Feature

Bikin Paket Wisata Lintas Negara, Bidik Empat Juta Turis China

FOTO BOKS (1)

Pada Lombok dan Sumbawa, Malaysia telah jatuh cinta. Negeri Jiran itu pun melayangkan pinangan penuh suka cita. Disaksikan Kementerian Pariwisata dua negara, Malaysia dan NTB pun sepakat bersama arung bahtera. Targetnya mendatangkan wisatawan Tiongkok berduyun-duyun. Bila perlu hingga genap empat juta setahun.

***

UZAIDI Udanis, benar-benar dihinggapi bahagia berlipat-lipat. Tepat kala negeri tercintanya Malaysia bersuka cita memeringati Hari Kemerdekaan, 31 Agustus 2016, di hari yang sama pula Presiden Malaysia Inbound Tourism Association (MITA) tersebut merengkuh berkah yang lain.

Maka di atas panggung lebar dengan back drop digital nan besar, pria berpenampilan dendy itu menebar senyum paling indah. Hatinya berbunga-bunga. Tak bisa ia menyemunyikannya. Tiada henti dia berucap syukur pada Sang Ilahi. Terutama untuk kehadiran para delegasi dari NTB, tamu istimewa yang telah lama dinanti.

Di Hari Kebangsaan (baca: kemerdekaan) Malaysia yang ke-59 itu, MITA, organisasi tempat para pelaku wisata Malaysia yang dipimpin Uzaidi bernaung, telah mencipta sejarah.

Inilah kali pertama, Malaysia, negeri jiran itu membuat kesepakatan resmi, untuk membuat paket wisata bersama-sama dua negara yakni Malaysia dan Indonesia. Kesepakatan kerja sama paket wisata itu diberi nama Malindo, kependekan nama kedua negara serumpun.

Dan NTB-lah yang mendapat kehormatan dan menjadi bagian utama dalam sejarah itu. Tidak daerah lain di Indonesia. Semisal daerah-daerah di kawasan Kalimantan yang daratannya menyatu dengan sebagian bumi Malaysia. Atau daratan lain di Pulau Sumatera, asal muasal suku Melayu, populasi utama di Malaysia.

Kesepakatan resmi itu akan mewujudkan terbentuknya paket wisata dimana wisatawan asing dengan menuju Malaysia terlebih dahulu. Lalu setelah itu melanjutkan aksi melancong mereka ke NTB.

Telah lama, Uzaidi memang memendam cita. Di negaranya, dia ingin ada sebuah paket wisata yang menjadi satu kesatuan dengan paket wisata di Malaysia. Tidak seperti selama ini, di mana kesatuan paket wisata itu hanya untuk Malaysia, Singapura dan Thailand, yang terkenal dengan sebutan Masinthai.

a�?Kemajuan teknologi telah membuat dunia kian sempit. Kami tak ingin lagi hidup dalam pikiran yang sempit,a�? kata Uzaidi dengan bahasa Melayu yang kental macam seri film anak-anak asal Malaysia yang tengah kesohor di Indonesia, Upin & Ipin.

Maka dia pun bergerilya. Bertemu dengan nyaris seluruh pemangku kepentingan. Mulai dari Kementerian Pariwisata RI, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Badan Promosi Pariwisata Daerah NTB, hingga akhirnya ke DPD ASITA NTB. Jangan hitung pemangku kepentingan di negaranya sendiri.

Meski NTB menyambut dan membuka diri, mewujudkan kesepakatan resmi ini tidaklah mudah. Tentu saja, Malaysia dan NTB tak ingin ada kesepakatan yang tanpa diikuti aksi nyata. Itu sebabnya, dua pihak perlu pendalaman nan matang.

Di Malaysia, niat dan cita-cita Uzaidi juga kerap dipertanyakan. a�?Ngapain kerja sama dengan NTB. Apa akan ada untung bagi Malaysia,a�? kata Uzaidi menirukan salah satu pihak yang mempertanyakan impiannya.

