Lombok Post
Metropolis

TUAK!

panjat
PANJAT SANGGENG: Amirudin menunjukan kelihaiannya memnjat pohon enau di dusun Kebon Baru, Desa Giri Media, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, kemarin (23/8).

Menyadap air nira, adalah pekerjaan yang kental aneka ritual. Seperti putri, pohon enau mesti dilayani hati-hati. Sekali sakit hati, air nira mendadak bisa terhenti. Atau a�?Si Putria�? bahkan bisa mati. Di Bumi Gora, pada air nira, para penyadap banyak menggantung harap. Tak elok menyudutkan penyadap, tatkala air nira murni, akhirnya disalah arti.

***

PAGI. Udara dingin menusuk. Kabut pukul 06.30 pagi di Karang Temu, Desa Batu Mekar, Lingsar, Lombok Barat masih enggan beranjak. Tapi Papuk Sali sudah terjaga lama. Sepagi itu dia sudah menimang-nimang Papan Urige. Sebuah papan almank tradisional Suku Sasak.

Papuk Sali tengah mencari a�?hari baik.a�?

a�?Ale, Ayu, Menge, Mengkem. Kita cari (hari) Ayu,a�? kata Papuk Sali, dalam bahasa Sasak, halus.

Hal yang sungguh tak mudah. Menunggu waktu Ayu, harus sabar. Tidak hanya itu. Harus ada kesesuaian dengan hati. Meyakini jika hari itu ada berkah dari Sang Maha Kuasa.

A�Bibi Hanung lamun payu, luas mandus.

Anteng ni tetekan niki, ingetan abe maswi.

Tiok puntul, bawang, ambon pesikepan.A�A�

Papuk Sali mulai melantunkan tembang. Suaranya mengalun lembut. Merdu. Diulang-ulang. Meski sudah tua berusia 80 tahun lebih, Sali masih sangat kokoh dan sehat berjalan.

Tangannya yang sudah seperti kain kusut oleh banyaknya keriput, sibuk menusuk satu siung Bawang Merah dengan ujung parang tumpul. Ia juga menyiapkan Meswi. Salah satu rempah-rempah yang diambilnya dalam wadah Ceraken.

a�?Sebelum berangkat ke kebun, kita mandi dulu,a�? kata Sali kepada Lombok Post yang pekan lalu bertandang ke rumahnya.

Parang tumpul, bawang merah, meswi, adalah sikep (kelengkapan) yang harus di bawa. Hendak kemana Papu Sali? Di a�?hari baika�? itu, A�Papu Sali hendak Narep (menyadap air nira di pohon enau). Ada pula bekal lain yang dibawanya. Yaitu kemenyan.

Oh ya. Setelah keluar dari rumah, kami tidak boleh bicara apapun. Ini pantangan. Karena itu, penuturan Papuk Sali dalam tulisan ini, adalah hasil wawancara setelah ritual Narep tuntas.

a�?Kalau misalnya ada yang bertanya atau menyapa di jalan, tidak boleh ditanggapi. Mulut kita, harus suci dan harum oleh lantunan tembang yang indah,a�? katanya memberi peringatan.

Tapi, kalau misalnya yang bertanya adalah orang yang segan rasanya untuk tidak dijawab, maka cukup katakan, a�?mau kesanaa��. a�?Itu saja,a�? katanya lagi.

Tentu saja ini bukan ritual pertama Papuk Sali. Sebelum hari baik untuk menyadap, Papuk Sali telah melewati proses yang panjang semenjak beberapa hari sebelumnya. Mulai dari penentuan hari baik menggunakan Papan Urige, dan juga untuk melihat pohon enau mana saja yang sudah layak dan pantas disadap.

Setelah itu, baru Sali keluar ke kebun. Melihat pohon-pohon enau, lalu dengan hati yang telah disucikan, sembari terus meminta pada Tuhan Sang Pemberi Nikmat,A� memukul-mukul dengan pelan batang pohon enau.

Kesucian hati, penting untuk bisa meramalkan dengan perasaan, pohon yang sudah pantas disadap dalam beberapa hari. Kalau hati dan pikiran sudah yakin, pohon-pohon itu lalu dipasangkan selendang kain. Ini adalah bagian untuk menghargai sifat hidup yang melekat pada pohon, baru setelah itu ditiunggu tiga, empat hari. Bahkan ada yang sampai satu minggu. a�?Tergantung kapan hati ini yakin, pohon enau akan ada airnya,a�? ulas Sali.

