Lombok Post
Headline Praya

Petani Dilarang Tanam Padi

IRIGASI INDUK: Inilah irigasi induk yang dimiliki warga Dusun Ketapang Desa Penujak, Praya Barat Lombok Tengah, beberapa waktu lalu.

PRAYA – Bidang Pengairan, Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan ESDM Lombok Tengah (Loteng) mengingatkan, agar petani di wilayah Pujut dan Praya Barat, tidak menanam padi musim tanam ini. Karena, irigasi induk di Dusun Ketapang, Desa Penujak mulai menyusut.

a�?Tolong dipatuhi saja jadwal pola tanamnya, yaitu padi, palawija-palawija,a�? kata Kabid Pengairan Dinas PU dan ESDM Loteng Mohamad Amir Aly pada Lombok Post, kemarin (14/8).

a�?Kecuali, ada kekuasaan Allah, dengan diturunkannya hujan terus menerus, maka silahkan saja disesuaikan,a�? lanjut Amir.

Irigasi induk yang dibangun disepanjang Desa Penujak itu, kata Amir mampu mengairi lahan pertanian di seluruh desa di Praya Barat dan sebagian Pujut. Sumber airnya, diperoleh dari bendungan Batujai, itu pun disesuaikan dengan debit air yang ada. Karena, bendungan terbesar di Loteng itu juga, dimanfaatkan olah para petani lain, termasuk pengolahan air bersih PDAM.

a�?Beberapa kali, warga Desa Penujak dan sekitarnya mengusulkan agar, kami membangun mesin penyedot air di bendungan Batujai,a�? katanya.

Dengan begitu, kata Amir irigasi induk yang dimiliki warga teraliri, mereka pun bisa menggunakan pola tanam padi-padi, palawija. Hanya saja, keinginan warga yang dimaksud, tidak mungkin direalisasikan. Alasannya, melanggar aturan pembagian jatah air, ditambah debit air di Bendungan Batujai tidak stabil.

Jika dimusim kemarau, bendungan Batujai menyusut. Begitu pula sebaliknya. Ketinggian air dalam posisi normal, kata Amir mencapai 89,00 meter. Jika posisinya 87,00 meter, maka petugas bendungan terpaksa menutup pintu air ke seluruh irigasi pertanian. Apa pun alasannya, air tidak boleh lagi dikeluarkan.

Irigasi induk di Dusun Ketapang, Desa Penujak sendiri, tambah Amir merupakan satu dari sekian banyak irigasi pertanian yang dimiliki pemerintah. Bedanya, fisik irigasi tersebut lebih tinggi, dari fisik bendungan Batujai. Sehingga, air hanya bisa mengalir posisi debit tertentu saja.

Namun lagi-lagi, tekan Amir tidak ada solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Kecuali, mengikuti jadwal pola tanam, atau menunggu pembangunan Dam Mujur. a�?Begitulah kondisinya, jangan paksakan melanggar pola tanam. Itu saja,a�? serunya.

Ia pun mengingatkan, agar Dinas Pertanian dan Perternakan (Dispertanak), serta Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian (BKP3) Loteng, gencar melakukan sosialisasi kepada para petani. Jika tidak, justru petani merugi karena berani melanggar pola tanam.

a�?Kalau pada pola tanam pertama, air irigasi induk ini melimpah ruah, kami pun senang. Tapi, kalau kedua dan ketiga, kering,a�? sambung salah satu petani desa setempat H Amir, singkat.(dss/r3)

Berita Lainnya

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Garbi Bakal Gembosi PKS?

Redaksi LombokPost