Lombok Post
Headline Selong

Festival Paer Lenek, Hidupkan Kembali Aura Magis Tari Pakon

TARI MAGIS: Inaq Astam, salah seorang Penari Pakon saat sedang menari di atas bara api, kemarin malam (1/9). (Hamdani Wathoni/Lombok Post)

Rangkaian acara Festival Paer Lenek di Lombok Timur, Kamis (1/9) malam kemarin terasa berbeda. Panitia menyajikan satu tarian Sasak kuno yang hampir punah. Sejenis tarian dengan aroma magis kental untuk pengobatan.

—————————————–

Malam telah menyelimuti Desa Lenek Lombok Timur. Di salah satu sudutnya seorang perempuan lanjut usia menari di atas hamparan bara api. Langkahnya mengikuti irama tetabuhan. Raut wajahnya A�tenang seperti tak terpengaruhA� bara yang membakar telapak kakinya. Sementara disisi arena warga yang datang seperti tak berkedip menyaksikan lenggok penari yang tak mempan dimakan api.

Aroma asap kemenyan dan bunga-bunga masih tersisa. Wangi yang mengentalkan suasana bahwa ini bukan tari biasa. Ini adalah Tari Pakon, salah satu tarianA� tua masyarakat Sasak di pesisir timur yang kini jarang dimainkan.A� Tak sembarang memang, tarian magis ini hanya ditampilkan dalam waktu dan kondisi tertentu.

Konon pada zaman dahulu Pakon adalah bagian dari tari pengobatan. Orang-orang yang terkena teluh dan sihir harus melakoni ritus ini. Bara api membantu mengembalikan kesehatan yang tersandera guna-guna.

a�?Ini adalah salah satu seni tari tradisional di Lenek. Ini tari pengobatan bagi masyarakat yang terkena penyakit guna-guna,a�? kata Gunaria Sudiarsa, Ketua Rumah Budaya Paer Lenek.

Belum ditemukan data tertulis sejak kapan warga Lenek memainkan tarian ini. Sejumlah sumber menyebut Pakon sudah ada sebelum Kerajaan Selaparang berkuasa. Namun seiring perkembangan zaman ritual ini mulai dilupakan.

a�?Dulu kalau ada yang sakit karena guna-guna, maka ia akan datang ke Tengkorok. Setelah dijampi-jampi, baru dia menari di atas bara api untuk menghilangkan penyakit tersebut. Makanya ini disebut sebagai tari pengobatan,a�? lanjutnya.

Para penari dikatakan adalah mereka yang benar-benar terkena guna-guna. Karena, jika tidak, mereka tidak akan bisa menari di atas bara api. Kecuali, memang si penari sudah memiliki kemampuan tersendiri. Sebelum menari, para penari harus melalui ritual memanggil roh terlebih dahulu.

Pentas ini sendiri berlangsung Kamis (1/9) malam lalu. Ini adalah bagian dari kegiatan Festival Paer Lenek dalam rangkaian acara Bulan Budaya Lombok-Sumbawa (BBLS). Para pegiat budaya di Lenek sengaja menghidupkan kembali tari PakonA� bersama sejumlah tarian lainnya.

a�?Kita di sini menggelar kegiatan selama delapan malam. Kita tunjukkan semua kesenian yang dimiliki masyarakat di sini. Ada Pemban Selaparang hingg kesenian wayang,a�? kata Mamiq Gayep, pembina Rumah Budaya Paer Lenek.

a�?Kami berharap dengan digelarnya BBLS yang mengangkat kesenian budaya Lenek ini, diharapkan warisan tradisi ini bisa bertahan turun temurun,a�? pungkasnya. (ton/r2)

Berita Lainnya

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Garbi Bakal Gembosi PKS?

Redaksi LombokPost