih berupa lahan kosong. a�?Tapi ingat, 70 persen itu juga mencakup kebutuhan kita akan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang idealnya 30 persen peruntukannya,a�? ulasnya.

Jadi masih ada 40 persen lahan kosong atau dalam istilah Tata Kota, wilayah yang bisa dibudidayakan untuk berbagai hal pembangunan. Termasuk investasi. Angka 40 persen itu, setara dengan 42 km persegi. Angka yang cukup besar untuk lahan investasi, jika Tata Kota, bisa mengutak-atik pengaturan RTRW agar pembangunan lebih tertata rapi.

a�?Sekitar 40 persen itu, lahan yang masih bisa dibudidayakan kalau dalam istilah kami (Dinas Tata Kota),a�? ungkapnya.

Angka 40 persen ini memang tidak berada disatu tempat. Tetapi berada dalam potongan-potongan puzzle yang tersebar di berbagai kota Mataram. Jadi, memang cukup logis pemerintah ngotot, ajukan revisi perda RTRW demi lahan 24 km persegi yang tercecer di berbagai sudut kota itu.

a�?Ini (revisi perda RTRW) memang suatu keharusan, untuk terus meningkatkan akselerasi pembangunan kota. 40 persen, wilayah yang cukup besar, nilai investasinya BPMP2T yang lebih persis mengetahuinya,a�? jelasnya.

Memang sulit menakar nilai investasi yang bisa dihasilkan dari luas wilayah itu, jika memang bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk lahan para pemilik modal berinvestasi. Namun, jika melihat harga tanah perkotaan yang sudah pasti semakin mahal kedepannya.A� Belum lagi dipengaruhi persaingan para pemilik modal menggaet izin investasi, ditaksir guyuran investasi mencapai ratusan triliun.

a�?Satu contoh investasi di Kota Mataram ini sangat tinggi peminatnya, kemarin ada sekitar 15 pengembang kita tolak, karena lahan tempat yang diajukan untuk pembangunan ternyata tidak sesuai peruntukannya,a�? bebernya.

Karena itu, revisi perda RTRW menjadi sangat mendesak. Sebab di lain sisi, Kota Mataram sudah dituntut secepatnya memiliki bangunan rumah layak huni untuk masyarakat perkotaan. Baik yang disedikan oleh para pengembang atau yang diusahakan sendiri.

a�?Kita butuh 20 ribuan, rumah untuk menampung masyarakat perkotaan yang terus bertambah. Jika tidak segera diatur sedemikan rupa, nanti bisa lebih semrawut lagi,a�? ulasnya.

Meski demikian, ia mengakui semangat revisi perda RTRW memang tak bisa menafikan, keharusan lahan berkelanjutan dan RTH. Karena itu, saat ini pembahasan revisi perda RTRW masih terus dilakukan agar benar-benar dapat mengakomodir semangat pembangunan, ruang terbuka hijau dan lahan berkelanjutan.

Terpisah, Kepala BPMP2T Kota Mataram, Cokorda Sudira Muliarsa, sebelumnya mengungkapkan selama dirinya menjabat, nilai investasi sejak tahun 2014 sampai juni 2016, tercatat mencapai 14,8 Triliun. Angka ini diperkirakan masuk dalam 30 persen lahan perkotaan yang sudah dibangun.

a�?Saya belum menghitung kira-kira berapa rasionalisasi tenaga kerja yang bisa diserap dengan investasi sebesar itu,a�? tuturnya.

Investasi itu berdampak besar dalam menggairahkan perekonomian masyarakat dan pendapatan kota. Setidaknya merangsang masyarakat untuk berkreatifitas dan memanfaatkan momen kebangkitan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan mereka. Sayangnya, belum ada data pasti yang dirilis BPMP2T terhadap potensi 40 persen lahan yang dapat dibudidayakan, untuk besarnya investasi yang diprediksi masuk ke Kota Mataram.(cr-zad/r6)

Berita Lainnya

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost