Lombok Post
Metropolis

Berawal dari Remot Mobil-Mobilan

BOK

Robot selalu diidentikan dengan karya orang jenius. Namun, apa jadinya jika yang mengerjakan adalah anak yang tak punya prestasi sejak SD? Sosok Andika, merubah persepsi itu. Ini kisahnya.

***

PRIA yang ditemui Lombok Post ini, usianya sudah menginjak 22 tahun. Saat didatangi ia tengah asyik melihat rekaman video kerja robotnya di laptop.

Kalau lihat pekerjaan keluarganya, ia sama sekali tak punya turunan genetika ilmuan di dalam dirinya. Bapaknya, Nyoman Sumada, seorang Office Boy (OB) di Lapangan Golf, Golong, Lombok Barat. Sementara ibunya, seorang ibu rumah tangga biasa.

a�?Kalau bapak asli Bali, merantau kesini sekitar tahun 1996,a�? kata Andika.

Sejak kecil, Andika juga tak menonjol. Prestasi kelasnya tidak pernah menembus ranking sepuluh besar. Bahkan, jika jumlah siswa di dalam kelasnya ada 40 anak, maka rankingnnya tak bisa menembus setengahnya.

a�?Pokoknya ranking saya tengah ke bawah,a�? imbuhnya. Ia tampak malu, mengenang masa lalunya.

Seperti kebanyakan anak-anak lain, Andika lebih suka bermain. Bahkan, ia juga boleh di bilang pemalas. Kerap bolos dengan teman-teman.

Ketika masih kelas 3 SD, ia mengaku pernah dibelikan ayahnya mobil remote control dengan dua tombol. Maju dan mundur.

a�?Saya penasaran, apa sih isinya. Padhal itu kan remot control sederhana yang ada kabelnya itu. Setelah saya bongkar, ketemu motor. Saat itu saya belum tahu apa itu,a�? ulasnya.

Namun, ia jadi panik. Pasalnya, mobil yang baru beberapa hari dibelikan ayahnya, tidak bisa ia kembalikan ke kondisi semula. Parahnya lagi, mobil-mobilnya bakan tidak bisa hidup. Rodanya, tidak bisa berputar.

a�?Ayah marah besar. Saya tidak pernah dibelikan mainan lagi,a�? terang dia.

Sejak itu, Andika mengaku melupakan ketertarikannya, pada dunia sains. Kemarahan ayahnya, cukup bagi dia, sebagai warning tidak boleh lagi bongkar-bongkar barang yang membuat dia penasaran.

Karena itu, menginjak kelas empat, sampai masuk SMP ia mengaku kembali ke kebiasaan lama. Bermain dan sekali waktu bolos dengan teman-teman sekolah. Alhasil, pringkat kelasnya, makin terpuruk.

a�?Sampai suatu waktu, ada teman punya TV kecil hitam-putih itu, lalu dia katanya mau perbaiki ke tukang service, saya bilang, a�?bawa saja ke tempat sayaa��,a�? Andika kembali tersenyum. Mengenang bagaimana nekatnya dia, tanpa pengetahuan apapun untuk perbaki televisi.

Benar saja. Televisi mungil itu pun dibawa ke rumahnya. Ia kembali bereksperimen setelah enam tahun, tidak pernah coba-coba bongkar perangkat elektronik, sejak diomel ayah.

a�?Setelah saya buka, ternyata rumit sekali. saya sempat grogi dan takut-takut TV rusak, tapi setelah saya perhatikan, eh… ada kabel power lepas. Saya sambung dan TV-nya nyala,a�? ungkapnya senang.

Benih-benih ingin tahu dan ketertarikan pada dunia sains muncul lagi. Andika, lalu memberanikan diri tanpa sepengetahuan ayah, membongkar dan memasang berbagai peralatan elektronik. Ada yang bisa kembali utuh. Tetapi, tak sedikit juga yang malah rusak berat.

a�?Kalau ditanya, kenapa rusak saya jawab a�?tidak tahua��,a�? katanya polos.

Karena tak pernah berani jujur ia suka dunia sains, Andika pun diarahkan ayahnya, masuk ke sekolah umum. Tepatnya, SMA 1 Narmada. Di sekolah itu, Andika pun harus kembali gagal memperbaiki peringkat. Prestasinya, tak pernah bisa melampaui setengah anak-anak di kelasnya.

a�?Ya mau gimana, kemampuan saya hanya sebatas itu,a�? imbuhnya.

Sampai akhirnya, lulus SMA, ia menyampaikan keinginanya masuk Fakultas Teknik Universitas Mataram. Prodi Elektronika dan Telekomunikasi. Di kampus ini, Andika seperti menemukan a�?habitata�� yang sesungguhnya. Menemukan banyak alat-alat praktikum yang bisa dibongkar tanpa takut itu tak bisa kembali utuh.

Tidak hanya itu, hobi dan kecintaan Andika pada dunia sains, langsung melesatkan nilai akademisnya. Bahkan, Indeks Prestasi Komulatif (IPK) Andika nyaris sempurna hingga akhir semester, yakni 3,88.

IPK yang luar biasa dan sangat istimewa bagi anak-anak teknik. Apalagi, dia hanya butuh waktu empat tahun untuk lulus. Di saat banyak anak teknik lainnya justru 5-6 tahun hingga ada yang DO. a�?Nggak juga (saya jenius),a�? kata dia merendah.

Tapi memang, IPK dia membuktikan kualitas tugas akhir yang dibuat Andika. Ia mampu merancang robot industri berbasis kamera, sebagai input agolaritma yang akan dimasukan dalam processor, robot. Biaya juga relatif murah. Hanya Rp 1,5 juta untuk kualitas robot secanggih itu.

Sangat jarang kamera digunakan bagi pemula. Karena punya kerumitan yang luar biasa. Kebanyakan, menggunakan sensor. Tetapi, dia memilih kamera. Tentu saja, penggunaan kamera, punya kelebihan yang lebih baik dari sensor.

a�?Kelebihannya, data yang diterima lebih lengkap dan lebih cepat diproses. Seperti robot industri yang saya buat ini. Mampu mengenali barang berdasarkan pola. Baik itu lingkaran, segi tiga, bujur sangkar dan lain-lain,a�? ungkapnya.

Robot yang dibuat Andika, mampu menempatkan barang sesuai dengan tujuan yang diinginkan dengan presisi. Sistem juga sangat siap, siap digunakan di berbagai tempat dan skala industri. Dari industri kecil hingga besar.

a�?Taruh saja, benda apapun. Robot ini, akan meletakan sesuai dengan tempat yang kita inginkan. Jadi orang tidak harus sibuk mengangkat barang berat, lalu mencari tempatnya di mana. Robot ini, dengan kamera raspbery siap mencari dan meletakan di tempat yang benar,a�? ulasnya.

Andika memang jenius. Ia berhasil membuat robot terapan yang sistemnya mampu bekerja di kelas industri besar sekalipun.A� Ia membutuhkan waktu sejak Maret untuk proses coding. Yakni, menerjemahkan persyaratan logika dari pseudocode atau diagram alur ke dalam suatu bahasa pemrograman.

a�?Proses coding memang butuh waktu lama, karena ini yang jadi inti, saya pakai program C++,a�? ungkap dia.

Ditanya tentang keinginan terbesarnya, pria yang mengaku selalu penasaran dengan benda sains ini, mengaku kenyang dengan penggarapan fisik robot (hard). Ia lebih tertarik pada softwere robot. Yakni pengembangan, Artificial Intelligence (AI). Sebuah sistem a�� bisa berupa chip a�� yang berfungsi sebagai kecerdasan buatan robot.

a�?AI itu sejenis kecerdasan buatan, jadi jika robot dilengkapi dengan AI, ia bisa mempelajari dan memahami apapun yang diberikan. Seperti otak manusia. Robot-robot nanti bisa sekolah dulu baru siap bekerja,a�? tandasnya.(L Moh Zaenudin/Mataram/r5)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost