Lombok Post
Metropolis

Punya 30 Cucu, Anak Patungan Buat Ongkos Naik Haji

BOK HAJI2-SIR
NAIK HAJI: Fatmah (tengah) bersama cucu dan anak sulung Muhammad Haitami (kiri) di rumahnya di Karang Seme, Kelurahan Karang Pule Sekarbela.

Berprofesi sebagai penjual sayur di pasar. Fatmah, 88 tahun tidak pernah menyangka akan bisa naik haji. Tahun ini, ia tercatat sebagai salah satu jamaah calon haji (JHC) tertua dari Kota Mataram yang akan berangkat ke tanah suci.A�A�A�A�A�

***

FOTO Papuq Fatmah terpampang di salah satu gang di Lingkungan Karang Seme Kelurahan Karang Pule, Sekarbela. Isinya ucapan selamat dan doa untuk Fatmah yang akan berangkat haji tahun ini. Untuk sampai di rumahnya, gang-gang sempit harus dilalui.

Saat Lombok Post berkunjung, rumah Fatmah siang nampak ramai oleh warga yang sibuk memasak. Persiapan acara syukuran haji.

Mengenakan pakaian serba putih, Papuq Fatmah berjalan pelan keluar dari kamarnya. Di rumah ini, ia tidak sendiri, beberapa orang anak kecil keluar masuk berlarian, juga terlihat anak dan menantu yang tinggal di rumah itu. Maklum, Fatmah memiliki 16 anak menantu dengan 30 orang cucu.

Anak dan cucu inilah yang menjadi kekayaan tak ternilai seorang Fatmah. Tidak henti-hentinya ia mengucap rasa syukur dikaruniakan anak dan cucu yang banyak. Terkenang olehnya bagaimana anak-anaknya itu dulu ia kandung, timang dan membesarkan dengan penuh kasih sayang. Kini setelah dewasa, anak-anak itulah yang membukakan jalan baginya untuk haji.

Jika dihitung, penghasilannya tidak seberapa sebagai penjual sayur di pasar. Dengan modal Rp 60 ribu, ia kadang menjual sayur bisa dan pisang ke pasar, kadang dagangan laku semua, tapi kadang juga tidak habis dijual.

Tapi Fatmah membuktikan, harta bukan segala-galanya, dengan jalan kasih sayang dan kesabaran Fatmah bisa naik haji. Tanpa diminta, delapan orang anaknya itu patungan untuk membiayai sang ibu agar bisa naik haji. Dengan jalan itulah ia kini bisa naik haji.

a�?Syukur alhamdulillah, dan saya selalu doakan yang terbaik bagi mereka,a�? katanya berharap agar anak-anaknya tetap rukun.

Muhammad Haitami, anak sulungnya menuturkan, bersama saudaranya yang lain ia mengumpulkan sedikit demi sedikit uang agar sang ibu bisa naik haji. Meski kehidupan mereka pas-pasan, tapi dengan susah payah akhirnya bisa mengumpulkan uang. Saat itu uang pertama yang terkumpul sebanyak Rp 25,5 juta.

Sayang, uang itu ternyata belum cukup untuk melunasi ongkos haji. Masih butuh tambahan Rp 15 juta lagi. Demi sang ibu, Muhammad Haitami akhirnya memilih bekerja menjadi TKI ke Malaysia. Dari hasil kerja kerasnya sebagai buruh bangunan itu, sedikit demi sedikit ia kumpulkan uang. Setiap bulan ia sisihkan Rp 500 ribu untuk tabungan haji sang ibu. a�?Dari dulu kami ingin melihat ibu bisa naik haji,a�? katanya.

Baginya, hal ini dilakukan sebagai bentuk bakti anak kepada orang tuanya. Dibandingkan dengan kasih sayang yang telah diberikan, ongkos naik haji yang mereka kumpulkan belum seberapa. Tidak akan pernah cukup untuk membayar besarnya kasih sayang kedua orang tua. (Sirtupillaili/Mataram/r6)

Berita Lainnya

Pemkot Optimis Semua Formasi Terisi

Redaksi LombokPost

Lahan Belum Beres, Pemkot Usulkan Rusunawa Nelayan

Redaksi LombokPost

Bukan Gertak Sambal! Ormas Ancam Turun Tertibkan Tempat Maksiat

Redaksi LombokPost

Lima Spa Abal-Abal Ditertibkan

Redaksi Lombok Post

Bunuh Diri kok Hobi

Redaksi Lombok Post

Situs Tua Ambruk Lagi

Redaksi Lombok Post

Dua Kafe Siapkan Wanita Penghibur

Redaksi Lombok Post

Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi

Redaksi Lombok Post

Bukan Tidak Tahu, tapi Malas Patuh!

Redaksi LombokPost