Lombok Post
Metropolis

Pagi Sekolah, Siang Jualan Pop Ice

boks
MELAYANI PEMBELI: Yusron,13 tahun, remaja yang bekerja paruh waktu sebagai pedagang es di Pantai Gading, Mataram. Ia tengah melayani pengunjung yang ingin membeli es di lapaknya.

Sebagian besar anak menghabiskan waktu luang mereka dengan bermain. Namun tak sedikit juga yang mengorbankan waktu luang mereka untuk membantu keluarga. Seperti Yusron, bocah 13 tahun. Berikut kisahnya.

***

TATAPAN matanya tajam memandangi ombak di Pantai Gading. Masih dengan raut wajah lelah duduk memperhatikan setiap orang yang asyik bercengkerama di depannya.

Yusron pun menatap sekumpulan anak yang tengah asyik bermain pasir pantai. Mereka juga yang tengah tertawa bermain air laut. Membayangkan diri tengah ikut larut dalam kebahagian anak lainnya.

Lamunan itu buyar saat seorang wanita muda menghampiri lapak tempat ia berjualan. A�Dik, beli pop ice cokelat sama es kelapa mudanya satu,A� pinta wanita tersebut.

Dengan telaten, tangan mungilnya menghancurkan es batu dan memasukkannya dalam blender. Sambil menunggu pop ice jadi, ia mulai meracik es kelapa muda yang dipesan.

Satu menit kemudian, kedua es pesanan wanita tersebut selesai dihidangkan. A�Sepuluh ribu,A� ujar bocah yang akrab disapa Ron tersebut.

Beginilah keadaan sehari-hari Yusron. Ia bekerja paruh waktu untuk membantu keluarganya. Sepulang sekolah, Yusron hanya pulang mengganti seragam dan makan siang. Selepas itu, ia kemudian berangkat kerja di sebuah lapak di Pantai Gading.

Lapak itu bukanlah milik keluarga atau sanak saudaranya yang lain. Yusron hanya bekerja sebagai buruh sewaan untuk melayani pembeli di lapak tersebut.

Ia mendapatkan pekerjaan ini setelah mendapatkan ajakan dari teman sekolahnya. Meski bayarannya tak seberapa, Yusron tak pernah mempermasalahkannya.

Setiap harinya, ia dibayar mulai dari 20 ribu hingga 50 ribu rupiah. Pada musim liburan, bayarannya meningkat hingga 100 ribu rupiah.

Hasil kerjanya separuh hari tersebut ia gunakan untuk membantu keluarga. Yusron tinggal di lingkungan Mapak kelurahan Jempong Baru. Ia hidup bersama keluarga dengan ekonomi yang pas-pasan. Tak seperti anak seusianya yang lain yang dapat menikmati waktu tanpa harus bekerja keras.

Jika sedang memperoleh bayaran lebih, ia pun menyisihkan sebagian untuk ditabung. Uang tabungan tersebut rencananya akan ia pergunakan untuk keperluannya pribadi. Misalnya untuk membeli buku tulis dan peralatan sekolah lainnya.

Meski harus bekerja paruh waktu, Yusron mengaku hal ini tidak mempengaruhi pendidikannya di sekolah. Ia masih bisa belajar seperti anak lainnya. Hasil belajarnya di kelas pun terbilang cukup memuaskan.

Hal ini dikarenakan ia mampu mengatur waktu dengan baik. Ia selalu menggunakan waktu malam hari untuk belajar. Selepas ia kerja dari Pantai Gading. A�Saya belajar pada malam hari,A� akunya

Meski harus kehilangan waktu bermain, Yusron tidak merasa sedih. Sebab menurutnya, apa yang ia lakukan saat ini merupakan hal positif. Orang tua maupun keluarganya mendukung apa yang dilakukan. Selama hal tersebut tidak membebani dan mengganggu tumbuh kembangnya.

Yusron mengaku, saat mulai bekerja paruh waktu, ia sempat ditentang oleh keluarga. Mereka menginginkan Yusron fokus belajar di sekolah. Namun pada akhirnya mereka mendukung setelah ia mampu membuktikan hal positif yang mampu ia berikan. “Sekarang orang tua tidak marah,” tandasnya.(Ferial Ayu/Mataram/r5)

Berita Lainnya

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Pol PP Mengeluh Lagi

Redaksi LombokPost

Evi: Kasihan Pak Sudenom

Redaksi LombokPost

Yang Lolos TKD Jangan Senang Dulu!

Redaksi LombokPost

Sekolah Sesak, ABK Terdesak

Redaksi LombokPost

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost