Lombok Post
Metropolis

Makan Sekali Sehari, Dua Cucu Gizi Buruk

DUDUK BENGONG : Rusnah (tengah) bersama cucunya Reni (kiri) dan Rani (kanan) duduk di gubuk mereka karena pasir di Sungai Jangkuk sudah habis, Jumat (12/8).

Ini sisi lain wajah Kota Mataram. Di jantung kota masih banyak warga yang kekurangan. Salah satunya para pencari pasir di muara Sungai Jangkuk.

***

RUSNAH memincingkan mata. Memandang jauh, kosong menembus jalan kota. Entah mengapa matahari terasa lebih terik. Ia dan dua cucunya memilih tetap berteduh di sebuah gubuk kecil tak jauh dari Jembatan Layang, Karang Baru. Tepat di bawah jembatan itu, mengular panjang Sungai Jangkuk hingga ke tepi muara Pantai Ampenan.

a�?Ndak ada pasir,a�? Jawab Rusnah, pasrah. Wanita berusia 60 tahun itu, terlihat sangat tua melebihi umurnya.

Rusnah lupa. Entah berapa lama ia bersahabat dengan sungai itu. Ia cuma ingat, mulai melakoni pekerjaan pencari pasir, sejak masih gadis. Dulu, Rusnah pernah berharap. suami atau paling tidak anak-anaknya kelak bisa merubah takdirnya. Bisa tua dan bahagia di rumah yang kokoh dan tak sehoror saat ini. Tapi, mimpi itu lenyap.

a�?Sekarang yang penting kami bisa makan,a�? jawab dia.

Rusnah punya anak semata wayang. Miskudin, namanya. Anaknya lalu menikah dan punya tiga buah hati. Sedihnya, anak sulung Miskudin, Nurul Haerani atau Rani dan putri bungsunya, Reni Rusmini atau Reni, menderita gizi buruk. Tubuh mereka kurus. Tak hanya itu, Rani mengalami ganguan di telinga dan suara.

a�?Dia cuma bisa bilang, takut dan tertawa,a�? tuturnya.

Reni kondisinya tak lebih baik. Gadis paling bungsu ini, memang tak tuli. Tapi, dia sudah tak mampu berjalan. Ia tumbuh menjadi gadis pemurung. Kedua kakinya, lemas seperti tanpa tulang. Sebuah handphone berwarna putih, pemberian orang Sumbawa yang iba dengan keadaan mereka, tak pernah jauh dari telinga gadis kecil itu.

Aroma tubuh mereka amis. Barangkali, karena sudah terlalu sering berendam di sungai dengan air kotor. Mereka memang, bisa seharian penuh ada di sungai. Mengeruk pasir dari pagi hingga sore hari.

a�?Bisa terkumpul sampai setengah cikar (gerobak cidomo), dijual dengan harga Rp 15 ribu,a�? ungkap dia.

Tapi sekarang tidak seperti hari-hari kemarin. Pasir semakin sulit didapat. Dalam satu minggu, Rusnah hanya bisa menjual dua kali ukuran setengah gerobak cidomo. Di tengah harga kebutuhan bahan pokok, meroket setinggi langit, Rusnah hanya mampu mengumpulkan Rp 30 ribu dalam satu minggu.

Tiba-tiba, wajah wanita tua itu, bergetar. Matanya memerah. ia tak bisa menahan sedih. Ia menangis dengan keadaan dirinya dan cucu-cucunya. Ayah cucunya ini, hanya buruh kasar di Terminal Mandalika. Sementara, ibu kedua anak itu, sudah lama meninggal. Kecelakaan di Pusuk, Kabupaten Lombok Utara.

Reni dan Rani punya saudara laki-laki. Randi Pasa, namanya. Randi lebih beruntung. Tak seperti dua saudaranya, ia lahir sehat tanpa cacat. Rusnah pun mengaku, menaruh harapan besar pada Randi. Kelak bisa sukses. Itulah satu-satunya sisa harapan dan alasan mereka mau bekerja keras siang malam. Agar Randi bisa lulus sekolah dan bekerja yang layak.

a�?Kalau dia belum pulang, kami belum mau makan. Pokoknya, walau sedikit makanannya yang penting semua dapat,a�? jawab Rusnah yang mengaku belum mengajak dua cucunya makan siang.

Mereka memang orang-orang yang sangat sabar, jika soal makanan. Sehari, cukup sekali. tapi kalau beruntung, bisa dua kali. Keluarga yang mengaku berasal dari Karang Mas-Mas ini, keadaanya memang membuat banyak hati, tersentuh. Meski tak bisa berbuat banyak, orang yang lalu lalang di disekitar itu, kerap menyumbang ala kadarnya.

a�?Oh, gamaq datu, lamun araq jaq dengan periak ye saq beng tiang nasiq (Aduh pak, kalau ada orang yang berbelas kasih, mereka yang memberikan kami nasi),a�? kata Rusnah penuh iba.

Di tengah perbincangan, seorang pria dengan rambut nyaris memutih semua, datang. Dialah, Miskudin. Ayah dari dua cucu Rusnah. Wajahnya letih. Jelas terlihat, ia tengah memikirkan persoalan berat. Tapi, tiba-tiba Rusnah dan Miskudin, berpelukan. Lalu menangis tersedu-sedu.

a�?Nggih pak (saya kerja kuli di terminal),a�? jawab Miskudin, menjawab pertanyaan Lombok Post. Hatinya, berangsur-angsur tenang.

Miskudin mengaku letih. Keadaan membuat ia hampir putus asa, bisa menyenangkan hati anak-anaknya. Sampai saat ini, Miskudin masih menyimpan harapan, kelak akan datang uluran tangan pemerintah atau kaum dermawan. Membantu dia mempernaiki rumah tempat tinggal ia dan keluaganya.

a�?Rumah tempat kami tinggal memang sudah sangat buruk. Coba lihat sendiri. Atapnya sewaktu-waktu bisa rubuh dan mengubur kami,a�? ungkapnya.

Sementara itu, Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh mengaku sudah mendengar kisah keluarga kuli pasir itu. Ahyar bahkan meminta camat setempat untuk mendata mereka.

a�?Kita lihat dulu, data mereka,a�? jawab Ahyar singkat, sambil menghubungi nomor ponsel pejabat kecamatan. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r4)

Berita Lainnya

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Pol PP Mengeluh Lagi

Redaksi LombokPost

Evi: Kasihan Pak Sudenom

Redaksi LombokPost

Yang Lolos TKD Jangan Senang Dulu!

Redaksi LombokPost

Sekolah Sesak, ABK Terdesak

Redaksi LombokPost

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost