Lombok Post
Metropolis

Berkarya, Berdebat, dan Bersuka Cita

PENTAS: Siswa dari Ponpes Ulil Albaab NW Gegek Lombok Timur saat pentas teater dalam kegiatan Jambore Seni Pelajar yang merupakan bagian BBLS 2016.

MATARAM – Jambore Seni Pelajar yang dihelat setiap tahun bukan sekedar acara perkemahan biasa. Selama perkemahan itu para pelajar diajak untuk mengeksplorasi bakat mereka. Termasuk juga menguji kemampuan mereka dalam debat kebudayaan.

Tahun ini Jambore Seni Pelajar yang menjadi bagian Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS) 2016 dihelat di Museum Negeri NTB tanggal 22-23 Agustus lalu. Kegiatan ini diikuti 130 pelajar dari berbagai sekolah di Pulau Lombok. Santri dari pondok pesantren (Ponpes) pun tidak mau ketinggalan mengikuti. a�?Ini kegiatan yang pertama kali kami ikuti,A� berbeda seperti perkemahan lainnya,a��a�� kata guru pendamping Pondok Pesantren (Ponpes) Ulil Albaab NW Gegek Ustadz Lalu Kasful Anwar.

Hari pertama kegiatan, para siswa diberikan pengetahuan dokumentasi kebudayaan. Mereka dilatih memanfaatkan video untuk kepentingan dokumentasi kebudayaan. Hal ini penting ditanamkan kepada siswa untuk membiasakan sejak dini kerja-kerja kebudayaan. Dokumentasi kebudayaan di NTB tidak rapi dan masih banyak kekurangan. Harapannya siswa siswi inilah yang membantu proses itu di lingkungan sekitar mereka.

Di kelas lain, para siswa diajarkan manajemen seni pertunjukan. Kali ini mereka diberikan materi pertunjukan wayang kontemporer. Materi wayangnya dibikin sendiri oleh siswa. Begitu juga cerita yang dipentaskan adalah hasil pemikiran para siswa.

Selama dua hari berkegiatan, para siswa yang mengikuti kelas ini bisa menghasilkan karya wayang termasuk juga naskahnya. Harapannya sepulang Jambore Seni Pelajar, mereka bisa mencoba di sekolah masing-masing.

Menjadi tradisi dalam Jambore Seni Pelajar adalah debat siswa.

Debat siswa ini mengangkat isu-isu kontemporer seputar kebudayaan. Kali ini para siswa mengangkat debat wisata halal. Rupanya wacana wisata halal ini sudah cukup dikenal luas di kalangan siswa. a�?Mestinya orang-orang dinas pendidikan dan budpar mau mendengar apa yang disampaikan para siswa ini,a��a�� kata budayawan Moch Yamin yang menonton acara debat siswa.

Dalam debat yang berlangsung 3 jam itu, para siswa berperan layaknya pejabat, LSM, anggota DPRD, pelaku wisata. Mereka menyampaikan perspektif masing-masing sesuai perannya. Terbukti dalam debat yang dipandu Ketua Dewan Kesenian NTB Syahrul Qadri itu, para siswa ini memiliki pandangan yang tak kalah dengan para pejabat pengambil kebijakan. Dalam debat itu juga tampak jika wacana wisata halal hanya di kalangan tertentu saja. Sosialiasi kurang sehingga wajar terjadi salah pengertian di bawah.

a�?Ini luar biasa pemikiran mereka. Pandangan mereka tentang wisata halal bisa menjadi masukan penting bagi pemerintah,a��a�� kata budayawan Mustakim Biawan yang menjadi pengamat dalam debat ini.

Menurutnya, debat ini penting dilakukan di kalangan pelajar. Selain melatih kemampuan mereka mengeluarkan ide, apa yang disampaikan dalam debat juga menjadi suara anak muda. Selama ini dalam kebijakan pembangunan, termasuk salah satunya pariwisata suara anak-anak muda nyaris tidak terdengar.

Sebagai sebuah perkemahan remaja, Jambore Seni Pelajar juga tidak melupakan kegiatan hiburan. Tapi pada malam hiburan, para peserta lah yang menampilkan karya mereka. Mereka menari, membaca puisi, bermain musik, pentas drama, dan aksi-aksi lainnya.

Pada malam pentas itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) NTB HL Mohammad Faozal juga hadir.

Menurut Faozal, kegiatan Jambore Seni Pelajar merupakan wadah pembinaan seni bagi pelajar. Mereka digodok dengan materi-materi praktis yang bisa langsung diterapkan di sekolah masing-masing. Sehingga regenerasi kegiatan berkesenian di sekolah tidak terputus. (fat/r7/*)

Berita Lainnya

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Pol PP Mengeluh Lagi

Redaksi LombokPost

Evi: Kasihan Pak Sudenom

Redaksi LombokPost

Yang Lolos TKD Jangan Senang Dulu!

Redaksi LombokPost

Sekolah Sesak, ABK Terdesak

Redaksi LombokPost

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost