Lombok Post
Metropolis

Pernah Jadi Loper Koran Demi Bisa Sekolah

boks
AKP Supriyonno Brimob POLDA NTB.

Niat yang baik jika diikuti dengan tekad yang kuat, membuat apapun yang diinginkan pasti akan terwujud. AKP Supriyono, telah membuktikannya.

***

DITEMUI di rumahnya di kawasan Perumahan anggota Brimob POLDA NTB, Jalan Energi Ampenan, AKP Supriyono menyambut hangat kedatangan wartawan Lombok Post. Di lokasi halaman rumahnya terlihat berjejer sejumlah kendaraan motor hingga mobil.

a�?Ini kendaraan teman-teman. Mereka memang biasa nongkrong ke sini hingga larut malam,a�? sambutnya ramah.

Kondisi kediamannya cukup terang. Di sekitar tempat biasa ia menerima tamu, ada kolam yang terdapat ikan hias. Gemericik air dari kolam tersebut membuat tamu bakal merasa kerasan dan betah berada di sana.

AKP Supriyono atau yang akrab disapa pak Pri adalah salah satu dari sekian banyaknya talenta Brimob POLDA NTB. Awal perkenalannya dengan wartawan Lombok Post, ia merupakan salah satu penembak yang memiliki akurasi luar biasa. Itu dapat dilihat ketika ia beberapa kali mengikuti kejuaraan menembak yang digelar TNI-POLRI hingga Perbakin NTB.

Namun, siapa sangka lebih dari itu, pria rendah hati ini meruapakan peraih nilai akademik tertinggi se-Indonesia dalam Sekolah Calon Perwira (Secapa) yang diikutinya. Meskipun, ia sempat malu-malu mengungkapkan prestasi yang cukup membanggakan bagi kepolisian NTB tersebut.

a�?Takut nanti dinilai riya,a�? ungkapnya tersenyum malu. Namun, diyakinkan wartawan Lombok Post bahwa hal ini untk memotovasi anggota kepolisian yang lainnya, ia pun akhirnya mau prestasi yang diraihnya ini diekspose.

Itu merupakan prestasi tertinggi yang diraihnya dalam Sekolah Calon Perwira (Secapa) 2009. Di mana pada angkatannya tersebut, menjadi wakil POLDA NTB yang meraih nilai akademik tertinggi. Itu tidak terlepas dari kemampuan akademiknya yang dirasakannya sebagai anugerah dari sang pencipta.

Sejak masih duduk di bangku sekolah, AKP Supriyono memang terbilang cukup berprestasi. Ia selalu berhasil meraih juara kisaran tiga besar. Sejak duduk di bangku SD hingga SMA. Yang lebih menarik lagi, sejak masih SD ia sudah merasakan pelajaran tentang pahitnya kehidupan. Di mana sebagai anak seorang buruh, ia harus mebantu keuda orang tuanya bekerja. Sekadar untuk menambah uang makan sehari-hari hingga biaya kebutuhan pendidikannya.

a�?Dari SD saya dulu jadi loper koran. Saya juga kadang jualan di terminal hingga di dalam angkutan bus. Makanya saya banyak kenal juga sama wartawan dulu,a�? ungkapnya kepada Lombok Post ramah.

Menginjak bangku SMA, ia menekuni berbagai pekerjaan lainnya. Mulai dari tukang becak hingga tukang ojek. Semua dilakoninya hanya untuk mempertahankan pendidikannya. a�?Yang penting tetap bisa sekolah saja apapun pekerjaan dulu saya lakukan,a�? tuturnya.

Saat di SMA, ia juga aktif dalam kegiatan ektrakurikuler. Misalnya Pramuka. Dari sana pula jalannya menuju anggota Brimob Polda NTB dimulai. Dalam kegiatan Saka Bhayangkara bekerjasama dengan pihak kepolisian, ia melihat sosok anggota polisi begitu mengagumkan. Dari sanalah muncul niatnya bahwa ia ingin menjadi seorang anggota kepolisian.

a�?Saya tanamkan dalam diri saya bahwa saya bisa. Saya haya minta doa orang tua saya dan entah kenapa saya merasa sangat yakin akan bisa seperti sekarang ini,a�? bebernya.

Semua khayalan Supriyono menjadi nyata. Apa yang dicita-citakannya semua terwujud. Dari sana ia pun tidak pernah meragukan kekuatan akan keyakinan. a�?Niat yang baik dibantu dengan doa orang tua, yakin saja apapun itu pasti akan terwujud,a�? jelasnya.

Pak Pri, sapaannya sudah mulai bertugas di POLDA NTB Sejak tahun 1997. Pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 1 Februari 1977 ini mengungkapkan sudah banyak hal yang telah ia lalui di NTB khususnya di Mataram. Karena, sejak menjadi anggota Brimob, tugas pertamanya hingga saat ini adalah di POLDA NTB.

Mulai dari aksi perlawanan terhadap teror, mengamankan aksi demo, upaya rescue atau penyelamatan warga korban bencana hingga mengantisipasi tindakan kerusuhan telah dialaminya. Ia menceritakan, saat bertugas di lapangan, ia kerap mendapatkan aksi tidak sepantasnya. Sebagai aparat keamanan tak jarang mendapat perlakuan yang kurang baik dari masyarakat.

a�?Kalau sudah orang demo itu, kami dilempar pakai batu, bahkan sampai diludahi. Kalau sumpah serapah sudah tidak terhitung lagi,a�? kenangnya sambil tertawa lebar.

Yang paling tak terlupakan menurutnya yakni kerusuhan yang terjadi sekitar tahun 2000. Di mana suasana di Kota Mataram saat itu menurutnya sangat mencekam.

a�?Pada saat itu sekitar tiga hari warga kami ungsikan di markas Brimob. Aktivitas di kota lumpuh dan warga resah. Di sana kami harus menjalani tugas pengamanan sangat ekstra, bahkan kami juga memasak untuk warga,a�? ingtanya.

a�?Sekali memasak sekitar 30 kilo beras,a�? imbuhnya.

Di saat seperti itu, ia merasa kedekatan dengan masyarakat begitu terasa. Semua bahu membahu berkerja keras siang dan malam untuk menjaga masyarakat.

a�?Bahkan, kami sampai tidak mandi selama tiga hari. Baju di bolak-balik saja, suasana saat itu memang benar-benar mencekam,a�? tuturnya.

Namun, ia bersyukur sejak saat itu situasi di Kota Mataram maupun di NTB jauh lebih kondusif. Sehingga, aktivitas pembangunan saat ini terus tumbuh dan berkembang pesat. a�?Saya melhat warga NTB khususnya Kota Mataram saat ini sudah memiliki pola pikir cukup bagus. Pemahaman tentang menegakkan aturan hukum dan undang-undang sudah sangat baik,a�? jelasnya.

Inilah yang membuat ia sangat merasa senang tinggal di Mataram bersama anak dan keluarganya. a�?Untuk menjaga situasi seperti sekarang ini semua pihak harus bahu membahu bersama-sama. Karena kalau kondusifitas sudah terjaga baik, pembangunan dalam hal apapun akan bisa kita lakukan,a�? tandasnya. (Hamdani Wathoni/Mataram/r4)

Berita Lainnya

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Pol PP Mengeluh Lagi

Redaksi LombokPost

Evi: Kasihan Pak Sudenom

Redaksi LombokPost

Yang Lolos TKD Jangan Senang Dulu!

Redaksi LombokPost

Sekolah Sesak, ABK Terdesak

Redaksi LombokPost