Lombok Post
Feature

Kisah Musfar Yasin Putra Kelayu, Penulis Skenario Film-film Dedy Mizwar

F-BOK
Musfar Yasin Putra Kelayu, Penulis Cerita dari Film-Film Dedy Mizwar

Sedikit yang tahu di balik ketenaran film-film Karya Dedy Mizwar, ternyata ada sentuhan tangan dan imajinasi Putra Lombok. Dialah yang membuat alur ceritanya menjadi menarik. Namanya Musfar Yasin. Berikut laporannya.

***

RAMBUTNYA nyaris memutih. Tapi, tubuh pria itu tegap. Sedikit kurus, tapi tak terlalu. Untung, baju yang dikenakannya, bermotif garis horizontal. Dengan begitu, ia nampak lebih gemuk.

a�?Musfar Yasin,a�? kata Pria itu memperkenalkan diri, pada Koran ini.

Awalnya ia nampak tak terlalu bersemangat bercerita. Entah karena apa. Tapia��barangkali–naluri a�?berceritanyaa�� membuat menit-menit berikutnya, menjadi jauh lebih mengasyikan. Ia yang tadinya terlihat acuh, tiba-tiba menjadi sosok yang menyenangkan.

a�?Kita (memulai karir) dari Jogja ya, belajar nulis juga dari sana,a�? kata Musfar, memulai kisah.

Di Jogja Musfar kuliah Universitas Gajah Mada (UGM). Mengambil jurusan Sosial dan Politik. Musfar sendiri tak yakin dirinya kala itu akan jadi penulis. Karena dalam pikirannya, hanya ada kata pejabat dan menjadi politikus handal ketika kembali ke daerah.

a�?Tapi saya lantas tertarik, ikut kursus menulis bersama teman-teman di sana,a�? ulasnya.

a�?Iklima�� Jogja yang khas dengan seni membuat seorang Musfar akhirnya melirik bagaimana cara menulis cerita yang menarik. Saat itu sekitar tahun 1987-an, ia sudah mulai menikmati apa yang menurutnya tidak pernah ada dalam fikirannya. Ia lalu mempelajari bagaimana cara membuat Sekenario film. a�?Lalu pada tahun 1988, saya putuskan hijrah ke Jakarta,a�? kenangnya.

Tapi tak semulus yang dibayangkan. Putra asal Kelayu, Lombok Timur itu merasakan masa-masa pahit dimana sekenario cerita yang ditulisnya, dihargai bak bungkus kacang. Tapi, ia mengaku tak patah arang. Persaingan, naskah cerita pun semakin sengit, ketika tahun itu, TV swasta, masih ada di dalam angan-angan para pemilik modal. a�?Belum ada tuh TV swasta, yang ada cuma TVRI,a�? ulasnya.

Tak menemukan hoki di layar kaca, Musfar memutuskan putar haluan. Ia mengincar layar lebar. Meski harusnya, persaingan di sana semakin ketat, tapi dia percaya takdir. Itu tak mengendorkan semangatnya membuat naskah demi naskah. Untuk menarik simpati dari para insan perfilman, Musfar pun kembali mencoba lagi.

a�?Jadi saya punya naskah, walaupun dia bukan producer dan hanya pemain, saya kasih saja. Pokoknya dia bagian dari orang-orang perfilman,a�? ujarnya.

Dengan begitu, ia berharap naskah bisa dibaca dan dibawa ke Produser. Muslifar ingat betul, bagaimana dia waktu itu mengincar Dedy Mizwar, karena ia yakin naskah yang dibuatnya akan cocok diperankan oleh sang a�?Naga Bonara�� itu.

a�?Saya pergi cari kontrakannya, masih banjir-banjir dul (kontrakan Dedy), (eh..) ternyata ndak ada orangnya. (Lalu saya dapat informasi), Oh dia lagi bangun rumah, lalu saya titip ada naskahnya pada tukang dia. Saya bilang (ke tukangnya) ini rumah Pak Dedy ya, ini saya tititp saja kalau dia datang lagia��, saya bilang begitu,a�? ungkapnya, lalu tertawa kecil.

Sebenarnya bukan hanya Dedy yang jadi target Musfar. Ia juga telah mencopy banyak naskah yang dimilikinya untuk disebarkan ke artis, manajemen, produser, PH, sutradara hingga pembantu mereka.

Kala itu, belum ada komputer. Suara, mesin ketik kerap menemani malam-malamnya. Ketika itu, inspirasi naskah mengalir seperti air bah dalam pikirannya.

a�?Orang pertama yang saya kenal saat itu, sutradara Chairul Umam. Lalu saya tongkrongin. Saya ikut dia. Berangkat dari rumahnya subuh ke lokasi shooting, sampai malam. Begitu seterusnya. Kita stor muka dulu,a�? ujarnya dalam logat betawi.

Sebenarnya pekerjaan menjadi penulis naskah butuh kesabaran dan ketekunan. Tidak ada seorangpun yang tahu, dalam ikhtiarnya mendekatkan diri dengan orang-orang film, mereka akan diajak kerjasama kapan. Itu seperti misteri saja yang hanya produser dan Tuhan yang tahu. a�?Ya mungkin dulu, mereka fikir (saya) siapa itu, tapi pokoknya ikut saja dulu,a�? terang dia.

Dalam masa-masa penantian, karyanya diterima, Musfar mengaku bantu-bantu saudaranya yang mengurus TKI. Dia ditugaskan jembut TKI di Pulo Gadung lalu diantar ke seseorang yang disebut a�?Pak Hajia�� di Tanjung Priok. Begitu seterusnya. Dari pekerjaan itu, ia bisa menyambung hidup. Makan dan memenuhi kebutuhan transportasi setiap hari.

a�?Meski tempat saya tinggal, dulu kontrakan yang gak ada listriknya,a�? kenang dia.

Dan Musfar harus menjalani itu, tidak dalam hitungan bulan. Tetapi belasan tahun. Ia mulai menjejakan kaki di Jakarta tahun 1988, tetapi baru mulai dihargai naskah-naskah dan diajak kerjasama pada tahun 2000.

a�?Jadi saat itu, sebelum (kerjasama dengan) Dedy Mizwar, saya kerjasama dengan Marissa Haque,a�? ulasnya.

Akhirnya, ia pun dipercaya menggarap cerita pertama oleh Dedy Mizwar yakni, sinetron a�?Bukan Supermana��. Lalu, sinetron a�?Adilaa��. Sementara Film, ia jugalah yang membuat jalan cerita a�?Kiamat Sudah Dekata�� yang dibintangi Andre Stinky, lalu a�?Ketikaa��, a�?Naga Bonar Jadi 2a��,A� dan a�?Alangkah Lucunya Negeri Inia��.

a�?Gagasan atau inspirasi itu datang ketika kita banyak diam. Dengarkan cerita orang. Kalau anda mau jadi penulis, jangan banyak bicara. Anda tidak akan tahu bagaimana sisi lain. Jika anda lebih banyak bicara, sementara sudut pandang orang lain tidak ada yang dengarkan,a�? ulasnya.

Ada cerita menarik, sampai akhirnya, Musfar menulis cerita a�?Kiamat Sudah Dekata��. Saat itu, entah kenapa ia ingin sekali membuat naskah film. Keinginannya itu lantas diutarakan pada Dedy.

a�?Bang Haji (Dedy), yuk bikin film yuk, (lalu Dedy menjawab) a�?tapi gue nggak tahu film yang bagus dan laku itu kayak gimanaa��,a�? tuturnya.

Mereka berdua pun sepakat untuk keluar berdua dan mencari inspirasi dengan menonton film yang laris dipasaran tetapi juga harus memiliki kualitas. Karena saat itu, film yang laris banyak, tetapi tidak memiliki nilai edukasi yang bagus bagi remaja.

a�?Semalam penuh kita lalu keluar, menonton film berdua. Kita tonton film yang kata orang paling laris dan paling bagus. Jadi semalam itu, kita nonton film a�?Kafira��, ini yang paling laris, starvision yang punya, habis itu, masuk ke film yang paling bagus, yang (dikerjakan) Garin Nugroho, a�?Aku Ingin Menciummu Sekali Sajaa��,a�? terang dia.

Dari hasil nonton berdua, itu akhirnya lahirlah naskah Kiamat Sudah Dekat. Sayangnya, Film yang memang memiliki materi dan alur cerita bagus itu, kurang meledak, karena promosi yang kurang.

a�?Selain itu, karakter Andre saat itu kan terkenal play boy, padahal itu film percintaan dengan tema religi, itu yang pertama saat itu, tapi kurang laku. Hanya di Cirebon dan beberapa tempat lain hasilnya bagus. Banyak yang underestimete,a�? jelasnya.

Sedikit bocoran dari Musfar, saat ini ia tengah menggarap film tentang Poligami. Sebuah film yang menyentil gaya hidup berpoligami, terutama mereka yang menyalahartikan tuntutan berpoligami, sebagai mengumbar nafsu semata.

a�?Kemarin saya sudah tuntaskan naskah Poligami, naskahnya sudah saya serahkan pada Aa (Gatot Brajamusti),a�? ungkapnya.

Tawaran mengerjakan naskah film-film bertemakan sasakA� juga banyak diterima Musfar. Kini ada beberapa yang dikerjakan, dengan mengambil pola a�?kawin ceraia�� yang kerap mewarnai kehidupan masyarakat pedalaman sasak.

a�?Ada yang rencananya pengambilan gambarnya di Keruak (Lombok Timur) itu tentang kisah seorang ayah yang punya anak banyak dimana-mana, akibat kebiasaanya kawin cerai,a�? bebernya.

Namun, khas naskah cerita film yang digarap Musfar, semuanya bergenre Drama Komedi. Yang pastinya siap mengocok perut para penonton. Anda penasaran? Kita tunggu saja, karya-karya Musfar yang akan diangkat dalam Layar Kaca dan Layar Lebar.(L Moh Zaenudin/Mataram/r5)

Berita Lainnya

Suka Duka Mahasiswa Bumi Gora Menuntut Ilmu di Benua Biru (2)

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa NTB Menuntut Ilmu di Eropa (1)

Redaksi Lombok Post

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq