Lombok Post
Giri Menang

Lewati Dua Gunung untuk Sampai ke Sekolah

SERBA TERBATAS: Pelajar MI Al Mujahidin NW Dusun Bunbeleng, Desa Sekotong Timur, ketika menunggu jam istirahat, Sabtu (20/8) lalu. Setiap harinya mereka harus menempuh perjalanan berjam-jam dari rumah menuju sekolah.

Bagi anak-anak di Dusun Bunbeleng, Desa Sekotong Timur, Kecamatan Lembar, bersekolah merupakan hal yang luar biasa. Bagaimana tidak, dusun yang terletak di atas bukit ini, hanya memiliki satu sekolah setingkat sekolah dasar. Itu pun dengan segala keterbatasannya.

***

sekelompok anak laki-laki berseragam pramuka, nampak asyik berkumpul di halaman sekolah MI Al Mujahidin NW. Sebagian dari mereka terlihat hanya memakai sandal jepit. Bahkan ada pula yang tanpa alas kaki.

Namun itu semua tidak mengurangi keseruan mereka bermain. Sekolah, bagi mereka, menjadi barang mewah. Sehingga dengan segala keterbatasan yang dimiliki, dihadapi dengan riang gembira.

Salah seorang murid yang sedang bermain ketika itu adalah Irfan Mansyur. Bocah yang duduk di kelas V ini mengaku senang bisa mendapat kesempatan untuk bersekolah. a�?Senang bisa sekolah, biar bisa jadi polisi nantinya,a�? kata Irfan dengan polos.

Irfan mengaku, rumah tempat tinggalnya berada sangat jauh dari lokasi sekolah. Dirinya harus berjalan hingga 1,5 kilometer menuju sekolah. Melewati jalan yang berdebu dan berbukit.

Karena jauhnya, Irfan terkadang harus berangkat pagi buta. Ketika matahari belum nampak di ufuk timur.

Jalanan yang sepi pun tak jarang membuat ciut nyali bocah yang orang tuanya berprofesi sebagai petani ini. Dirinya pun harus menunggu kawan lainnya. Untuk berangkat bersama-sama ke sekolah.

a�?Saling tunggu, kalau jalan sendiri gak berani,a�? aku dia.

Meski harus berjalan jauh di setiap harinya, Irfan mengatakan menjalani itu semua dengan senang. Apalagi perjalanan yang ia tempuh dilalui bersama dengan teman lainnya, membuat jarak yang jauh terasa dekat.

Kepala Sekolah MI Al Mujahidin NW Syamsul Hadi mengatakan, dari 56 murid di sekolahnya, terdapat 20 anak yang lokasi rumahnya sangat jauh dari sekolah. Mereka tinggal di Gubuk Kontrak yang jaraknya lebih 1,5 kilometer dari sekolah.

a�?Ada 20 anak. Gubuk Kontrak itu tempat tinggal warga yang paling jauh,a�? kata dia.

Pihak sekolah, lanjut dia, sering merasa khawatir dengan jarak tempuh yang harus dilalui anak didik mereka. Masalah keamanan hingga kelelahan menjadi perhatian dari guru-guru MI Al Mujahidin NW.

a�?Kita jelas khawatir, apalagi kalau musim hujan, jalannya luar biasa becek. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa kita perbuat,a�? ujar dia.

Karena banyaknya pelajar yang jarak rumahnya cukup jauh, sekolah memberikan toleransi bagi mereka. Jam masuk di MI Al Mujahidin di sesuaikan dengan jarak tempuh muridnya. Bila biasanya sekolah masuk di pukul 07.30 Wita, maka sekolah MI Al Mujahidin memberlakukan jam masuk di pukul 08.00 Wita.

a�?Kita toleransi masuk pukul 08.00 Wita. Ini juga berlaku untuk guru-gurunya,a�? tandasnya. (Wahidi Akbar S., Giri Menangbersambung/r5)

Berita Lainnya

Dengan Kartu Nikah Administrasi Lebih Mudah, Benarkah?

Redaksi LombokPost

Harga Kedelai dan Kacang Tanah Melonjak

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Tiga Desa dan Dua Sekolah Diaudit Khusus

Redaksi LombokPost

PJU di PLTU Jeranjang Segera Dibangun

Redaksi LombokPost

Pemancing Diduga Hanyut di Perairan Labuan Poh

Redaksi LombokPost

Sinyal Mutasi Makin Menguat

Redaksi LombokPost

Sekolah Terdampak Gempa Belum Diperhatikan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Lebih Banyak Huntara

Redaksi LombokPost