Lombok Post
Selong

Petani Tunjukkan Ketekunan Demi Hasil Terbaik

SUMBER PENGHIDUPAN: Sejumlah perempuan nampak menyortir tembakau berdasar kualitasnya di Lombok Timur kemarin (22/8).

Diantara hamparan ladang-ladang tembakau di Lombok Timur (Lotim) sejumlah bangunan menjulang. Dalam musim-musim seperti ini bangunan dari batu-bata tersebut mulai mengeluarkan asap dari cerobongnya. Sementara di bagian bawah sejumlah warga berjaga siang malam memastikan api tetap menyala. Inilah suasana ketika musim pengovenan tembakau tiba.

***

PANASA�sedang menyengat, ketika Amaq Thooriq tampak menghela nafas. Dia terlihat kepayahan usai bolak-balik A�dari sawah, membawa hasil panennya. Lembar-lembar daun tembakau tersebut dia simpan A�dalam sebuah bangunan tinggi menjulang. Itu adalah oven pribadi miliknya. a�?Sekarang giliran kita maen api sama asap,a�? ujarnya sambil terus bekerja.

Kendati dibantu sejumlah pekerja, ia tak bisa melepas proses pengovenan tembakau begitu saja. Tetap harus turun tangan langsung, tak sekadar mengawasi, tapi juga berkeringat bersusah payah.Pria asli Desa Kabar, Sakra itu memasuki tahap pengovenan. Ya, sebelum dijual ke perusahaan, tembakau virginia yang ditanamnya memang harus dipanasi untuk mengurangi kadar air. Pertama, ia harus memilah antara daun tembakau yang satu dengan lainnya. Pemilahannya berdasar warna, cerah dan tidak, serta juga lebar daun. Setelah itu, disusun di sebuah tongkat kayu memanjang dan layaknya menjemur pakaian, daun tembakau itu juga dijemur. Bedanya penjemuran dilakukan A�dalam ruang yang disebut oven.

Setelah itu, api dinyalakan. Dengan suhu yang sudah ditentukan asap dan panas akan mengeringkan daun-daun tembakau. Ada cara-cara khusus yang harus dilakukan. Pengalaman membuatnya paham di luar kepala. a�?Harus diatur supaya semua matang bersamaan, dan tak sampai gosong,a�? ujarnya menerangkan kesulitan.

Pembakaran bukanlah perkara mudah. Tak cukup hitungan menit dan jam. Pembakaran tahap pertama butuh hingga dua hari. Setelahnya masih dilakukan lagi pengovenan tambahan yang disesuaikan dengan kondisi daun. Dengan diasap-asapi, total diperlukan waktu bisa hingga sepekan, bahkan tak jarang lebih.

Semua itu harus dilakukan dengan penuh perhitungan. Penuh ketelitian, dan penuh ketekunan. Saat a��saat seperti inilah dia dan petani tembakau lainnya harus bekerja ekstra untuk menjamin kualitas. Tak jarang ovennya harus ditunggui siang dan malam. Begitu api mengecil, tiba-tiba mati, atau membesar, langkah harus segera diambil. a�?Ilmunya dapat dari pengalaman dan turun temurun,a�? ujarnya.

Setelah kerja keras dilakukan, tahapan selanjutnya mengukur kualitas tembakau. Mengejar kelas wahid tentu menjadi yang utama. a�?Kualitas biasanya sepadan dengan harga, karena itu kami bekerja keras,a�? ujarnya. (Wahyu Prihadi /r2)

Berita Lainnya

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost

SKD Selesai, Banyak Formasi CPNS Lowong

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Cegah Kematian Ibu Hamil dan Bayi

Redaksi LombokPost

ADBMI Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost

Sukiman Ungkap Kekecawaan di Hari Pahlawan

Redaksi LombokPost