Lombok Post
Selong

Jalur RSUD Selong Jadi Terminal Dadakan

PANGKALAN BARU: Inilah jalan di samping RSUD dr Soedjono, Selong, Lombok Timur yang kerap menjadi pangkalan sopir angkutan umum kemarin (6/9).

SELONGA�– Dampak terus bertambahnya jumlah kendaraan pribadi mulai dirasakan sopir angkutan umum di Lombok Timur (Lotim). Sejak beberapa tahun terakhir, mereka mengaku penghasilannya terus menurun. Akibatnya, berbagai cara dilakukan untuk mencari penumpang. Salah satunya yakni membuat pangkalan sementara di jalan samping RSUD R Soedjono, Selong.

“Penumpang di terminal sudah mulai sepi. Makanya kami mangkal disini, nungguin penumpang yang baru pulang berobat,” ungkap Rizal, salah seorang sopir angkutan umum.

Penumpang yang baru pulang berobat dikatakan mereka yang tidak memiliki kendaraan mobil pribadi. Akibatnya, mereka lebih memilih naik angkutan umum. Karena kondisi mereka yang belum pulih tidak memungkinkan untuk menaiki kendaraan seperti motor. “Inilah yang kami sasar. Karena kalau mau nunggu penumpang seperti dulu sudah sulit,” sambung dia.

Kondisi ini nampaknya sudah dipahami betul oleh para sopir angkutan umum. Sehingga mereka beramai-ramai mangkal di dekat RSUD. Bahkan, beberapa diantara sopir tersebut masuk area rumah sakit untuk menawarkan jasa angkutan.

Kebanyakan penumpang yang mereka antar berasal dari wilayah Masbagik dan Labuhan Haji. Karena, penumpang yang berasal dari wilayah Aikmel dikatakan sudah ditunggu oleh angkutan umum lainnya yang sudah disewa. “Mau bagaimana lagi, kalau menunggu penumpang yang mau menggunakan angkutan umum sekarang sulit. Mereka lebih memilih naik motor,” timpal Hajri, sopir lainnya.

Mangkal di pinggir jalan dekat RSUD R Soedjono dinilai lebih menjanjikan dibanding di Terminal. Karena, satu penumpang yang baru selesai berobat biasanya akan didampingi rombongan keluarga mereka. Sehingga, sekali angkut penumpang bisa berjumlah tiga sampai lima orang. Perharinya, para sopir angkutan umum ini mengaku rata-rata mendapatkan Rp 100 ribu.

“Tapi itu belum dibagi sama pemilik kendaraan dan biaya bensin,” ungkap Hajri. Sehingga kadang mereka mangku hanya menbawa pulang uang untuk keluarga kisaran Rp 50 ribu.

“Nyari kerjaan saat ini susah, apalagi kita nggak sekolahnya tinggi. Ya mau bagaimana lagi,” ungkap para sopir kompak pasrah. (ton/r2)

Berita Lainnya

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost

SKD Selesai, Banyak Formasi CPNS Lowong

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Cegah Kematian Ibu Hamil dan Bayi

Redaksi LombokPost

ADBMI Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost

Sukiman Ungkap Kekecawaan di Hari Pahlawan

Redaksi LombokPost