Lombok Post
Headline Metropolis

Nyawa Umi Eva Tak Tertolong

KEBAKARAN
KEBAKARAN: Warga sekitar dan para santri berkerumun Pondok Pesantren Darul Falah, Pagutan, Kota Mataram terbakar, pukul 01.00 Wita, dini hari kemarin (22/8).

MATARAMA�– KebakaranA� di Pondok Pesantren Darul Falah, Pagutan pada Senin (22/8) dini hari memakan korban. Satu orang atas nama Hj Eva Mandiri, alias Umi Eva, 53 tahun, meninggal dunia. Sementara dua orang lainnya hingga kini mendapat perawatan intensif di RSUD Kota Mataram akibat luka bakar.

Mereka adalah Sapturi, 25 tahun danA� Aldi 15 tahun. Sapturi masih dalam kondisi kritis dan mendapat perawatan intensif di RSUD Kota Mataram. Sementara Aldi, siswa kelas III SMP Salatiyah Darul Falah mengalami luka bakar ringan di bagian kaki, sehingga bisa pulang.

Kepala Lingkungan Presak Timur, Pagutan H Iqbal menuturkan, kebakaran terjadi sekitar pukul 00.30 Wita. Saat itu seluruh santri sedang tertidur lelap. Tiba-tiba api menyala dari gudang yang menyimpan barang mudah terbakar seperti kayu dan kapuk.

Api kemudian merembet dan membakar gedung kantor SMP Salatiyah, Darul Falah. Beberapa orang santri yang tidur di dekat gedung tersebut berhasil menyalamatkan diri seperti Ahmad Johan, Busyairi, dan Bakri.

Sedangkan Sapturi dan Aldi tidak sempat menjauh dari api sehingga terkena luka bakar. Sementara Umi Eva yang merupakan juru masak para santri terkena luka bakar cukup parah. Sebagian besar tubuhnya terbakar dan meninggal dunia sekitar pukul 10.00 Wita di RSUD Kota Mataram. Almarhumah dimakamkan di Kediri, Lombok Barat, sore kemarin. a�?Setiap hari Umi Eva menjadi juru masak bagi 300 lebih orang santri,a�? kenang H Iqbal.

Selain menelan korban jiwa. Kebakaran ini juga menyebabkan dua ruangan hangus terbakar. Juga dua unit sepeda motor, tiga unit komputer, satu unit televisi dan tiga unit printer hangus terbakar. Laptop, HP dan kompor gas yang ada di dalam ruangan itu menambah kobaran api.

Selain untuk menyimmpan barang, gudang itu dikatahui juga menjadi tempat memasak dan jualan. a�?Semua data-data siswa SMP Saltiyah juga hangus terbakar. Termasuk ijazah,a�? katanya.

Menurutnya, api baru bisa dipadamkan satu jam kemudian dari pukul 00.30-01.30 Wita, setelah enam unit mobil pemadam kebakaran datang memadamkan api. Belum diketahui pasti penyebab kebakaran. Namun menurut keterangan Mizwar, salah seorang santri yang ada di lokasi, melihat ada kabel listrik menyala dan menyambar ke dalam gudang.

a�?Semua warga berupaya memadamkan api, dari Lombok Barat juga datang membantu,a�? tuturnya.

Sementara salah seorang santri, Syahrul Azmi mengatakan, saat itu, ia tidur bersama empat orang di ruang koperasi. Dimana, ruang koperasi tersebut bersebelahan dengan gudang. a�?Saya juga tidur dengan Umi Eva. Saya tidur di luar, Umi Eva di dalam kamar ruangan itu,a�? jelasnya.

Sekitar pukul 01.00 Wita, ia kaget ketika dibangunkan oleh salah satu rekannya. Karena suasana ruangan tersebut sangat panas. Lalu, pandangannya tertuju ke pintu. Dibalik itu, ia melihat api membesar. a�?Saya bangun, ternyata sudah melihat api membesar dibalik pintu,a�? ujarnya.

Saat itu, kata Azmi, mereka yang ada di dalam ruangan panik. Lalu, salah satu santri bernama Sapturi memutuskan untuk memecahkan jendela. a�?Kami pun keluar lewat sana,a�? terangnya.

Namun, ia melihat Umi Eva mencoba untuk menyelamatkan sepeda motor yang tersimpan di dekat gudang. a�?Setelah itu, saya tidak melihat Umi Eva lagi. Saat menyelamatkan barang, dia diikuti dari belakang oleh Pak Sapturi,a�? jelasnya.

Saat itu lanjut Azmi, semua pada sibuk mengambil air untuk memadamkan api. Sementara dirinya sudah tak bisa berbuat apa-apa. a�?Saya tak kuasa menahan tangis. Karena melihat api yang begitu besar,a�? jelasnya.

Terpisah, salah seorang Santri, Salman, 17 tahun mengatakan, saat itu pihaknya sedang mendapatkan giliran ronda. Ia melihat, api tersebut sudah membesar. a�?Api itu berasal dari gudang. Apinya sudah besar,a�? tuturnya.

Lalu ia berteriak untuk meminta tolong kepada santri yang lain. Namun, api sudah terlebih dahulu menjalar ke beberapa bagian ruangan. a�?Kita tidak bisa memadamkannya. Karena api terlalu besar,a�? terangnya.

Terpisah, guru ponpes Muammar Arafat menerangkan, saat itu, pihaknya menerima telpon dari penjaga ponpes. Ia mendapat laporan terjadi kebakaran. Setelah memastikan itu, api yang ada di Ponpes semakin besar. Dan masyarakat sudah sibuk dengan mengambil air untuk memadamkan api.

Tak lama berselang, ia menerima kabar dari seorang santri. Bahwa Umi Eva dan Sapturi tidak terlihat. a�?Saya langsung kaget mendengar itu,a�? ungkapnya.

Semua orang mencari. Namun mereka tak juga ditemukan. a�?Saya sudah pasrah saat itu,a�? ungkapnya.

Lalu, salah seorang pemuda bernama Farhan datang menghampiri. Dimana, pria yang mengaku berasal dari Karang Buaya itu sudah membawa Umi Eva ke RSUD Kota Mataram. a�?Saya kemudian langsung berangkat ke RSUD,a�? ungkapnya.

Muammar mengatakan, Farhan menemukan Umi Eva tergeletak saat dia mencari pokemon dilokasi kebakaran tersebut. a�?Ada untungnya dia (Farhan) mencari pokemon,a�? ujarnya.

Namun, dari keterangan dokter Umi Eva mengalami kebakaran kulit hingga 95 persen. Sehingga, dokter memberikan saran untuk berpasrah. a�?Karena kemungkinan tidak bisa diselamatkan,a�? ungkapnya.

Saat itu juga dokter meminta izin kepadanya untuk memasukkan selang oksigen ke jantungnya. a�?Saya hanya bisa bilang, lanjutkan saja jika itu yang terbaik dokter,a�? imbuhnya.

Sekitar pukul 10.00 Wita, Muammar menerima kabar dari dokter bahwa Umi Eva telah menghembuskan nafas terakhir. a�?Umi Eva meninggal,a�? ucapnya.

Di tempat terpisah, Kepala Seksi Penyuluhan Pemadam Kebakaran Kota Mataram Ahmad Muslehudin mengatakan, pihaknya mendapat laporan sekitar pukul 00.30 Wita. Petugas langsung meluncur ke lokasi, tapi api sudah besar.

Enam mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan kobaran api. Baru satu jam kemudian api berhasil dipadamkan. Pemadam sempat kesulitan memadamkan api karena lokasi kebakaran cukup sulit dijangkau. Mobil harus melewati gang-gang sempit. Tapi beruntung dengan segala upaya, api berhasil dipadamkan. a�?Saat kami sampai, korban sudah evakuasi,a�? katanya.

Musleh mengatakan, jatuhnya korban jiwa tidak bisa serta-merta ditumpahkan ke pemadam kebakaran. Jika dikatakan terlambat, memang pemadam datang setelah api besar. Sebab laporan dari warga juga datangnya terlambat. Jika laporan cepat, maka pihaknya bisa bergerak cepat mencegah kebakaran.

Ia juga menekankan, pentingnya antisipasi dan kesigapan dari masyarakat sendiri. Apalagi di sebuah lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, harusnya disediakan alat pemadam api ringan (Apar) untuk mencegah hal seperti ini.

PMK Mataram selama ini terus melakukan penyuluhan dan sosialisasi ke masyarakat. Juga membagikan Apar ke semua lingkungan secara bertahap. a�?Kita harap ke depan lembaga pendidikan bisa menyediakan Apar untuk mencegah kebakaran,a�? katanya.

Menurutnya, kesiagaan warga dan lingkungan setempat sangat efektif dalam upaya mencegah terjadinya kebakaran besar.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Mataram AKP Haris Dinzah menerangkan, sampai saat ini belum bisa memastikan penyebab kebakaran. Karena, pihaknya masih menunggu inafis labfor Bali yang akan turun melakukan olah TKP.

a�?Saya nanti salah ngomong. Nanti dah setelah dilakukan olah TKP oleh inafis dari Bali,a�? terangnya.

Haris menerangkan akan turun langsung bersama Inafis Bali. Langkah itu untuk mengetahui secara pasti penyebab kebakaran tersebut. a�?Kita turun langsung sore ini (kemarin, Red),a�? ungkapnya.

Meski demikian, hasil olah TKP itu tak dapat diekspose langsung. Karena, harus melalui prosedur yang agak lama. a�?Paling tidak dua minggu jenjang waktunya,a�? jelasnya. (sir/arl/r5)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost