Lombok Post
Feature

Kelas Tanpa Atap, Berlantai Tanah, Berdinding Anyaman Daun Kelapa

f- Atap (1)
Siswa SMPN 4 Satap, Suela, Lombok Timur,memasang atap terpal untuk ruangan kelasnya sementara murid yang lain belajar, senin 29/8. Mereka kembali membangun ruang kelasnya setelah beberapa hari sebelumnya ambruk tertiup angin.

Berstatus sekolah negeri, SMPN 4 Satap Mekar Sari, Suela, Lombok Timur adalah ironi. Sekadar ruang kelas yang sedikit layak saja mereka tak punya. Siswa hanya belajar di lantai tanah di bawah atap terpal dan berpagar anyaman daun kelapa. Inilah bukti bagaimana Lombok Timur mengelola pendidikan.

***

DEBU mengangkasa dan segera menutup pandangan selepas anak-anak berlarian. Upacara bendera saban hari Senin baru saja bubar. Anak-anak pun berebut masuk kelas hendak mulai pelajaran.

Telah lama hujan tak turun. Di sekolah yang berada di kaki Rinjani itu, tanah mengering, lalu beranap pinak menjadi debu-debu.

Begitulah pagi anak-anak di sana. Tapi, itu hanya untuk siswa dan siswi SDN 6 Perigi, yang letaknya satu halaman dengan SMPN 4 Satap Mekar Sari.

Jika siswa SDN 6 Perigi cuma berteman debu di pagi hari, tidak demikian halnya dengan siswa SMPN 4 Satap Mekar Sari. Sepanjang hari, sepanjang pelajaran, debu menjadi kawan karib mereka.

Itu karena, mereka memang belajar di ruang kelas berlantai tanah. Tiada dinding pada bangunan yang disebut ruang kelas itu. Tak ada pula atapnya. Dan ke sanalah para siswa SMPN 4 Satap Mekar Sari setiap hari merajut dan merangkai mimpi. Mereka menyemai cita-cita setinggi langit yang mereka lihat dari kelas setiap saat.

Satu per satu siswa SMP satu atap itu masuk ruang kelas ini. Saling menggoda mereka satu sama lainnya. Tak ada gurat sedih di wajah mereka. Tampaknya sekadar bisa sekolah dan belajar saja, sudah menjadi kebahagiaan tak terhingga bagi mereka.

Seorang pria paruh baya berseragam PNS muncul dari sebuah ruangan SDN 6 Perigi. Tangannya menenteng terpal berwarna biru. Tangan kanannya melambai memanggil siswa SMP laki laki yang sedang bermain di depan jalan masuk ruang kelas tanpa pintu. Hanya berupa sebuah lubang kotak seukuran 1×3 meter. Dari situlah siswa dan tenaga pengajar SMPN 4 Satap keluar dan masuk saat pelajaran dimulai dan diakhiri.

Setelah memberi komando, A�pria yang ternyata bernama Muhammad Sobirin, kepala sekolah SMPN 4 Satap tersebut lantas meninggalkan dua siswa yang tertawa sambil mengangkat terpal. Mereka naik ke bangunan tanpa atap.

Tidak lama berselang Sobirin kembali membawa tali bersama beberapa guru lainnya. a�?Oh ini kita mau bikin atap buat ruang kelas buat SMP satap,a�? terang Sobirin pada Lombok Post.

Dikerutkan keningnya. Ekspresi miris nampak dari wajahnya menceritakan ruang kelas yang ambruk di terpa angin, yang menjadikan para siswa kini harus belajar di bangunan yang mau disebut sederhana pun tak tega.

Sejak kejadian ambruk tersebut, siswa kelas VII dan VIII SMPN 4 Satap terpaksa belajar dengan sinar matahari yang langsung menerjang kulit. Tidak tega dengan keadaan tersebut, Sobirin pun membelikan terpal untuk kelas berukuran 5x 10 meter. KelasA� seadanya tersebut dibagi menjadi dua ruang.

a�?Total ada 18 siswa dari kelas VII dan VIII yang memakai ruang kelas tersebut. Untuk kelas IX masih bergantian dengan murid SDN 6 Perigi,a�? katanya.

a�?Jadi total siswa SMP 4 Satap ada 39 orang,a�? terang Sobirin sembari sambil mengikat tali untuk menguatkan atap terpal.

Dengan cekatan, sejumlah siswa memanjat susunan bambu yang menjadi pondasi ruang kelas tersebut. Seolah sudah terbiasa dengan kondisi itu, aktivitas belajar mengajar pun tak terganggu sementara murid laki laki lain merayap di atap ruang kelas layaknya bintang film Spiderman yang ternama itu.

Sesekali beberapa murid mendongak ke atas melihat temannya yang masih berkutat dengan tali. Menguatkan ikatan atap terpal dengan satu tangan dan bantuan mulut. Sementara tangan lainnya mengeratkan pegangan pada bambu. a�?Yang itu belum diikat nak, kata Sobirin menunjuk salah satu ujung terpal.

Belajar di kelas beratap terpal sungguh tak nyaman. Silau terik matahari kerap kali membuat siswa harus menyipitkan mata demi membaca tulisan dari white board.

Papan putih kecil berdiri di depan kelas disangga sebuah meja. Bingkainya pun sudah terlepas. Belum lagi saat hujan datang. Siswa harus berteduh di koridor sekolah SDN 6. Menunggu hujan reda untuk melanjutkan pelajaran yang tertunda. Sungguh menyedihkan.

Terpal selesai dipasang. Siswa yang tadinya memasang atap kembali bergabung menyimak gurunya yang sudah memulai pelajaran di bawahnya. Tapi ketidaknyamanan terasa sepanjang pelajaran.

Suara aktivitas yang hanya dibatasi anyaman daun kelapa beradu. Penjelasan dua pelajaran dari dua guru berbeda di kelas berbeda bisa didengarkan sekaligus dalam waktu bersamaan.

Kalau sudah begini. Beberapa siswa memandang tajam seolah ingin membaca pergerakan mulut sang guru. Beberapa yang lain mengarahkan telinganya ke depan berusaha mendengarkan dengan seksama.

Sementara siswa yang merasa putus asa mendengarkan, memilih bercanda dengan murid di ruang sebelah dari sela sela daun kelapa yang menjadi dinding pemisah kedua kelas.

a�?Ishak jangan bercanda dulu,a�? tegur guru pada seorang murid yang saling colek dengan temannya dari lubang a�?dinding.a�?

Masalah tidak sampai di situ. Meskipun sudah dilapisi terpal panas matahari tetap saja dirasakan siswa siswa tersebut. Seisi ruangan terlihat biru saat sinar matahari tersaring terpal. Pukul 10.00 Wita, siswa laki laki sudah membuka kancing bajunya.

Pada saat itu, buku menjadi benda multifungsi. Tidak hanya dibaca. Bagi mereka buku juga berjasa sebagai kipas. Memberi angin segar saat berhadapan dengan panas. Digoyangkan buku buku tersebut sambil mengeluarkan napas lega.

Dijelaskan Sobirin, kondisi tersebut sudah lumrah terjadi menjelang siang hari. Tidak sekali ia tak mampu menjawab keluhan siswanya yang meronta kepanasan.

Beberapa kali ia mengusulkan bantuan ke Dikpora Lombok Timur. Demi kenyamanan belajar 39 siswanya ia berkali kali menyambangi kantor yang berlokasi di Selong, tersebut. Namun, nihil.

Harapan pun pernah muncul saat ia dijanjikan untuk dibuatkan bagunan permanen untuk siswa SMP. Namun, janji-janji tersebut semakin buram. Sehingga ia bersama warga berinisiatif membangun ruang kelas dengan bahan seadanya.

a�?Tahun 2014 lalu juga saya mengusulkan bantuan, tapi yang dapat SDN 3 Paok Kambut, kami dijanjikan tahun ini sebenarnya,a�? sebutnya.

Tapi apa. Tak ada jejak. Harapannya semakin pupus saat bantuan yang dijanjikan tidak sampai di tangan. Katanya bantuan itu salah alamat. Akibat salah data.

a�?Dalam data tertulis SMP 6 perigi yang dapat bantuan, padahal SMP harus berlabel kecamatan yaitu Suela. Jadi karena data yang tidak pas kita tidak tau arah dana itu kemana sekarang,a�? jelasnya.

Kalaupun sekolah itu masih berdiri sekarang, itu semata hanya disokong harapan warga akan masa depan anaknya. Bukan hanya dalam hal pendidikannya saja. SMP tersebut memberi dampak positif bagi warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

Sebelumnya, kata Sobirin, jumlah pelaku merari kodeq (menikah usia dini) sangat banyak di desa tersebut. a�?Dulu bahkan anak anak yang baru lulus SD pun sudah menikah. Sekarang sudah semakin berkurang,a�? katanya.

Hal tersebut semakin memberi harapan bagi masyarakat Suela, khususnya desa Mekar Sari. Terbukti dengan semakin bertambah jumlah murid SMP 4 Satap setiap tahunnya.

Bahkan anak putus sekolah rela mengulang dari kelas VII untuk melanjutkan pendidikannya. a�?Dulu pertama muridnya cuma sepuluh orang. Laki-laki satu orang. Sisanya perempuan. Kebanyakan dari mereka adalah siswa yang dulu sudah putus sekolah,a�? akunya.

Meskipun SMP 4 Satap sudah berdiri sejak 5 tahun lalu bangunan sederhana tersebut baru dibuat sekitar 2 tahun lalu. Sebelumnya, siswa SMP harus menunggu giliran untuk menggunakan ruang kelas. Padahal, untuk siswa SD 6 Perigi pun, jumlah ruang kelasnya masih kurang.

a�?Siswa SD juga masih gantian, saat kelas satu olahraga, kelas enam masuk. Begitu juga sebaliknya. Jadi tiga ruang A�itu kita bagi empat kelas,a�? jelas pria beruban tersebut.

Sobirin berharap, baik pemerintah pusat maupun daerah lebih serius menangani pendidikan sembilan tahun. Diakuinya, daerah Suela khususnya Mekar Sari masih sangat membutuhkan pendidikan.

Meskipun sudah cukup terbantu dengan bantuan warga yang ikut membangun ruang kelas sederhana tersebut, ia masih mengharapkan bantuan bangunan dari pemerintah. a�?Daerah kita ini masih sangat membutuhkan pendidikan,a�? tegasnya.

Sementara ituA� Ishak salah satu murid kelas VII SMP 4 Satap, Suela mengaku senang meskipun kondisi ruang kelasnya reot. Namun ia juga mengharapkan bisa belajar di ruang kelas yang lebih layak.

Diakuinya, belajar di dalam kelas dengan dinding daun kelapa memberi udara segar baginya. Namun ia mengaku kerap bermandi keringat menjelang siang karena panas dari atap terpal ruang kelasnya. a�?Yang penting bisa sekolah,a�? ucapnya polos. (Ivan Mardiansyah/Lotim/r8)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post