Lombok Post
Giri Menang

Lulus MI, Pencarian Ilmu pun Berakhir

PENUH PERJUANGAN: Sekelompok pelajar MI Al Mujahidin NW harus naik turun bukit di setiap harinya, dari rumah menuju sekolah.

Hanya terdapat satu sekolah di Dusun Bunbeleng, Desa Sekotong Timur. Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Mujahidin NW namanya. Satu-satunya sekolah yang menjadi tumpuan puluhan anak Dusun Bunbeleng dalam mencari ilmu.

***

DUA bangunan berdiri di tengah-tengah bukit Dusun Bunbuleng, Desa Sekotong Timur. Kondisinya sangat memprihatinkan. Namun bangunan tersebut merupakan satu-satunya tempat belajar bagi anak-anak di dusun terpencil ini.

Hanya ada satu tiang bendera di halaman sekolah. Namun, tidak ada papan nama sebagai identitas yang menunjukkan bahwa tempat tersebut merupakan sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Mujahidin.

Murid yang belajar di sekolah ini, hanya berjumlah 55 anak. Semuanya berasal dari Dusun Bunbeleng.

Setiap harinya mereka belajar di ruang kelas yang sangat tidak layak. Hanya terdapat empat ruangan di sekolah ini. Tetapi tidak semuanya menjadi ruang kelas. Hanya tiga lokal yang dijadikan ruang untuk belajar mengajar, sedangkan satu ruang lagi disulap menjadi kantor untuk guru dan kepala sekolah.

Alhasil, setiap proses belajar mengajar, para murid harus rela berbagi kelas dengan murid lainnya. Pelajar kelas VI digabung dengan kelas V, kelas IV gabung dengan kelas III, dan kelas II belajar bersama kelas I.

Kepala Sekolah MI Al Mujahidin NW Syamsul Hadi mengungkapkan, sekolah yang ia pimpin sekarang ini merupakan hasil swadaya masyarakat yang didirikan 1994 silam. Meski serba terbatas, namun MI Al Mujahidin NW menjadi satu-satunya sekolah tempat anak-anak Dusun Bunbeleng mencari ilmu.

a�?Semuanya hasil kepedulian masyarakat. Tidak pernah mendapat bantuan pemerintah untuk membangun sekolah ini,a�? kata dia.

Selain kekurangan fasilitas kelas, Syamsul mengaku kekurangan buku pelajaran. Setiap tahunnya pihaknya harus memutar otak untuk memberi buku pelajaran kepada anak didiknya.

a�?Kalau tiap tahun ada saja kekurangan buku, ini karena banyak anak-anak yang tidak mengembalikan buku atau hilang,a�? katanya.

Sementara itu, Kepala Dusun Bunbeleng Mustain mengatakan, sarana prasarana di dusunnya memang serba kekurangan. Termasuk ketersediaan sarana pendidikan lanjutan di Dusun Bunbeleng.

Sarana pendidikan berupa sekolah dasar (SD) negeri tidak terdapat di dusunnya. Sehingga anak-anak di dusunnya hanya mengandalkan MI yang hanya satu. Kondisinya pun terbilang sangat memprihatinkan.

a�?Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada sekolah lain,a�? kata dia.

Kebingungan terjadi ketika pelajar di dusunnya hendak melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Karena tidak ada sekolah setingkat SMP maupun SMA di Dusun Bunbuleng, maka mereka harus bersekolah di luar dusun. Anak-anak Dusun Bunbeleng harus menempuh jarak hingga puluhan kilometer untuk bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Yang menjadi masalah adalah tidak semua anak di Dusun Bunbeleng hidup serba berkecukupan. Sebagian besar anak-anak yang bersekolah di MI Al Mujahidin NW, berada di bawah garis kemiskinan.

a�?Kalau sekolah di luar, harus mondok. Kalau pulang pergi jelas tidak mungkin, karena jaraknya jauh sekali, apalagi dengan kondisi jalan yang rusak seperti ini,a�? keluhnya.

Karena kondisi tersebut, lanjut dia, banyak anak-anak di Dusun Bunbeleng usai lulus di MI Al Mujahidin, terpaksa harus putus sekolah. a�?Bagaimana mau melanjutkan, tidak ada sekolah lain di sini,a�? tandasnya. (Wahidi Akbar S., Giri Menang*/r5)

Berita Lainnya

PJU di PLTU Jeranjang Segera Dibangun

Redaksi LombokPost

Pemancing Diduga Hanyut di Perairan Labuan Poh

Redaksi LombokPost

Sinyal Mutasi Makin Menguat

Redaksi LombokPost

Sekolah Terdampak Gempa Belum Diperhatikan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Lebih Banyak Huntara

Redaksi LombokPost

HUT SMAN 1 Gerung Meriah

Redaksi LombokPost

Pariwisata Senggigi Diyakini Pulih Lebih Cepat

Redaksi LombokPost

9.345 Orang Tertahan di Pengungsian

Redaksi LombokPost

Bupati Bela PT Tripat

Redaksi LombokPost