Lombok Post
Metropolis

Pecahkan Rekor Senior, Renang Hanya Enam Jam

MUHAMMAD JAELANI

Prestasi atlet renang NTB mungkin tak semoncer, daerah lain. Tapi bukan berarti tak punya perenang hebat. Jaelani misalnya, pernah berenang dari Sumbawa ke Lombok, hanya dalam waktu enam jam. Berikut kisahnya.

***

HANYA enam jam. Tapi tentu itu waktu yang sangat lama dan menjemukan bagi perenang amatir. Apalagi di lepas laut dengan ombak dan arus dahsyat. Bagaimana tidak, selat alas yang memisahkan pulau Lombok dan Sumbawa, salah satu throughflow Indonesia. Dimana, ada arus pertukaran air antara dua samudera raksasa. Hindia dan Pasifik.

Lebar lautnya mencapai 29 mil. Kapal Very saja butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk mencapai keduanya. Rasa-rasanya kalau ada yang nekat, berenang mengarungi selat itu sudah pasti tubuh mereka bakal kisut dan kembung. Berenang berjam-jam. Belum lagi, macam petaka lain bisa saja mengintai. Semisal Hiu, atau jenis makhluk laut yang berbahaya. Sudah pasti, jika memang benar ada yang berenang nyalinya memang level gila!

Kenyataannya, orang-orang dengan nyali gila itu ada. salah satunya, Muhammad Jaelani. Pria dengan kulit hitam dan wajah garang ini memang punya jiwa heroik.

Pada Lombok Post, ia menceritakan jika pernah menaklukan selat itu hanya dalam waktu enam jam. Ia ada kata hanya. Karena senior mereka, butuh waktu lebih lama tiga jam.

a�?Sama, teman-teman. Saya dulu ada 11 tim, termasuk saya. Ada Emon, Rini, ada juga cewek manado lupa saya namanya. Lalu ada, Budi, Opan, Yayan, Ricko dan sisanya saya lupa,a�? kata Jaelani.

Hebatnya, mereka semua berhasil mencapai finish. Keberhasilan sepuluh perenang itu, memang melalui proses yang sangat panjang. Satu tahun mereka berlatih. Menguatkan fisik dan mental. Menggelar simulasi berenang bersama. Dan hasilnya tidak sia-sia.

a�?Awalnya kita tertantang mengalahkan senior, saat itu mereka mampu berenang dari Sumbawa ke Lombok dengan waktu 9 jam. Dan kita terobesesi memecahkan rekor senior,a�? kenang Jaelani.

Jaelani lupa, persisnya tahun berapa ia mengukir prestasi itu bersama rekan-rekannya. Ia Cuma ingat, waktu mereka hampir sampai di pelabuhan Kayangan setelah memulai renang dari pelabuhan Poto Tano Sumbawa, disambut ribuan orang. Salah satunya adalah gubernur NTB yang saat itu dijabat, Warsito.

A�a�?Lupa saya tahun berapa itu, pokoknya zamannya pak Warsito,a�? tuturnya.

Perjuangan Jaelani dan kawan-kawan mengarungi selat, bukan tanpa tantangan. Meski sudah mencari waktu yang pas, setelah berkonsultasi dengan BMKG dan mendengar masukan dari pelaut tradisional. Berenang selama enam jam, tetap saja melelahkan.

a�?Kalau istilah nelayan, kita cari waktu airnya Konda. Waktu konda itu, adalah waktu saat air mengalami pasang paling lama,a�? ulasnya.

Hasilnya, setelah para pelaut tradisional dan tim dari ramalan cuaca modern, berdiskusi mereka berhasil menemukan waktu yang tepat dengan gelombang dan arus tidak terlalu deras.

a�?Tapi yang namanya laut, tetap saja gelombangnya di tengah deras,a�? kenangnya.

Sepanjang perjalanan, mereka terus berenang. Tanpa jeda. Menggunakan gaya bebas terkadang juga kupu-kupu. Mereka tidak boleh naik ke atas perahu. Apalagi hanya untuk menikmati udara yang hangat barang beberapa menit di atas kapal.

a�?Karena kita kan mau pecahkan rekor juga. Jadi satu detik sangat berharga untuk terus berenang,a�? ujar Jaelani.

Secara perlahan namun pasti, mereka terus bergerak melintasi selat. Mil demi mil terus ditempuh. Jika mereka lapar atau haus, tiga kapal jenis fast boat yang menjaga di depan, sisi kiri dan kanan sudah menyiapkan minuman yang mengenyangkan.

a�?Ya tidak sempat makan. Nanti waktu bisa terbuang percuma. Jadi kita disediakan minuman yang bisa membuat kenyang. Seperti, minuman sari kacang ijo dan sejenisnya,a�? ulas dia.

Begitulah terus menerus. Sebenarnya, Jaelani mengaku bisa memecahkan rekor lebih cepat lagi. hanya saja, Jaelani yang bertugas berenang paling depan, tidak boleh melaju terlalu kencang. Sebab dua perenang wanita yang mengapitnya, harus dipastikan aman juga pada posisinya.

a�?Kita saling menjaga. Formasi juga harus dipertahankan, agar bisa sampai di tujuan bersama-sama,a�? jelas dia.

Sampai akhirnya sekitar siang hari, mereka akhirnya sampai di Pelabuhan Kayangan. Masih jelas dalam ingatan Jaelani, bagaimana sorak sorai para penonton yang ikut berdebar-debar, menantikan kedatangan mereka. Bahkan, sejak tubuh mereka hanya terlihat sebesar titik dari kejauhan, para penonton sudah berteriak histeris. Nama-nama mereka dielu-elukan. Sebuah rekor yang langka di masa itu, oleh perenang-perenang Indonesia.

a�?Saya sangat mencintai dunia renang. Sejak bergabung dengan POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia), saya selalu termotivasi ingin memberikan kemampuan yang terbaik di bidang ini,a�? ungkapnya.

Kini, bersama Made Arte dan dua rekan lainnya, Jaelani terus berupaya mencari bibit-bibit perenang tangguh, dengan membuka Tirta Mayura Swiming Club (TMSC). Sebuah club yang secara profesional memberi pelatihan pada anak-anak usia dini hingga dewasa di kolam renang Mayura, untuk dijadikan atlet-atlet renang yang siap membesarkan nama daerah hingga bangsa.

a�?Kami berkomitmen memberikan pelatihan yang terbaik di TMSC,a�? tandasnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r5)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost