Lombok Post
Headline Sumbawa

Kayu Sitaan Dibakar

kebakaran
MENCURIGAKAN : Petugas pemadam kebakaran saat memadamkan api yang melalap kayu sitaan di halaman kantor KPH Batulanteh

SUMBAWA -A�Suasana tenang di kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batu Lanteh di Jalan Lingkar Selatan, Kecamatan Unter Iwes berubah ramai dinihari kemarin. Pasalnya, sekitar tujuh kubik kayu jati sitaan di kantor tersebut hangus terbakar api. Diduga kayu-kayu hasil illegal loging ini sengaja dibakar orang. Indikasinya di tempat kejadian perkara (TKP) ditemukan gelas bekas air mineral berisi solar.

Menurut informasi, kasus kebakaran ini terjadi sekitar pukul 03.30 Wita. Kayu bulat jenis jati hasil sitaan Polhut dari dua lokasi ini seketika hangus terbakar. Beruntung api tidak sampai merembet ke bangunan kantor yang berada di sebelahnya. Api baru bisa dipadamkan setelah satu unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi kejadian.

Saat kejadian, tidak satupun petugas berada di kantor. Petugas yang mendapat jadwal piket baru akan melaksanakan tugas pukul 04.00 Wita. Saat petugas datang itulah api sudah berkobar hebat melahap kayu sitaan hingga berubah menjadi arang. Petugas piket kemudian memberitahukan kejadian ini kepada petugas lainnya.

Diketahui, kayu sitaan tersebut merupakan kayu temuan hasil operasi di dua lokasi. Yaitu kawasan Nanga Lidam tahun 2015 lalu dan di kawasan hutan Semamung Ttahun 2016.

KapolresA� SumbawaA� AKBP Muhammad yang didampingi Kasat Reskrim Polres Sumbawa AKP Yusuf Tauziri mengatakan, pihaknya telah menurunkan tim tadi dari unit identifikasi untuk melakukan olah TKP. Sejumlah barang bukti juga sudah diamankan dari TKP. Sementara ini pihaknya belum bisa menyimpulkan apakah kayu temuan tersebut memang terbakar atau sengaja dibakar.

Kasat Reskrim Polres Sumbawa AKP Yusuf Tauziri menambahkan, pihaknya menemukan gelas yang diduga berisi solar di dekat lokasi kejadian. Pihaknya juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap orang yang pertama kali mengetahui kejadian ini. ”Kita sudah ambil keterangan juga. Memang tidak ada yang melihat, tetapi hasil olah TKP itu, di sana kayunya tidak terbakar semua. Di dekat kayu tersebut kita menemukan gelas Aqua, isinya diduga solar,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut Yusta, kayu yang terbakar ini jenis jati. Kayu jenis ini tidak gampang untuk terbakar.A� Meski demikian, pihaknya perlu melakukan pendalaman untuk mengetahui penyebab kebakaran itu. Pihaknya juga tidak mau berspekulasi mengenai penyebab kebakaran ini. Dari keterangan saksi yang ada dan temuan gelas yang diduga berisi solar ini, pihaknya akan melakukan gelar perkara terlebih dahulu. Hal ini dilakukan guna pendalaman dan juga untuk mengetahui apakah barang tersebut berhubungan dengan kasus kebakaran ini.

Entah kebetulan, asus kebakaran kayu sitaan ini terjadi hanya beberapa jam setelah siang harinya terjadi aksi demonstrasi dari massa Asosiasi Pengusaha Kayu. Mereka menuntut kepada petugas untuk membebaskan truk dan muatan kayu karena menurut mereka memiliki izin.A� Mereka mendatangi kantor Dinas Kehutanan, kantor bupati, dan kantor DPRD Kabupaten Sumbawa. Bahkan hampir bersamaan, terjadi juga demonstrasi dari organisasi mahasiswa PMII. Mereka menyuarakan dukungan kepada aparat penegak hukum untuk memberantas aksi illegal logging.

Sementara itu di tempat terpisah usai melakukan aksi unjuk rasa di Dinas Kehutanan dan kantor bupati pada Kamis (15/9), massa aksi yang pro kepada pengusaha kayu melanjutkan aksi ke DPRD Sumbawa. Ratusan massa yang menumpang dengan belasan truk ini diterima oleh pimpinan dan anggota Komisi II.

Masih sama dengan isi orasi di jalan, Igor Hermansyah perwakilan massa menegaskan pihaknya tetap mendukung pemberantasan illegal logging di Kabupaten Sumbawa. Tapi, dia menilai tim gabungan yang dibentuk bupati berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi dengan instansi vertikal. Selain itu, para pengusaha merasa dikriminalisasi. Karena petugas di lapangan tetap menangkap truk muatan kayu yang memiliki izin.

A�”Kami meminta pengusaha diproteksi mana yang memiliki izin dan tidak memiiliki izin resmi. Beberapa kali ini kami dari pengusaha juga merasa rugi karena memiliki izin lengkap tapi ditangkap juga,” ujarnya saat berdialog dengan anggota Komisi II, Kamis (15/9).

Igor menilai para pengusaha dijadikan kambing hitam oleh pemerintah terkait dengan masalah kerusakan hutan di Kabupaten Sumbawa. “Silakan diproteksi mana yang punya izin dan mana yang tidak punya izin. Kalau yang punya izin biarkan mereka bekerja yang tidak punya izin silakan ditindak,” tegasnnya.

Wakil Ketua Komisi II Muhammad Yamin berjanji akan memanggil para pihak yang diinginkan pendemo. Namun dia meminta agar massa bersabar. Dia memastikan komisi teknis akan mengagendakan hearing pada Rabu pekan depan, dengan menghadirkan berbagai pihak seperti Dinas Kehutanan, Kodim 1607 Sumbawa dan pihak kepolisian. (run/han/r4)

Berita Lainnya

Mohan Bikin Kejutan di Mataram Jazz & World Music Festival 2018

Redaksi LombokPost

Setengah Hati Urusi Bisnis “Nakal”

Redaksi LombokPost

Jalan Terjal Memburu Para Bandar

Redaksi LombokPost

Gempa Lagi, Panik Lagi

Redaksi Lombok Post

Pintu Beasiswa Eropa Terbuka Lebar untuk Pelajar NTB

Redaksi Lombok Post

Gempa Lagi, Lombok Belum Stabil

Redaksi Lombok Post

Dompet PNS Makin Tebal, Pemkot Siapkan Rp 363 Miliar

Redaksi Lombok Post

Gubernur Blusukan di Kampus-kampus Polandia

Redaksi Lombok Post

NTB EXPO Resmi Dibuka Wagub

Redaksi Lombok Post