Lombok Post
Metropolis

Jangan Menjual Hewan Penyakitan!

kambing2
PERIKSA: Seorang petugas memeriksaan kesehatan hewan kurban di Majeluk, kemarin. (5/9)

MATARAMA�– Panitia Pemeriksa Hewan Kurban mulai beraksi. Mereka mendatangi langsung lokasi-lokasi penjualan hewan kurban, kambing dan sapi yang ada di Mataram.

a�?Tujuannya jelas, memastikan semua yang dijual itu sehat dan memenuhi syarat,a�? kata salah seorang petugas, drh Diyan Riyatmoko, kemarin. (5/9)

Dengan seksama petugas memeriksa satu demi satu hewan yang ada. Mulai dari pengamatan kasat mata, pemeriksaan panca indra hewan hingga bagian dalam mulut, bahkan mengambil sampel bulu dan kotoran juga dilakukan.

a�?Sampai sekarang belum ada yang kategori penyakit berbahaya,a�? sambungnya.

Jika nantinya ditemukan, langkah tegas bakal diambil, seperti melarang si pemilik menjual hewannya. Kalaupun sengaja dipaksakan menjual hewan yang jelas-jelas bermasalah, bukan tak mungkin sanksi lebih berat diambil. Bahkan secara aturan, membawa ke ranah hukum bisa saja ditempuh.

a�?Tugas kami memastikan dari segi kesehatan, segala langkah yang diperlukan akan ditempuh,a�? tegasnya.

Kadis Pertanian Kelautan dan Perikanan (PKP) Mataram H Mutawalli mengatakan, sekurangnya ada 70 orang yang masuk dalam tim inti pengawasan. Mereka disebar ke enam kecamatan di Mataram. Setiap hari mereka akan melakukan pengawasan dengan berkeliling hingga berakhir masa penyembelihan hewan kurban.

Terkait kesehatan yang diawasi, beberapa diantara pantangan adalahA� hewan kurban tak dalam kondisi cacat, berbadan kurus, kurang usia, dan mengidap sejumlah penyakit terlarang yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat yang mengkonsumsinya kelak.

a�?Tim sudah paham apa langkah yang harus dilakukan,a�? ujarnya.

Terpisah, Ketua MUI NTB Prof Syaiful Muslim menyoroti sejumlah panitia penyembelih di Mataram yang umumnya menjual bagian tak terpakai dari hewan kurban sembelihannya. Kulit, tulang, kaki, dan kepala yang umumnya tak dibagikan, oleh sebagian panitia biasa diuangkan.

a�?Tidak boleh itu, ingat kita berkurban satu kambing utuh untuk satu orang, dan satu sapi utuh untuk tujuh orang,a�? tegasnya.

Selain itu, ia juga menegaskan memilah bagian-bagian itu untuk dijadikan bayaran pada tukang jagal juga tak dibenarkan. Harus dibedakan antara hewan yang dikurbankan dengan biaya tukang jagal.

a�?Jangan dicampur aduk, ini sesuai mazhab syafii yang banyak dianut di sini,a�? katanya mewanti-wanti.

Lantas apakah MUI NTB akan mengeluarkan fatwa terkait hal tersebut? Menurutnya hal itu belum mendesak untuk dilakukan. Mengingat aturan yang sudah jelas, masyarakat tinggal mengikutinya dengan memberikan hewan kurbannya pada orang-orang yang membutuhkan. a�?Tidak sampai fatwa, itu sudah jelas,a�? tutupnya. (yuk/r5)

Berita Lainnya

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost

Pajak Panelnya Dihapus Dong!

Redaksi LombokPost

Rajin Blusukan ke Sejumlah Sentra Kerajinan Tenun

Redaksi LombokPost

Kreatif..!! Babinsa di Mataram Ganti BBM Motor Dengan Elpiji 3 Kg

Redaksi LombokPost

Ada Kemungkinan Passing Grade Diturunkan

Redaksi LombokPost

Anggota Pokmas Harus Lebih Rajin

Redaksi LombokPost

Mantap, Wali Kota Ingin UMK Naik

Redaksi Lombok Post

Peserta Tes CPNS Dilarang Bawa Jimat

Redaksi Lombok Post