Toh, dia tak surut. Dia maju terus. Pelan dan pasti, sejarah memang memihaknya. Setelah susah payah meyakinkan para pihak, dukungan penuh Kementerian Pariwisata Malaysia pun dikantonginya.

Dan puncaknya adalah penandatanganan kesepakatan resmi antara MITA yang diwakili Uzaidi Udanis dengan DPD ASITA NTB yang diwakili Ketua ASITA NTB Dewantoro Umbu Joka. Kesepakatan diteken di Sunway Putra Hotel di kawasan Sunway Putra Trade Center, di jantung Kuala Lumpur Kamis (31/8) pekan lalu.

Menyaksikan penandatanganan kesepakatan Direktur Jenderal Promosi Wisata Kementerian Pariwisata Malaysia Datuk Mirza Mohammad Taiyab dan Deputy Promosi Asia Tenggara Kementerian Pariwisata RI Rizki Handayani.

Dari NTB turut menyaksikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata HL Mohammad Faozal, Plt Ketua Badan Promosi Pariwisata NTB H Afan Ahmad, serta anggota DPRD NTB yakni H Burhanudin, Raihan Anwar, dan H Burhanuddin.

Memadati pula ballroom tempat penandatanganan, delegasi 22 perwakilan pariwisata NTB dan lebih dari 85 delegasi perwakilan pelaku pariwisata Malaysia.

Tepuk tangan panjang tak henti bergemuruh, tatkala dokumen kesepahaman telah resmi ditandatangani kedua pihak. Video keindahan destinasi wisata NTB lalu diputar. Hadirin tak ada yang beranjak. Keindahan destinasi wisata NTB dalam tayangan telah menghipnotis mereka.

Lalu kian dahsyat pula dengan persentasi keindahan-keindahan NTB oleh anggota BPPD NTB Awanadhi Aswinabawa. Mulai dari keindahan di dasar laut, pantai, kekayaan kuliner hingga keindahan puncak gunungnya. Juga kekayaan budaya dan atraksi seni Lombok dan Sumbawa.

Tentu saja, Rinjani dan Tambora, adalah dua magnet yang mendapat antusiasme luar biasa dari khalayak di Malaysia.

Saat itu pula, diberikan cendera mata berupa kain tenun NTB pada salah satu delegasi dari pariwisata Malaysia. Kain tenun indah berkilau. Tiada berkedip pandangan mata begitu pelaku pariwisata dari Malaysia yang perempuan itu menyematkan langsung kain tenun berupa bahan atasan dan bawahan di tubuhnya. Tepuk sekali lagi gemuruh.

Di Malaysia kini, Lombok dan Sumbawa memang telah menjelma menjadi daerah yang sungguh memikat. Terbukanya penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ke Lombok International Airport, adalah musabab betapa Bumi Gora kini telah menjadi idaman.

Setiap hari, warga Malaysia datang melancong ke Lombok dan Sumbawa. Menjadikan wisatawan dari Malaysia sebagai salah satu pemasok wisatawan asing utama semenjak tahun lalu.

Aneka rupa macam wisatawan Malaysia yang datang ke NTB. Mulai dari wisatawan keluarga, hingga juga anak-anak muda yang datang secara mandiri dengan teman seusia. Lombok misalnya sekarang jadi pilihan utama semisal Bandung. Keindahan pantai, lokasi destinasi wisata yang tidak berjauhan, adalah salah satu daya pikat NTB. Ibarat makanan, Lombok dan Sumbawa adalah paket komplet. Segala ada di sini.

Tapi target kerja sama ini bukan itu. Ada target besar yang hendak dibidik bersama. Yakni wisatawan asal Tiongkok.

Uzaidi mengatakan, dalam setahun sedikitnya 100 juta wisatawan asal Tiongkok keluar negaranya untuk berwisata. Ke segala penjuru dunia mereka menuju. Dan Malaysia memasang target 4 juta kunjungan wisatawan Tiongkok mulai tahun depan.

Target itu tak muluk. Telah lama Malaysia berpengalaman dengan wisatawan asal Tiongkok. Saban tahun, berduyun-duyun wisatawan Tiongkok datang melancong ke sana. Kala Indonesia masih memiliki angka kunjungan tujuh juta wisatawan asing, Malaysia justru telah dikunjungi lebih dari 20 juta wisatawan asing. Tiongkok adalah penyumbang angka yang besar tentu saja.

Tapi Malaysia sadar. Bahwa mereka tak bisa lama-lama sendiri. Itu sebabnya, langkah inovasi segera diambil. a�?Malaysia harus bisa memberi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dan berbeda,a�? kata Uzaidi. Dan pilihan lebih nan berbeda itu adalah dengan menggandeng Lombok.

Bila perlu, seluruh dari empat juta wisatawan asing asal Tiongkok itu akan meneruskan perjalanan ke Lombok setelah dari Malaysia. a�?Tapi tentu butuh waktu untuk daerah Anda. Tidak bisa langsung begitu,a�? kata dia.

Karenanya, bagian dari kesepakatan yang telah ditandatangani kata Uzaidi adalah termasuk penyiapan sumber daya manusia di NTB. Antara lain menyiapkan apa yang menjadi keseukaan wisatawan Tiongkok. Baik destinasi dan juga makanan. Inilah yang secara paralel akan dibereskan. MITA akan menjadi mentor.

Ke depan, kerja sama ini juga akan memiliki basis antara negara bagian. Misalnya destinasi wisata di Langkawi, yang akan menjadi semacam saudara dekat untuk destinasi wisata di Lombok dan Sumbawa. Terutama untuk destinasi yang tematik.

Kadisbudpar NTB HL Mohammad Faozal mengatakan, kerja sama MITA dengan ASITA NTB ini jadi tonggak baru tahapan industri pariwisata NTB dalam hal promosi dan mendongrak angka kunjungan wisatawan. a�?Kita siap menyambut wisatawan Tiongkok,a�? kata Faozal. Pada 2019, NTB telah ditargetkan Kemepar untuk dikunjungi sedikitnya dua juta wisatawan asing. Saat itu se Indonesia telah datang 19 juta wisatawan.

Antara lain kesiapan itu kata Faozal nanti akan diwujudkan dengan menyiapkan para pemandu wisata yang pantai berbahasa Tiongkok. Tak kecuali tentu saja kuliner yang mereka gemari.

Plt Kepala BPPD NTB H Afan Ahmad menambahkan, Malaysia kini adalah salah satu pasar penting pariwisata NTB. Sementara Tiongkok, adalah salah satu negara yang dibidik mengingat potensi wisatawan di sana yang sangat besar. Itu sebabnya BPPD NTB menyokong penuh kerja sama antara MITA degan ASITA NTB ini. Termasuk dengan membawa para pelaku pariwisata NTB untuk berpromosi dan bertransaksi di sela penandatanganan kerja sama.

Sementara Deputi Promosi Asia Tenggara Kemenpar Rizki Handayani menegaskan, saat ini ASEAN memang telah memasuki fase Masyarakat Ekonomi ASEAN. Termasuk juga di sektor pariwisata. Karena itu, tak boleh menunggu lagi. Paket wisatawan lintas negara sudah harus terbentuk. Dan kerja sama antara MITA dengan ASITA NTB telah mengawali itu.

Penduduk ASEAN yang mencapai 500 juta kata dia adalah potensi wisata yang besar pula. Kerja sama ini akan dievaluasi tiap tahun. Dan keberhasilan di NTB tentu akan direplikasi pihaknya di destinasi wisata lain di Indonesia. (Kusmayadi/Kuala Lumpu/JPG/r5)

Related posts

10 Napi Bakal Dieksekusi Serentak

Iklan Lombok Post

Kesetiaan Edi Dipuji, Motif Bunuh Diri Misteri

Redaksi Lombok post

Agar Tak Cuma Menjual, lalu Kehabisan Uang di Hari Tua

Redaksi Lombok post