Lombok Post
Kriminal

Membahayakan Jiwa Tapi Tak Bisa Dipidana

TEWAS : Salah satu keluarga korban pembacokan oleh ibu kandung, menunggu jenazah di mobil ambulan di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB beberapa waktu lalu.

Para pengidap gangguan jiwa bisa menebar ancaman. Kasus pembunuhan anak kandung di Tanak Beak, Narmada, Lombok Barat beberapa waktu lalu contohnya. Betapa tidak dalam kondisi a�?tak sadara�? seorang ibu membunuh darah dagingnya.

***

Saenah, bocah perempuan itu kini sudah berpulang. Nyawanya melayang setelah berjuang untuk pulih dari sejumlah luka akibat sayatan dan tusukan benda tajam di tubuhnya.

Sementara Rabiah, 38 tahun, ibu sekaligus pelaku pembunuhanA� hanya tertunduk terdiam. Ia, tersadar dan terkulai lemas melihat anaknya bersimbah darah. Batin Rabiah semakin terpukul setelah semua bukti mengarah pada dirinya. Dia telah menganiaya anak kesayangannya.

Psikolog LPA NTB, Rias yang ikut menangani kasus tersebut mengatakan, dari hasilA� pengamatannya secara garis besar Rabiah membunuh anaknya diduga karena ada ganguan jiwa. Hal itu dapat dilihat dari depresi berat yang dideritanya. Konon ini dipicu masalah dalam rumah tangganya sejak lama.A� Rabiah diduga mulai menderita deperesi berat setelah melahirkan anak pertama.

a�?Itu semua berlanjut hingga kelahiran ke empat,a�? jelasnya.

Kondisi ini semakin memburuk setelah suami Rabiah meninggal dunia. Hal ini membuat beban keluarga seluruhnya berada di pundak Rabiah. Ia, menjadi tertutup dan kondisi kesehatan jiwanya memburuk.

A�a�?Tidak ada yang pernah menduga Rabiah akan berbuat seperti itu. Karena, Rabiah dikenal sangat penyayang kepada anak-anaknya,a�? terangnya.

Dari hasil wawancara Rias dengan Rabiah diketahui jika Ibu empat orang anak itu mengaku tidak sadar saat membunuh anaknya. Dia mengaku A�sadar saat melihat anaknya berlumuran darah.

a�?Saat itu, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi,a�? terangnya.

a�?Saya ajak ngomong, dia mengakui perbuatannya,a�? ungkapnya.

Rias mengatakan, untuk mengatakan Rabiah memang benar-benar mengalami gangguan jiwa (gila) itu adalah dokter jiwa. Karena, bidang keilmuan yang ia miliki sangat berbeda dengan dokter jiwa.

a�?Nanti pihak rumah sakit jiwa yang menentukan apakah memang dia gila atau tidak,a�? ungkapnya.

Sementara itu, Kasat reskrim Polres Mataram AKP Haris Dinzah mengaku sampai saat ini, pihaknya belumA� menerima laporan perkembangan terakhir Rabiah. Karena pihak rumah sakit menjanjikan hasil A�dalam 14 hari.

a�?Kita belum bisa melakukan penyelidikan lebih lanjut. Karena pelaku masih dirawat diruang isolasi RSJ,a�? jelasnya.

Haris menegaskan pihaknya belum dapat memastika penyebab pembunuhan tersebut. a�?Latar belakang dan modusnya dia membunuh anaknya itu belum diketahui,a�? ungkapnya.

Pihaknya akan melakukan penyelidikan setelah mendapatkan kejelasan kondisi pelaku. Jika nantinya dokter menetapkan bahwa pelaku tidak gila. Maka pihaknya akan melanjutkan penyelidikan terhadap kasus tersebut.

a�?Nanti kita periksa dokter, psikolog dan saksi lainnya,a�? jelasnya.

Terkait kasus seperti ini, ahli hukum pidana Fakultas Hukum Universitas Mataram, Dr. Lubis, SH, MH menjelaskan, seseorang yang tidak mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya tidak dapat dihukum. Hal itu sesuai dalam pasal 44 KUHP .

a�?Orang tidak dapat dipidana karena dalam keadaan sakit jiwa (gila).Meskipun nantinya pelaku tersebut sudah diobati,a�? ungkapnya.

Lubis menegaskan, yang menjadi titik tekannya itu terdapat pada tindak pidana. Apakah pelaku dalam melakukan tindak pidana itu dalam keadaan sadar atau tidak. Jika dalam keadaan gila, pelaku tersebut tidak dapat dijerat hukum. Meskipun pelaku tersebut sudah sembuh dari pengobatannya.

a�?pelaku yang gila itu nantinya bisa bebas,a�? jelasnya.

Artinya lanjut Lubis, untuk mengusut kasus tersebut polisi harus melihat unsur hukumnya dengan jelas. Buktikan apakah pelaku itu memang benar-benar gila atau tidak.

a�?Yang dapat memberikan keterangan itu dokter jiwa,a�? jelasnya.

Terpisah bidang divisi hukum Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Joko Jumadi sangat menyayangkan peristiwa itu terjadi. Saat ini pihaknya melakukan penanganan penyembuhan trauma kepada kakak korban, yang masih duduk di bangku SD. Dimana, kakaknya itu juga melihat Saenah dibunuh oleh ibunya sendiri.

a�?Kakaknya itu sangat perlu diobati. Agar, dia tidak stres,a�? ungkapnya.

Rencananya, minggu ini akan pihaknya akan langsung menurunkan dokter psikolog untuk mendampingi kakak Saenah. a�?Kita terus berupaya untuk mengobatinya,a�? jelasnya. (arl/r2)

Berita Lainnya

Tilang Menurun, Laka Lantas Meningkat

Redaksi LombokPost

Rekanan Kembalikan Kerugian Negara

Redaksi LombokPost

Saksi Beberkan Percakapan Muhir

Redaksi LombokPost

Jaksa Siap Eksekusi Baiq Nuril

Redaksi LombokPost

Dana BOS Dipakai Untuk Beli Motor

Redaksi LombokPost

Musim Hujan Tiba, 122 Polisi Siaga

Redaksi LombokPost

Bukti Kejahatan 2018 Dimusnahkan

Redaksi LombokPost

Baiq Nuril Siap Ajukan PK

Redaksi LombokPost

Jasad Bayi Membusuk di Bukit Korea

Redaksi LombokPost