Sejak mencari-cari pohon enau, hingga tiba waktu penyadapan, baju yang digunakan juga tidak boleh diganti. Ini pantangan. Selain itu, jika ingin mengajak anak atau keluarga ikut ke kebun menyadap air enau, ia harus memastikan pusar rambutnya tidak terletak di depan (atas dahi). Sundut kata orang Sasak menyebutnya.

Sebab, dalam keyakinannya, sederas-derasnya titik-titik air enau, jika ada orang Sundut ikut serta, titik-titik air akan langsung berhenti. a�?Kalau tidak percaya, coba saja,a�? ujarnya lalu tersenyum.

***

Ketika pagi yang dingin itu kami keluar, warga di sana sudah larut dalam aneka aktivitas. Ada yang ke sawah, kebun, pasar, kantor hingga sekolah. Kami berdua, terus berjalan. Menuju kebun yang tak jauh dari kediaman Papuk Sali.

Kurang dari lima menit, kami sampai di kebun. Sebuah pohon enau besar dengan rimbun mayang, tertempel kokoh tangga yang akan dipakai Sali memanjat, sesaat lagi. Tetapi, sebelum naik, Sali yang tadinya terus bergumam dengan tembang sejak berangkat dari rumah, mengubah lantunan tembangnya.

A�Asep menyan, asep menyan, cinane pi ngundang dewe.

Dewe Karse, Dewe Karse, te ndon ka hundang.

Ngambil tirte, ngambil tirte ke sanggar agung.

Tirte hening-tirte hening, tirte hening, saking swarge.

Usme ketis, usme ketis, titiang ngiring ngadunan.A�

Jangan tanya artinya. Sali tak mau menjelaskannya. Seperti mantra, tentulah tak elok memang menanyakan maksud segala kata yang dilafalkan itu.

Asap dari menyan yang dibakar membumbung tinggi. Menerpa batang pohon enau yang kokoh. Sang Pencipta yang memiliki kehendak atas air dimintai kemurahan-Nya agar membuka gerbang demi gerbang air enau dari batang, hingga tempat (sanggar) tertinggi (agung) di pelepah mayang.

Kaki tangguh Sali mulai naik ke atas. Menjejaki anak-anak tangga satu persatu belasan meter ke atas. Sesampai di atas, Sali memejamkan mata beberapa kali. Membaca mantra-mantra dalam hati. Rona wajahnya berubah. Lembut, teduh, penuh kasih sayang. Tangan kirinya memegang pelepah, memperkokoh posisinya.

a�?Hati kita harus bersih dan suci. Teduh dan harus ada rasa kasih sayang,a�? kata dia. Lalu perlahan, pelepah mayang diayun-ayunkan. Bak bayi di dalam buaian, sambil mendendang tembang ke tiga.

Turun daun.

Bae Gedong Sari.

Muncar katon.

Segare Mulye.

Araq langan kaji nurunan sari.

Sari Merte, Sari Sedane.

Tembang dibaca berulang-ulang. Tangan terus mengayun-ayun lembut pelepah mayang enau. Setelah hati yakin, barulah meminta izin pada Sang Maha Kuasa dan pohon enau yang juga memiliki hidup.

a�?Pohon ini juga punya nyawa. Ia hidup, seperti kita. Makanya, bisa tumbuh besar dan menghasilkan sari. Mereka juga punya perasaan dan kehendak meski (dalam skala) kecil,a�? ujarnya penuh makna.

Karena itu, layaknya Bayi yang juga punya perasaan dan kehendak yang masih sedikit, maka harus dikasihi dan disayangi. Agar air enau bisa deras menetes dari pelepah mayang yang sebentar lagi di potong.

Plaaak!

Sali memangkas salah satu pelepah. Setelah ritual meminta izin disampaikan dengan takzim. Ember kecil yang dibawa segera dikaitkan untuk menampung titik demi titik air enau berwarna bening mengucur deras. Sang Maha Kuasa, gumam Sali telah mendengar doa tulusnya hari itu. Ia semringah. Dia bahagia. Dia bersyukur sesyukur-syukurnya.

