Lombok Post
Sudut Pandang

Arif dan Bijak Menyikapi Pariwisata

KETIKA meneliti fenomena komunikasi antarbudaya di Gili Trawangan beberapa tahun silam, saya banyak bertemu dengn warga yang ada di pulau esotik tersebut untuk berinteraksi dan berdialog seputar dinamika dan fenomena komunikasi mereka selama berada dalam pulau tersebut. Baik dengan sesama warga lokal maupun dengan warga asing yang datang dan tinggal untuk menikmati keindahan Trawangan.

Pernyataan lelaki paro baya yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima yang saya temui membuat peneliti sangat terkesan dan bangga akan prinsip hidupnya dalam menyikapi geliat pariwisata yang terus menapaki grafik peningkatan di kabupaten Lombok Utara tersebut.

a�?Saya tetap berbisnis di sini, tetapi saya tidak berani menyekolahkan anak saya di sini, makanya saya masukkan mereka ke pondok pesantren yang ada di Gunung Sari dan Kediri.a�? Pernyataan warga Gili Trawangan ini mengandung multimakna. Paling tidak dengan statement tersebut, sang pedagang ingin mengatakan dua maksud.

Pertama, pariwisata atau pembangunan di bidang pariwisata yang dilakukan pemerintah daerah harus didukung karena mendatangkan banyak manfaat secara ekonomi baik bagi pemerintah maupun untuk masyarakat. Gili Trawangan sebagai destinasi utama pariwisata di NTB, bagi responden penelitian saya tersebut merupakan lahan bisnis penting untuk menopang ekonomi keluarganya, termasuk untuk mensupport kesuksesan pendidikan dan masa depan anaknya.

Kedua, pariwisata tidak bisa menghindar dari adanya kontak lintasbudaya, dimana semua warga yang ada di pusat distinasi seperti Gili Trawangan dipastikan akan berinteraksi (paling tidak melihat) berbagai budaya (seperti gaya hidup dan cara berbusana) wisatawan lokal maupun asing yang berbeda dengan budaya atau tradisi yang selama ini dianut oleh warga Gili Trawangan.

Kesadaran akan pengaruh negatif budaya asing inilah yang dimiliki oleh subjek penelitian saya, sehingga dia tidak berani menyekolahkan anaknya di daerah distinasiA� pariwisata yang begitu ramai seperti Trawangan.

Inilah secuil potret cara bijak dan arif menyikapi pembangunan pariwisata yang sedang giat-giatnya pemerintah lakukan. Ini adalah cara cerdas yang saling menguntungkan antara pemerintah dan rakyat. Pariwisata dianggap sebagai lahan mencari nafkah, tetapi terkadang bukan sebagai pemandangan yang baik untuk disaksikan oleh anak usia dini atau remaja yang sedang mencari bentuk dan karaktek yang akan diteladaninya.

Pembangunan pariwisata telah menyediakan gula bagi masyarakat yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya sebagai lahan bisnis. Mulai dari penyedia jasa pariwisata, pelayan dan karyawan di hotel dan restoran hingga pedagang kaki lima, terus mendapatkan keuntungan.

Inilah salah satu nilai positif yang dapat dimanfaatkan dari keberadaan pariwisata, sehingga sangat rugi bila rakyat tidak bisa mengambil bagian untuk mendapatkan nilai maksimal darinya. Oleh karena itu, warga tidak boleh lari meninggalkan lahan bisnis (ekonomi) yang subur ini.

Namun, terlena dalam bisnis tanpa memikirkan masa depan anak juga tidak tepat. Bagi orang tua yang hidup di pusat destinasi seperti Trawangan, harus mampu mengidentifikasi lingkungan yang tepat bagi pendidikan anak-anaknya. Sebagai insan yang belum paripurna daya sensor dan selektifnya atas lingkungan, anak dan remaja sudah selayaknya dihindarkan dari lingkungan lingkungan yang menggoda jiwa dan kepribadiannya lewat pandangan dan pendengaran.

Pusat destinasi pariwisata yang menjadi titik berkumpulnya para wisatawan dengan berbagai karakter seperti di Trawangan a�?menawarkana�? beragam budaya dan menyediakan segala macam perilaku yang secara terbuka bisa disaksikan oleh siapa pun.

Bisa dibayangkan bila anak dan remaja dibiarkan terus-menerus menyaksikan pemandangan tersebut tanpa bimbingan dan arahan orang tua dalam menyikapi dan meresponnya secara arif dan bijak.

Pilihan responden penelitian (yang saya ceritakan sebelumnya) untuk menyekolahkan anaknya di luar area destinasi merupakan pilihan yang tepat dalam rangka menghindarkan anak dari a�?godaana�? pengaruh negatif pariwisata kelas dunia seperti di Gili Trawangan.

Namun, bukan berarti pilihan tersebut menjadi satu-satunya cara terbaik dalam menyikapi secara arif geliat pembangunan dan perkembangan pariwisata. Tersedia beragam cara arif lainnya dalam menyikapi keberadaan pariwisata di suatu wilayah, seperti dengan terus bertahan bersama anak di tempat tersebut sembari melakukan pengawasan dan bimbingan melekat pada mereka.

Saat penelitian juga saya memperoleh informasi tentang ketegasan warga Trawangan menjaga terkontaminasinya dampak negatif bagi anak-anak mereka. Security yang bertugas di setiap titik keramaian (hiburan) malam yang ada di pulau tersebut memastikan bahwa tidak ada anak-anak yang ikut terlibat di dalamnya, hatta mereka hanya sekedar nonton atau menyaksikan sepintas hiburan yang berlangsung di malam hari.

Ketika mengikuti acara pesta bulan purnama hingga dini hari di salah satu pesisir pantai, saya mencatat beberapa kali security mengusir dan menghalau anak-anak yang hendak menyaksikan pesta tersebut.

Langkah yang diambil security seperti di atas merupakan salah satu best practice yang layak dipertahankan dan ditingkatkan. Cara tersebut sekaligus menjadi bentuk pengawasan melekat yang dilakukan oleh komunitas yang direpresentasikan lewat aparat keamanan sipil (security) terhadap pengaruh negatif dunia pariwisata bagi masa depan generasi.

Orang tua tentunya memiliki posisi strategis dengan intensitas pengawasan dan bimbingan yang lebih banyak bagi anak-anaknya. Bila mereka tidak bisa atau belum bersedia mengantarkan anaknya hijrah dari distinasi pariwisata untuk menimba ilmu di tempat yang steril dari pengaruh budaya glamor wisatawan, maka orang tua harus berkomitmen untuk menjaga, membimbing sang anak sehingga dipastikan tidak terkena dampak negatif dari pembangunan bidang pariwisata. Semogaa�� (r8)

Berita Lainnya

Sudah Ikhlaskah Nonpribumi Berindonesia?

Redaksi Lombok Post

Universitas Islam Negeri (UIN) dan Spirit a�?DNAa�? Baru

Redaksi Lombok Post

Selamat Jalan Pengawal Budaya Mbojo

Redaksi Lombok post

Melawan Musuh Bangsa

Redaksi Lombok post

Media Sosial dan Ruang Publik

Redaksi Lombok post

Makna Simbolik Kunjungan Raja Salman

Redaksi Lombok post

Pendidikan Nirkekerasan

Redaksi Lombok post

Kasih Sayang yang Tidak Mengenal Hari

Redaksi Lombok post

Habib Rizieq: Antara Benci dan Rindu

Redaksi Lombok post