Lombok Post
Headline Metropolis

Qurban Itu Bukan Gaya Hidup

PELAYANAN TERBAIK: Penjual hewan kurban di jalan Majapahit Mataram memilih hewan kurban yang paling gemuk untuk pemborong yang akan membeli empat kambingnya sekaligus, (9/9).

Idul Adha tidak hanya tentang memotong hewan kurban. Lebih dari itu, membinasakan sifat kebinatangan yang bercokol pada setiap diri manusia.

***

ISLAM memang agama yang lekat dengan pengorbanan. Bahkan, sejak Nabi pertama Adam AS, putra-putranya sudah dihadapkan pada dilema pengorbanan itu sendiri.

Tersebutlah, kisah populer Habil dan Qabil yang hampir semua umat muslim pernah mendengar kisahnya. Bagaimana, dua anak dengan karakter dan sifat yang berbeda itu, akhirnya diminta untuk berkurban.

a�?Kisah Habil dan Qabil menjadi salah satu latar belakang di dalam agama Islam, akhirnya ada perintah berkurban,a�? kata H Muhtar, Ketua MUI Kota Mataram.

Di dalam Alquran kisah tentang dua putra Adam ini tertulis dalam surat Al Maidah ayat 27. Sangat jelas, di ayat itu umat Muslim diperintah saling mengingatkan tentang hakikat kurban harus didasari hati yang ikhlas.

Terbukti, dari dua pengurbanan yang dilakukan Habil dan Qabil, hanya satu saja persembahan yang diterima. Itu adalah kurban milik Habil. Karena kesal pengurbanannya di tolak, Qabil pun mengancam membunuh Habil.

a�?Tetapi dengan tenang, Habil menjawab a�?sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwaa��,a�?A� kisah Muchtar.

Berkurban, lanjut Muhtar, harus didasari dengan hati Ikhlas. Tidak ada gunanya jika berkurban hanya dijadikan gaya hidup. Meski mewah dan megah, jika ternyata itu membuat diri menjadi riaa��, ujub dan sombong, maka tidak akan ada artinya.

Lebih baik, sedikit tetapi didasari dengan semangat berbagi yang baik. a�?Walau berkurban sapi, kalau didasari dengan riaa�� tidak ada artinya,a�? ulasnya.

Termasuk orang kaya. Meski ia mampu membeli sapi. Tentu bagi dia, lebih baik membeli kambing, jika itu membuatnya lebih ikhlas. Atau lebih kecil lagi. Ayam misalnya.

Meski akhirnya dengan jiwa kikir itu, Allah melarang mereka mendekati tempat-tempat salat. Toh, buat apa mereka ke tempat ibadah. Salat juga buat apa? Begitu kira-kira retorikanya. Sebaiknya mereka memang tidak datang. Jika tujuannya hanya pencitraan. Supaya, terlihat lebih salih, misalnya.

a�?Siapa-siapa yang mampu berkurban, tetapi tidak berkurban, jangan dekat-dekat tempat salat,a�? terangnya.

Muhtar juga mengingatkan kisah sahabat-sahabat Rasulullah, semisal Bilal bin Rabah. Ia hanya budak. Namun, tidak menyurutkan niatnya untuk berkurban. Meski akhirnya, di tengah keinginannya berbagi itu, Bilal hanya mampu memotong ayam. Lalu, dagingnya ia bagi-bagikan pada orang lain.

Ada juga kisah lain, Ibnu Abbas. Ulama fasih agama dan hidup zuhud. Suatu ketika, uang yang tersisa hanya dua dirham. Padahal, tiba masa umat muslim berkurban. Maka ia pun membeli sekerat daging. Maka, daging itulah yang dibagi-bagikan pada orang lain.

a�?Boleh, kita makan daging kurban kita. Misalnya, hatinya sedikit. Ya, paling banyak sepertiga dari daging kurban kita. Biasanya tujuannya adalah untuk tabbaruk (mencari berkah). Jangan sampai lebih banyak. Jadi, tidak ikhlas,a�? kata dia.

Ketua MUI Kota Mataram ini, tengah menyindir substansi berkuban yang mulai bergeser. Ada sebagian orang, cendrung menjadikan momentum berkurban, mirip pesta pora makan daging keluarga. Tidak ada masyarakat miskin di situ. Kalaupun ada, sangat sedikit. Lebih banyak yang menikmati golongan mereka sendiri. Padahal, keluarganya adalah orang-orang yang mampu.

A�a�?Ini keliru, tentu bukan begitu hakikat berkurban,a�? tegasnya.

Lalu semangat lain yang menginspirasi Islam harus berkurban tentu saja peristiwa fenomenal. A�Yakni saat Nabi Ibrahim nyaris saja menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail. Penyemblihan atas perintah Allah, tapi juga diganti oleh Allah dengan seekor domba.

Tiga Makna Berkurban

Bagi Muhtar, peristiwa-peristiwa berkurban ini, mengandung tiga makna penting. a�?Pertama, setiap usaha, keberhasilannya ditentukan oleh besarnya pengorbanan yang kita lakukan,a�? ulas Muhtar.

Semakin besar perjuangan dan pengorbanan seseorang, semakin besar pula keberhasilan yang bisa diraih. Sebaliknya, jika pengorbanan disertai hitung untung-rugi, maka ia bisa kesulitan mencapai apa yang dicita-citakan.

Pengorbanan bisa dalam bentuk waktu, tenaga hingga materi. Contoh sederhana, seorang remaja, bisa berkorban waktu remaja untuk bersenang-senang. Kemudian, mengisinya dengan giat belajar. Hasilnya ia bisa meraih masa depan lebih baik. Begitu seterusnya.

a�?Kedua, korban harus dilakukan dengan ikhlas,a�? imbuhnya. Tanpa keikhlasan, perjuangan bisa selesai sebelum mendapatkan hasil. Rasa tidak ikhlas hanya akan membuat jiwa tertekan. Menghitung kerugian dari pengorbanan-pengorbanan yang sudah diusahakan. Perlahan, muncul pesimis. Sampai akhirnya, tiba di di kesimpulan apa yang dilakukan, semua sia-sia. Lalu ia putuskan, menghentikan segala apa yang telah dimulai dan diusahakan dengan susah payah.

a�?Dan yang ketiga, berkorban mengajarkan kita, bagaimana yang harus dipotong itu adalah sifat kebinatangan,a�? ulasnya.

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat luar biasa. Berbeda dengan dua makhluk lainnya, malaikat dan binatang. Keduanya memang serupa dalam hal a�?tak bisa memiliha��, meski secara kualitas binatang dan malaikat, bagai bumi dan langit.

Malaikat, tak bisa memilih, kecuali menjadi makhluk yang terus saja bertakwa. Sebaliknya, binatang pun tak bisa memilih, kecuali jadi makhluk dengan kualitas perbuatan yang rendah.

Tetapi manusia, tidak. Manusia punya kehendak. Dengan kehendak itu, ia bisa memilih. Jadi binatang atau lebih rendah lagi. Atau, Malaikat atau lebih mulia lagi. Kelebihan inilah yang membuat, kadar tantangan yang dihadapi manusia, sebenarnya jauh lebih dahsyat dari malaikat yang a�?hanyaa�� bisa patuh. Sementara, binatang a�?hanyaa�� bisa semaunya.

a�?Dengan berkorban, manusia bisa membunuh sifat kebinatangan dalam dirinya,a�? terang dia.

A�Berkorban bisa menjadi jalan mudah, manusia memunculkan sifat-sifat mulianya. Menjadi ladang amal salih, untuk kehidupan kelak di akhirat. Semangat tolong-menolong harus dipupuk sedemikian rupa. Mensyukuri nikmat yang diberikan Allah dan berbagi dengan sesama.

a�?Belajar hidup hemat dan menjadikan makanan bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga orang lain,a�? tegasnya.

Di hari yang sama, ketika perayaan hari raya kurban, serentak dirayakan di berbagai belahan negara. Jutaan umat muslim berpakaian ihram, a�?menyerbua�� sebuah tiang. Di sebuah desa kecil di Arab Saudi. Desa itu, bernama Mina. Dekat dengan Mekkah. Tiang itu merupakan perlambangan iblis yang dominan sifat kebinatangannya. Peritiwa melempar tiang dengan kerikil itu disebut, jemaah Haji sebagai Lempar Jumrah Aqobah.

Pedagang Hewan Panen Keuntungan

Fenomena berkurban untuk masing masing anggota keluarga biasanya dilakukan bergantian setiap tahunnya. Meskipun sebenarnya satu kambing sudah cukup untuk Kurban satu keluarga. Namun beberapa orang menganggap berkurban bukan hanya sebagai mencari pahala melainkan berbagi kebahagiaan bagi orang miskin. Sehingga jumlah kambing yang dikurbankan pun disesuaikan dengan jumlah anggota keluarganya.

Seperti yang dilakukan Nurdin Rangga Barani. Politisi kawakan asal Sumbawa ini beberapa hari lalu datang ke jalan Majapahit, Mataram. Ia datang bersama ayahnya, H Daeng Raba. Memarkir mobilnya di depan tenda biru berpondasi bambu, Nurdin langsung menunjuk beberapa kambing dengan postur tinggi tegap.

Tanpa bertanya harga harga, ia langsung menunjuk beberapa kambing yang ia angap memiliki daging yang sehat. a�?Kambing gemuk kan banyak dagingnya, jadi insya Allah banyak yang kebagian,a�? tuturnya.

Menurutnya, Idul Adha bukan semata mata untuk mengejar pahala. Selain beribadah, momen tersebut dijadikannya sebagai salah satu kesempatan untuk berbagi pada sesama manusia. Tidak tanggung tanggung ia membeli empat kambing untuk dikurbankan pada hari besar umat muslim tersebut. a�?Untuk ibu dan ayah saya masing masing satu, dan untuk istri dan saya masing masing satu,a�? sebutnya.

Padahal untuk empat kambing tersebut, setidaknya Nurdin merogoh kocek tidak kurang dari 15 juta. Namun ia berencana untuk menambah jumlah kurbannya pada tahun depan seperti yang ia lakukan setiap tahunnya.

Baginya, harta yang ia keluarkan untuk dibagikan pada orang tidak mampu akan kembali lagi padanya dengan jumlah yang lebih besar. Sehingga ia tidak ragu untuk terus menambah jumlah hewan yang akan ia kurbankan tiap tahunnya.

Selain itu, ia menilai bahwa apa yang ia peroleh dari berkurban lebih besar dibandingkan dengan apa yang dikeluarkannya. Disebutnya, selain akan memberi manfaat bagi orang banyak, ia dan keluarga mendapatkan banyak manfaat.

Dicontohkannya, kurban merupakan salah satu pendidikan moral bagi anak anaknya. Keinginan untuk berbagi ia contohkan pada empat anaknya dan selanjutnya ditularkan pada cucunya kelak. a�?Insya Allah tahun depan mereka juga akan kurban, doakan saja kita sehat dan ada rezeki,” sebutnya.

Ia berharap, masyarakat yang juga berkurban bukan hanya untuk sekedar menunaikan kewajibannya saja. Sehingga mereka membeli hewan kurban dengan asal asalan tanpa melihat kualitas dari hewan tersebut.

Lebih jauh, ia juga berharap Dinas Peternakan lebih pro aktif dalam pemeriksaan kesehatan hewan kurban.

Dinas Peternakan, kata dia, harus lebih selektif dan lebih ketat terkait pemeriksaan hewan ternak. a�?Kita ingin Kurban ini bermanfaat bagi masyarakat, jangan malah jadi penyakit. Bisa repot nanti,a�? tandasnya. (zad/van/yuk/r5)

Berita Lainnya

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost