Lombok Post
Selong

Warga Masbagik Kampanye Anti Merariq Kodeq

TOLAK NIKAH MUDA: Sejumlah remaja di Kecamatan Masbagik menunjukkan papan penolakan terhadap pernikahan usia dini dalam festival budaya penolakan menikah usia dini yang digelar di Ponpes Ash Shamaadi NW Masbagik Utara, Sabtu (3/9) lalu.

SELONGA�– Lombok Timur (Lotim) A�tercatat sebagai salah satu penyumbang angka pernikahan usia dini (merariq kodeq) di NTB. IniA� tidak lepas dari budaya menikah mudaA� yang masih melekat di daerah ini. Untuk mengurangi hal inilah, Sabtu (3/9) lalu, sejumlah elemen masyarakat Masbagik berkumpul mengkampanyekan anti pernikahan usia dini.

“Beberapa waktu lalu, ada dua pasangan yang saya tolak karena ingin menikah di bawah usia 16 tahun. Kami dari KUA minta anak-anak tersebut dikembalikan, tapi kami tidak tahu apakah anaknya dikembalikan atau dinikahkan tanpa sepengetahuan KUA,” beber Kepala KUA Kecamatan Masbagik kepada Lombok Post, Hasrinaji.

Dijelaskannya budaya kawin lari ini dinilai menjadi pemicu terjadinya perkawinan usia dini. Dimana, pihak keluarga yang anak perempuannya dilarikan kerap menolak untuk mengambil kembali anaknya yang dilarikan. Sehingga, ia pun membiarkan anaknya menikah meski di bawah usia yang ditentukan Undang-Undang. Dimana anak baru boleh dinikahkan kalau sudah berusia 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. “Sebagai sanksinya kami tidak melayani pasangan tersebut. Sehingga mereka tidak punya buku nikah atu surat keterangan nikah lainnya,” jelas Hasrinaji.

SementaraA� Camat Masbagik Muhammad Fahri mengaku kalau angka pernikahan usia dini dari tahun ke tahun mulai berkurang. Namun, semangat untuk teru melawan pernikahan dini ini harus terus digalakkan. “Kasihan masa depan anak-anak kita ini. Pemikiran orang tua yang berpikir harga diri tidak mau anak perempuannya dikembalikan kalau sudah dilarikan itu harus diubah. Saya haqqul yakin masih banyak orang tua yang berpikir seperti itu,” terangnya.

Sementara itu, Sekda Kabupaten Lombok Timur H Rohman Farly yang hadir sebagai pemateri juga mengungkapkan beberapa dampak yang ditimbulkan akibat nikah usia dini. “Karena usia belum matang banyak rumah tangga yang akhirnya berujung perceraian. Beberapa suami juga bisa jadi penjudi, pemabuk, hingga yang lainnya. Itu fakta sosial yang dihadapi di Lombok akibat nikah usia dini ini,” paparnya.

Dengan berbagai persoalan ini, TP PKK Lombok Timur yang juga turut serta dalam kegiatan tersebut menjelaskan tugas melawan pernikahan usia dini menjadi tanggung jawab semua pihak. “PKK akan berjuang melawan pernikahan usia dini dengan melakukan sosialisasi melalui kader PKK. Kami juga siap mendukung dan menyerap aspirasi anak-anak,” kata Hj Supinah, Ketua TP PKK Lombok Timur. (ton/r2)

Berita Lainnya

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost

SKD Selesai, Banyak Formasi CPNS Lowong

Redaksi LombokPost