Sembari terus melantunkan tembang, tangkai mayang yang sudah dipangkas lalu diketuk-ketukan menggunakan sisi tumpul parang.

Jangan terlalu keras. Sedang-sedang saja. tetapi harus dijiwai dengan perasaan. Tembang Turun Daun kembali dilantunkan Sali di atas pohon. Hatinya benar-benar gembira. Ia memperkirakan, tak sampai subuh besok, ember kecil yang dibawanya akan penuh dengan tuak manis.

A�Asep menyan, asep menyan cinane pi ngundang toye.

Toye merte, toye merte,A� saking swarge.

Ngambil tirte, ngambil tirte, ke sanggar agung.

Tirte hening, tirte hening, tirte hening, saking swarge.

Usme ketis, usme ketis, titiang ngiring ngadunan.

Tembang ke empat dilantunkan Sali. Kali ini, ia memang hendak turun. Tetapi sebelumnya ia menyelesaikan ritual menyadap air enau. Sali kembali mengganti tembang mirip tembang kedua saat membakar menyan. Tembang ini untuk mengundang para penjaga air enau.

Sementara tembang keempat, ekslusif untuk titik-titik air. Yang konon adalah air surga dengan rasanya yang manis, segar dan nikmat.

Titik-titik air yang terkumpul itulah yang menjadi tuak manis. Bisa bertahan sampai dua tiga hari. Tergantung bagaimana, memeliharanya. a�?Air tuak manis, tidak memabukan. Air inilah yang juga dibuat menjadi gula enau atau aren,a�? tuturnya.

***

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebelum Azan subuh berkumandang, Sali sudah menuju kebun. Benar saja, ember kecil sudah penuh bahkan melimpah oleh tuak manis. Hari itu, ia mendapat air enau cukup banyak. Wadah bak plastik besar yang dibawa, nyaris penuh.

Sekitar pukul 8 pagi, Sali lalu kembali melanjutkan cerita. Air enau yang masih berstatus tuak manis itu masih perlu proses untuk menjadi Tuak Tua yang paket (pahit dan sepat). Tuak Manis harus dikombinasikan dengan beberapa getah dari pohon tertentu.

a�?Kalau mau Tuak Tua dengan warna merah menggairahkan, maka pakai akar bajur. Tapi kalau mau tetap warnanya bening (bening keputih-putihan seperti warna asli), maka bisa pakai babak (kupasan kulit keras) jambu (batu) atau daun jukut,a�? katanya.

Proses percampurannya pun terbilang sederhana. Akar bajur, babak jambu, atau daun jukut, hanya di cacah-cacah dengan pisau lalu dicampur ke dalam air Tuak Manis. Setelah itu diaduk beberapa saat. Lalu dididamkan hingga sore hari.

Geduh (busa) tuak lalu ditunggu beberapa saat sampai berkurang. Lalu ditiriskan. Jika masih terlalu kental dan keruh karena percampuran, boleh ditambah (dinetralisir) dengan menambah air Tuak Manis secukupnya. Tuak pun sudah siap untuk disajikan sebagai minuman tradisional masyarakat Lombok. Yang terakhir ini, memabukkan.

***

Bagi sebagian masyarakat suku Sasak yang berprofesi sebagai penyadap pohon enau, tanaman ini dianggap begitu sakral. Perlakuan mereka terhadap terhadap pohon ini layaknya seorang lelaki memperlakukan orang yang dikasihinya.

Mahrup, seorang penyadap pohon enau dari Desa Taman Sari, Kecamatan Gunungsari, ingat betul bagaimana dia turun temurun diingatkan akan hal itu. a�?Dulu, pohon enau merupakan seorang putri yang diperebutkan anak-anak raja,a�? kata dia pada Lombok Post.

Karena itulah, menyadap pohon enau, tidak bisa sembarang. Semua agar pohon tetap mengeluarkan air nira dengan lancar. a�?Kita tidak bisa asal,a�? katanya.

Pria yang juga menjadi Kadus di Dusun Medas Kokok Barat ini mengatakan, orang tua dulu ketika menyadap pohon enau biasa diiringi semacam membaca bacaan-bacaan khusus. Namun, Mahrup menolak jika bacaan khusus tersebut disebut semacam mantra.

Menurut dia, bacaan-bacaan khusus tersebut lebih mirip dengan menembang lagu-lagu Sasak. Iringan tembang sasak ini biasa dilakukan saat memukul batang pohon enau, tempat keluarnya air, yang disebut Sekah.

Perlakuan khusus tidak saja dilakukan terhadap Sekah. Peji atau kumpulan buah pohon enau pun mendapat perlakuan serupa.

Setelah penyadap memukul rata Sekah, Peji yang berada di ujung sekah lantas digoyang-goyangkan. Selayaknya menimang bayi yang berada di ayunan. Begitu seterusnya.

Kalau mau dikaji, sebenarnya, kata Mahrup, tembang-tembang Sasak yang dilantunkan orang terdahulu, dilakukan untuk tetap fokus saat menyadap. Ini juga berhubungan dengan kepercayaan yang mengganggap bahwa pohon enau mampu mengenal tuannya (Penyadap).

a�?Jadi fokus ketika menyadap. Seperti orang pacaran itu, kita tidak boleh mikir yang lain saat menyadap pohon enau di hadapan kita,a�? terangnya.

Beragam Versi

Soal baca-bacaan ini banyak versinya. Tak semua daerah sama. Pun cara melafalkannya. Ada yang di dalam hati, ada juga yang dilantunkan nyaring. Ada yang seperti membaca cepat, ada pula dengan lantunan bernada layaknya orang bernyanyi.

Amaq Zul, penyadap tuak dari Lendang Bedurik, Kecamatan Selong, Lombok Timur salah seorang yang melafalkan tembang di dalam hati. Apa yang dibaca, dia menolak memberi tahu. a�?Itu adalah rahasia tukang sadap,a�? kata dia pada Lombok Post.

Yang jelas apa yang dibacakan itu untuk meminta hasil terbaik. Limpahan air nira yang manis, serta memberikan berkah bagi si penyadap dan orang yang meminumnya.

Tapi, kalau pohon enau diperlakukan seorang putri, semua penyadap memang begitu. Seperti putri benaran, maka dia pasti punya level tinggi. Tak sama dengan masyarakat kebanyakan.

Itu sebabnya, pohon enau tak bisa diperlakukan sembarang. Harus ada pelayanan ekstra untuknya. Hal itu tampak ketika Amaq Zul mulai membersihkan bilah pohon enau yang mulai layu kala hendak menyadap.

Bilah itu diibaratkan kain penutup layaknya kemben yang dipakai seorang putri. Harus dibuka perlahan dengan penuh kesabaran. Setelahnya ada bagian dalam yang kembali harus dibuka, lagi-lagi itu membukanya dengan penuh saksama. Ekstra hati-hati. a�?Sampai akhirnya seperti membuka pakaian yang paling dalam,a�? katanya memberi tamsil.

Seorang putri memang memiliki kuasa yang tinggi. Dengan iringan dayang-dayang dan penjagaan para pengawal, putri biasa dituruti segala keinginannya. Untuk kasus yang ini, pohon enau juga begitu. Ia akan dituruti.

Itu sebabnya, ada banyak yang akan melakukan ritual macam bakar kemenyan dan dupa terlebih dahulu. Itu menjadi pelengkap disamping bacaan dan sejumlah pantangan.

Selain tak boleh mandi dan memakai wewangian, Amaq Zul mengaku juga ada pantangan penyadap menyayat pohon terlalu keras. Seperti mengiris sesuatu yang halus. Itu sebabnya, menyadap nira tidaklah pekerjaan tergesa-gesa. Kalau diperlakukan kasar, pohon enau bahkan bisa mati. a�?Itu di sebelahnya sudah mati. Waktu itu saya buat enaunya tersinggung,a�? katanya sambil menunjuk batang aren yang tak lagi memiliki bilah daun.

Dari pohon enau pula, Amaq Zul menghidupi anak istrinya. Karena itu, berbagai prasyarat dan pantangan adalah hal wajib baginya. Enau, telah memberinya pengharapan. Yang menjadikan asap dapurnya tetap ngepul.

Biasanya, jika perlakuan baik diberikan terus-menerus, pemilik pohon mendapat hadiah dari a�?Si Putria�?. Dia bisa mendapat buah kolang-kaling dalam jumlah banyak, dengan ukuran yang baik, dan kekenyalan yang pas, serta rasa yang enak. a�?Jadi kalau kolang-kalingnya enak, artinya saya sudah melayani dengan baik,a�? ujarnya.

Mengenal Tuannya

Bagi para penyadap, kepercayaan lain yang diyakini adalah pohon enau mampu mengenal tuannya. Dan itu kini seakan masih jadi aturan tak tertulis. Itu sebabnya, siapa yang pertama kali menyadap pohon enau tertentu, maka dialah yang harus terus mengerjakannya hingga pohon enau habis airnya.

a�?Kalau kita sakit dan digantikan orang lain. Maka terkadang macet airnya,a�? ungkap Mahrup, penyadap dari Gunungsari, Lombok Barat.

Karena alasan itulah, maka saat menyadap harus diusahakan agar tidak memakai wangi-wangian semacam parfum. Menggunakan minyak rambut pun tidak diperbolehkan. Sebab, menurut cerita turun temurun yang ia dengar, pohon enau mampu mencium bau tuannya.

a�?Itu bisa macet juga airnya. Ibaratnya pohon enau kaget karena mencium wewangian dari tubuh kita,a�? jelas pria paruh baya tersebut.

Oh ya. Karena para penyadap menganggap pohon enau seperti seorang putri, maka tak jarang pohon ini mengalami siklus datang bulan. Ketika terjadi hal tersebut, air yang keluar dari Sekah terlihat berwarna putih dan sedikit kental. a�?Kalau sudah begitu tandanya pohon enaunya sakit perut, seperti orang haid,a�? ungkap Mahrup.

Kalau masalah beginian datang, biasanya penyadap enau akan mengikat batang pohon menggunakan rotan war-war. Tujuannya tentu agar a�?sakita�� yang diderita cepat a�?sembuha��. a�?Agar bagus lagi airnya, ya begitu caranya,a�? katanya.

Tantangan menyadap pohon enau, lanjut dia, tidak berhenti sampai di sana. Bahrain, penyadap lainnya mengatakan, ketika pohon enau menghasilkan air melimpah, bisa menimpulkan rasa iri dari penyadap lainnya.

Terkadang pohon enau tersebut diberikan mantra oleh penyadap yang iri itu, agar air yang keluar menjadi sedikit. Kalau sudah begitu, lanjut Bahrain, cara menangkalnya dengan menggunakan garam. Paling sering hal ini terjadi di pohon enau yang berada tepat di pinggir jalan.

a�?Cara tangkalnya garam kita taruh di sekeliling pohon enau. Sebagian lagi kita siram pohon enaunya dengan menggunakan garam,a�? kata Bahrain.

Dibeli Pengepul

Sekarang, menjual tuak bukanlah perkara sulit. Baik Tuak Manis ataupun Tuak Tua. Biasanya, para penyadap sudah punya langganan pengepul. Kepada merekalah setiap hasil sadapan dijual.

Amiruddin, penyadap asal Kebon Baru, Desa Giri Madia, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat kepada Lombok Post mengatakan, para pengepul itu biasanya datang tiap hari. a�?Setiap penyadap pasti punya langganan,a�? kata pria 32 tahun ini.

Tuak jenis apapun dibeli. Mau Tuak Manis ataupun Tuak Tua. Cuma itu. Tuak Manis biasanya memang tak bertahan lama. Itu sebabnya, penyadap memilih mencampurkannya dengan akar bajur, babak jambu atau pohon jukut, untuk lebih tahan lama. Campuran inilah yang akan menjadi cikal bakal Tuak Tua.

Biasanya, oleh para pengepul, agar lebih dahsyat efeknya, tuak tua ini dicampur lagi dengan Bebene. Ini adalah sebutan bekas ampas campuran cikal bakal Tuak Tua yang sudah tak terpakai. Dibiarkan barang sehari lagi di dalam wadah, sehingga lebih a�?grenga�? macam minuman dengan kadar alkohol tinggi.

Di tingkat penyadap, harga Tuak Manis dan Tuak Tua nyaris sama. Keduanya biasanya dijual seharga Rp 5.000 per lima liter. Namun, ketika sudah di tangan pengepul, harganya naik berlipat-lipat.

Tuak Manis yang dijajakan di pinggir jalan seperti yang sering dijumpai di sejumlah ruas jalan Kota Mataram, atau di kawasan wisata Pusuk bisa seharga Rp 10.000 untuk ukuran air minum kemasan 1,5 liter.

Sementara Tuak Tua biasanya dijual ke pembeli seharga Rp 12 ribu untuk takaran yang sama dengan ukuran botol sirup. Oleh para konsumen, Tuak Tua biasanya diminum malam hari. Dengan aneka macam camilan sebagai temannya. Seperti tempe goreng, atau juga kacang garing. Satu botol biasanya diminum untuk empat orang. Tapi itu. Karena kandungan alkoholnya, kalau dikonsumsi sudah pasti mabuk.

Versi BPOM

Kajian Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Mataram menyebutkan, Tuak Tua, adalah hasil fermentasi yang menghasilkan etanol. Kepala Balai Besar POM Mataram I Gde Nyoman Suandi mengatakan tuak yang benar-benar hasil fermentasi alami sebetulnya tidak berbahaya. Karena yang dihasilkan etanol.

Untuk Tuak Manis yang belum mengalami proses fermentasi kata Nyoman Suandi kandungannya berupa karbohidrat, glukosa, dan sakarida. Nah, setelah fermentasinya dan menjadi Tuak Tua dan didiamkan selama 24 jam lebih, maka rasa manis alami itu berangsur menghilang. Semakin lamanya didiamkan maka rasa alkoholnya akan semakin terasa.

Mengurangnya rasa manis, kata Nyoman Suandi akan timbul asam cuka yang mengakibatkan rasa kecut dan pahit. Dalam proses bereaksi ini kandungannya pun mulai berubah. Kandungan dominan yang dihasilkan pun menjadi alkohol (etanol=C2H5OH). Sehingga kandungan terakhirnya akan menjadi etanol, karbohidrat, glukosa, sakarida, dan asam cuka. a�?Etanol inilah yang memicu minuman tuak bisa memabukkan,a�? kata dia.

Hanya saja, Tuak Tua biasanya mengandung alkohol berkadar rendah. Tak seperti minuman pabrikan yang ada memiliki kadar alkohol tinggi. Bahkan yang kalau disulut api pun bisa menyala di dalam gelas.

Saat ditanya mendetail persentase kandungan alkohol dalam Tuak Tua, BPOM Mataram tidak bisa memastikan. Hal ini karena tuak merupakan minuman tradisional yang pembuatannya tidak ada ukuran dalam prosesnya. Karena itu tak menjadi ranah BPOM untuk mengetes kandungannya secara rutin.

Disamping itu juga BPOM selama ini tidak pernah secara spesifik menguji kandungan dan kadar dari tuak tradisional yang dibuatkan masyarakat. Termasuk ada apa dalam kandungan akar bajur yang membuat warna tuak berubah pink. Selama ini BPOM kalaupun menguji kandungan minuman keras tradisional atas permintaan kepolisian untuk keperluan penyidikan. Tapi toh tak bisa digeneralisir.

Termasuk seberapa besar efek memabukkannya Tuak Tua. BPOM tidak bisa memastikan. Karena hal ini tergantung dari yang meminumnya. Setiap individu ada yang cepat bisa mabuk dengan minum sedikit atau ada pula individu yang perlu banyak meminumnya agar bisa mabuk. Yang jelas. Tuak ada di sekirat kita. (zad/dit/yuk/van/nur/r8)

Berita Lainnya

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost

Pajak Panelnya Dihapus Dong!

Redaksi LombokPost

Rajin Blusukan ke Sejumlah Sentra Kerajinan Tenun

Redaksi LombokPost

Kreatif..!! Babinsa di Mataram Ganti BBM Motor Dengan Elpiji 3 Kg

Redaksi LombokPost

Ada Kemungkinan Passing Grade Diturunkan

Redaksi LombokPost

Anggota Pokmas Harus Lebih Rajin

Redaksi LombokPost

Mantap, Wali Kota Ingin UMK Naik

Redaksi Lombok Post

Peserta Tes CPNS Dilarang Bawa Jimat

Redaksi Lombok Post