Lombok Post
Metropolis

Gadis-Gadis Artis Jalanan

LAPSUS (9)

Musik jalanan, adalah hiburan rakyat. Tak cuma sekarang, hiburan ini telah mendarah daging bagi Suku Sasak. Terlepas dari segala kontroversi, aksi-aksi hiburan jalanan ini memang rasanya tiada akan mati. Tentu saja karena mereka berevolusi.

***

HIBURAN dengan musik ini disertai para penari ini dulu dikenal dengan sebutan Joget. Tarian ini biasanya menjadi hiburan pada malam selamatan (begawe) sebuah pernikahan.

Belakangan, setelah muncul musik cilokaq, musik khas suku Sasak, muncul nama baru dengan sebutan Ale-ale. Baik Joget dan Ale-ale, adalah dua atraksi seni yang selalu ditunggu kehadirannya oleh masyarakat.

Karena itu tersebutlah kelompok Cilokaq Ale-ale Jamilah Adiningrat dari Desa Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Adiningrat mengklaim kata-kata Ale-ale berawal dari group musiknya. Setelah itu baru banyak yang mengikuti menggunakan nama Ale-ale. a�?Cilokaq Ale-Ale itu pertama dari group kami,a�? kata Adiningrat pada Lombok Post.

Jamilah Adiningrat merupakan pasangan suami istri yang berkecimpung di dunia seni musik asli Sasak. Jamilah adalah nama sang istri yang merupakan penyanyi dari group musik ini. Sedangkan Adiningrat sang suami yang memegang salah satu alat musik dan mengatur group.

Dia menceritakan nama cilokaq diambil dari salah satu nama atau judul lagu yang digemari oleh masyarakat pada waktu itu. Cilokaq adalah seni musik yang lagunya berupa gubahan-gubahan. Namun dalam perkembangannya musik tradisional ini amat dipengaruhi irama dangdut.

a�?Tapi sebetulnya, antara dangdut dan cilokaq Ale-ale tetap berbeda di cengkok penyanyinya,a�? terang Jamilah.

Cilokaq Ale-ale merupakan pengembangan musik tradisional Sasak. Menggabungkan musik tradisional dengan modern. Musik cilokaq ale-ale meramaikan suasana dengan pilihan musik kedangdungtan dan sangat mudah diterima masyarakat, khususnya di pedesaan yang menggandrungi musik dangdut.

Ale-ale gabungan beberapa seni tradisional yang ada sebelumnya, seperti Cilokaq yang ditambah joget dan vokal. Musik Ale-ale merupakan musik cilokaq yang sudah digubah dalam kedangdutan daerah lokal. Musik ini tidak bisa dipungkiri hasil kreativitas dan spontanitas masyarakat dalam menangkap peluang yang ada. Penyanyinya menggunakan pakaian berkebaya dan bersarung dengan memakai sapuq khas ikat kepala yang biasa dikenakan laki-laki Sasak.

Alat-alat musik yang digunakan dalam musik Ale-ale tidak berbeda dengan gendang beleq dan kecimol maupun cilokaq. Ale-ale ini jenis musik yang lebih praktis daripada terdahulunya. Dengan jumlah personel yang kurang lebih 15 orang. Seperti halnya Gendang Beleq dan Kecimol.

Selain menyanyi pada saat nyongkolan. Ale-ale juga menghibur warga pada malam atau siang hari dengan tarian. Musik dilengkapi dengan pengeras suara seperti speaker sehingga suaranya membahana.

Di masa-masa awal. Atraksi seni tradisional ini dulu tanpa tarian. Ale-ale ini membawakan lantunan dan syair-syair yang mengandung pesan dan perilaku orang Sasak yang bersahaja. Namun seiring perkembangan zaman alat musik Ale-ale berubah. Saat ini alat musik ale-ale ini terdiri dari gendang, gitar, keyboard, seruling, dan penyanyi.A� Sementara pengeras suaranya menggunakan sound system. Tarian tentu saja menjadi pelengkap berikutnya.

Setelah dari Lembar, musik ini berkembang. Lalu muncul di berbagai dusun di Pulau Lombok. Dusun Kembang Kuning di Desa Gerimax Indah Kecamatan Narmada juga dikenal sebagai daerah banyak memiliki group Ale-ale. Desa yang berada di Belakang pusat perbelanjaan modern LCC NarmadaA� tersebut ada tiga group Ale-ale.

Desa ini bahkan dikenal sebagai penghasil penyanyi dan penari Ale-ale yang ulung. Mencari penyanyi dan penari Ale-ale di Dusun Kembang Kuning juga tak susah.

Amaq Sahrun, salah seorang pengelola musik Ale-ale Dewi Anjani pada Lombok Post mengatakan, Ale-ale yang bisa bertahan saat ini sebagian besar yang sudah memakai alat musik modern. SepertiA� gitar, drum,A� sound sistem sebagai pengerus suara. Juga harus punya penyanyi yang menarik. a�?Kalau tak seperti ini maka tak akan laku,a�? kata Sahrun sembari menyeruput kopi.

Biasanya satu kali tampil Ale-ale dibayar Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta. Biaya ini tergantung kesepakatan pemilik Ale-ale. a�?Bisa saja di bawah atau di atas harga itu,a�? katanya.

Penyanyi adalah pihak yang mendapat bayaran paling besar. Bisa sampai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu satu kali tampil.

Harga sewa penyanyi kata Sahrun juga bervariasi. Biasanya orang maunya yang cantik, seksi, dan suaranya merdu.A� a�?Kalau cantik dan seksi biasanya lebih mahal,a�? paparnya.

Kesan Kurang Baik

Kendati begitu, Sahrun tak menampik, kesan Ale-ale ini diakuinya kurang baik. Dimana, pada saat nyongkolan Ale-ale kerap membuat jalan macet. Bukan hanya itu, Ale-ale ini juga identik dengan mabuk-mabukan.

Tapi bagi Ratna Wulandari, salah seorang penyanyi Ale-ale dari Mujur, Lombok Timur anggapan miring itu memang bagian dari konsekuensi sebuah pekerjaan. Kata dia, dimana-mana penyanyi, baik profesional maupun kecimol, sama saja. Yang membedakan hanya kelas atau kedudukannya sebagai penyanyi. a�?Kalau di kecimol, memang seringkali memacetkan jalan raya. Tapi itulah, hiburan iringan pengantin. Bagi saya ini merupakan tradisi Sasak modern,a�? ujarnya.

a�?Kalau terjadi keributan, itu hal biasa. Tapi, untuk meminimalisirnya polisi harus mengawal,a�? tambah Mamiq Kadar, panggilan akrab Lalu Abdul Kadar, pengelola group musik Kecimol Nona Manisdari Dusun Lingkok Lauk Desa Sukaraja, Praya Timur, tempat Ratna bernaung.

Musik kata seniman yang kerap tampil dengan seniman Sasak HL Nasib itu mengatakan, tradisi musik jalanan ini tak akan pernah mati. Dia yakin akan tetap bertahan, kendati di masa datang bentuknya akan menjadi apa. (nur/jay/dss/r8)

Berita Lainnya

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost

Pajak Panelnya Dihapus Dong!

Redaksi LombokPost

Rajin Blusukan ke Sejumlah Sentra Kerajinan Tenun

Redaksi LombokPost

Kreatif..!! Babinsa di Mataram Ganti BBM Motor Dengan Elpiji 3 Kg

Redaksi LombokPost

Ada Kemungkinan Passing Grade Diturunkan

Redaksi LombokPost

Anggota Pokmas Harus Lebih Rajin

Redaksi LombokPost

Mantap, Wali Kota Ingin UMK Naik

Redaksi Lombok Post

Peserta Tes CPNS Dilarang Bawa Jimat

Redaksi Lombok Post