Lombok Post
Metropolis

Terkenang saat Diajak Makan oleh Kapolda

salimah
DUDUK ISTRIAHAT: Salimah duduk beristirahat setelah berkeliling ke setiap rumah menjual tikar pandan yang dibawanya dari Lombok Tengah, kemarin (1/9).

Ibu kota selalu menjadi magnet bagi siapapun. Tak hanya orang terpelajar. Rakyat jelata, juga menaruh harapan besar di sana.

***

PRIA tua itu duduk termenung. Nafasnya menderu-deru. Sampai, Koran ini mendatanginya, pria itu masih tetap diam. Namanya, Amaq Salimah. Bukan, penduduk dari Mataram. Ia berasal, dari Lomok Tengah. Persisnya, Pringgerata Lombok Tengah. Dua gulungan besar, tikar yang dibawanya, baru laku satu lembar.

a�?Saya cari rizki,a�? kata dia dalam bahasa Sasak halus.

Salimah, sudah 10 tahun lalu ditinggal mati istri tercinta. Kini, ia hidup sebatang kara. Anak satu-satunya, Kursiah sudah berkeluarga. Namun, ia menolak tinggal serumah dengan anaknya. Bukan soal apa-apa. Anaknya sudah meminta ia tinggal serumah. Tapi dengan halus Salimah, menolak. Alasannya sederhana. Ia masih mampu hidup sendiri.

a�?Alhamdulillah dari jualan tipah (tikar pandan, red), ini saya bisa biayai keluarga dan menyekolahkan dia hingga kuliah, meski tak sampai lulus. Karena setelah ibunya meninggal, ia memutuskan diri berhenti. Itu pilihan dia,a�? jawabnya bangga.

Salimah tegar sekali. Wajahnya boleh sangat lelah dan berlipat-lipat. Peluhnya pun masih berbintik-bintik di dahi. Tapi, ia senang menjalani pekerjaanya. Perlu diketahui, saat koran ini menemuinya siang itu, ia baru saja berjalan berpuluh-puluh kilometer. Keliling dari satu lingkungan ke lingkungan lain. dan itu, sampai pukul 10 malam.

a�?Tadi dari Kampung Jawa, lalu sampai disini (depan Gelanggang Pemuda, Mataram),a�? tuturnya.

Ia mengaku kini sudah berusia, 80 tahun lebih. Di usia sesenja itu, ia mengaku masih kuat berkeliling seharian dari rumah ke rumah menjual tikar pandan. Satu tikar dihargai, Rp 40 ribu untuk ukuran sedang dan Rp 75 ribu untuk ukuran besar. Tikar-tikar itu dibeli dari perajin dengan harga Rp 30 ribu untuk ukuran sedang. Sedangkan ukuran besar Rp 65 ribu.

a�?Naik engkel (angkutan antar kota dalam provinsi), sampai terminal, biasanya jalan pelan-pelan ke setiap rumah, rase bilang bale taoq nongaq (setiap rumah tempat saya jual),a�? terang dia.

Sebenarnya, berbagai pekerjaan telah dilakoni Salimah. Tapi, pekerjaan ini yang paling membuatnya betah. Ketika, dulu harga cabai pernah meroket sampai kisaran Rp 100 ribu, perkilogram, ia sempat berdagang cabai. Bahkan untuk modal ia menjual beberapa area tanah warisan keluarganya.

a�?Saat itu, harga cabai di tempat saya murah, sekitar Rp 4 ribu perkilo, lalu saya beli sampai 10 timbang (kwintal),a�? kenangnya.

Ia lalu memutuskan menjualnya ke Sumbawa. Di pulau seberang itu, ia mendengar harga cabai lebih dari Rp 100 ribu perkilogramnya. Terbanyang dalam benaknya, untung besar. Tapi, apa mau dikata, saat tiba di Sumbawa, cabai sudah banyak yang masuk ke wilayah itu.

a�?Pocol tiang payu (saya akhirnya rugi),a�? beber dia, lalu tertawa lebar.

Setelah mencoba berjual berbagai barang, Salimah mengaku tak pernah merasa seuntung berjualan tikar pandan. Tidak hanya berhasil menyekolahkan anak sampai sempat menikmati bangku kuliah. Tikar-tikar itu juga yang membuat ia, bisa bertemu orang nomor satu di Kepolisian Nusa Tenggara Barat.

a�?Saya lupa nama dan rupa bapak itu. Tapi orang-orang di sekitarnya (ajudan) bilang dia bapak kapolda,a�? cerita dia lugu.

Saat itu, ia ingat betul, peristiwanya dua tahun silam. Tepatnya di bulan Ramadan. Sembari melepas lelah di sebuah masjid, Salimah ikut menunaikan salat tarawih. Baru ia berniat pulang. Tapi saat hendak mengangkat pikulan tikar pandannya, seseorang beraroma wangi dengan beberapa orang dibelakangnya mendekati.

a�?Dia tanya siapa nama saya, alamat saya, sampai berapa harga tikar yang saya bawa,a�? kenangnya.

Dengan polos, ia menjawab semua pertanyaan orang yang sama sekali tak dikenalnya itu. Tetapi bukannya dibeli, pria itu malah mengajaknya datang ke sebuah rumah yang menurutnya megah dan mewah. Lalu, seorang membisikinya jika, pria yang mengajaknya itu adalah Kepala Polisi Daerah Provinsi NTB.

a�?Baru saya tahu kalau dia itu datu (pemimpin), di rumahnya saya diminta makan sepuasnya dan bawa makanan untuk istri di rumah. Lalu tikar saya juga dibeli, sebanyak 8 lembar oleh bapak itu,a�? ungkapnya.

Salimah bersyukur bisa hidup sampai saat ini. Menyaksikan perkembangan dan kemajuan daerah di mana ia lahir dan dibesarkan, perlahan-lahan semakin maju. Salimah tipikal orang yang selalu berfikir optimis. ia bahkan membandingkan bagaimana Indonesia dulu ketika masih di jajah Jepang dengan kini.

a�?Dulu pada zaman Nippon (Jepang, red), makan aja susahnya minta ampun. Apa yang bisa dimakan ya dimakan. Bungkin (batang bagian bawah) pisang, dedak sampai batang pohon pepaya kita makan. Tapi kini alhmadulillah datu bisa buat murah makan dan minum,a�? ungkapnya.

Bahkan untuk menikmati itu, mereka harus kerja paksa dengan menanam kapas. Tapi kini, masyarakat tidak perlu lagi khawatir. Pemerintah sudah menyiapkan berbagai program yang bisa menyejahterakan masyarakat.

a�?Dapat saya beras rasikin, tapi kalau kartu berobat gratis, saya tidak ada,a�? tutupnya. (Lalu Moh. Zaenudin/Mataram/r3)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost